Dipaksa
Ia adalah orang yang tidak suka dipaksa. Sepertinya semua orang juga begitu, ya? Siapa sih yang suka dipaksa? Mana ada orang yang mau dipaksa? Kalau ada, pasti karena dia terpaksa. Hehehe.
Jadi, ada cerita. Empat tahun yang lalu pada suatu malam yang kelabu, ada seorang perempuan yang baru dipindah kelompok mentoringnya. Hmm rekomposisi lebih tepatnya. Ia berasal dari jurusan yang sangat tidak dipandang, karena SDM kurang berkembang. Dengan langkah yang berat, iapun tetap memaksakan diri untuk berangkat, demi mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Menurutnya, berkenalan dengan orang baru itu adalah hal yang sangat ia tidak sukai. "Adaptasi lagi adaptasi lagi." Gumamnya. Ia tidak tahu siapa saja temannya. Tentu saja, karena dia merasa tidak punya dunia luar dan berkecimpung di dalam rumah sendiri adalah pilihannya karena ia merasa takut untuk berbaur.
Akhirnya, sampailah ia di Masjid Kampus. Ia sedikit lupa bagaimana kisah detailnya. Tapi, ada cerita yang mengesankan darinya tentang "dipaksa". Setelah perkenalan, materi, di akhir sesi, murobbiyah mengatakan bahwa ada targetan yaumiyah masing-masing yang telah ditetapkan dan disetujui bersama. Karena ia orang baru, iapun hanya iya iya saja seperti air mengalir. Padahal, ia ingin sekali memberontak, "Ngapain amalan harus ditarget? Ngapain harus di setorin tiap minggu? Buat apa? Banding-bandingin? Amalan kamu ya urusan kamu."
Dia pun tetap mengikuti rules yang ada. Seperti tilawah minimal 2 lembar sehari, al-ma'tsurot, sholat sunnah rawatib, dhuha, qiyamullail, dsb. Ada targetan tiap hari, ada targetan tiap pekan. Setiap hari ia melakukan dengan terpaksa dan tidak sepenuh hati. "Buat apa coba kalau gak ikhlas?"
Singkat cerita, ia menceritakan keresahannya kepada sang murobbiyah. Beliau hanya tersenyum, dan menjawab dengan singkat dan sangat mengena, "tidak apa-apa, terserah mau dilakukan apa tidak. Kan yang ngerasain efeknya kamu. Gimana perbedaannya ketika dekat atau jauh dari Allah?"
Deg.
Memang benar. Hal-hal yang dilakukan dengan berat hati akan terasa melelahkan. Tapi, kalau setiap hari, jadi kebiasaan, kan? Bolong sekali aja, rasanya hampa, kan? Tahu kan perbedaannya saat dekat dan futur?
Tidak semua hal yang dipaksakan itu merugikan. Bahkan bisa jadi menguntungkan. Kadang kita tidak mau berpikir panjang dan malah membuatnya beban. Terlalu banyak suudzon, lihat sisi baiknya dulu kalau misal merasa dipaksa, deh. Padahal, nantinya, apa yang dilakuin toh juga bakal kita tunai sendiri, kan?
Kamu tahu gak siapa perempuan itu?
perempuan itu adalah.....
aku. :')













