Komunikasi Tembus Batas Bahasa
gue memohon ampun kepada segenap pembaca sekaligus juri di 30hari30karya. karena urusan koneksi yang hilang, gue gagal post untuk satu hari. tapi bisa gue pastikan tulisan ini dibuat di hari yang sesuai. 1 hari 1 karya.
Selalu ada hal menarik bila kita memperhatikan hubungan antar manusia yang berbeda bangsa dan bahasa tapi memiliki satu kepentingan. Misalnya saja satu Mekanik kapal, si mekanik ini seratus persen etnis jawa. Dari perawakannya, warna kulitnya, bentuk mukanya, bahkan sampai kerutan-kerutannya jawa sekali. Kalau kamu lihat sendiri pasti sadar ini orang jawa. Lalu salah satu rekan kerja si Mekanik ini orang keturunan india, dengan kumis tebal dan jenggot yang selalu dicukur setiap 2 hari sekali. Ada lagi Kepala Mekanik ini orang bule. putih. Aseli dari Amerika Serikat. Bisa didengar dari gaya bicaranya.
Si Mekanik ini gue sekali lihat dan bicara dengan dia, gue yakin seratus persen dia fasih bahasa jawa lalu sebagian besar bahasa indonesia dan mungkin ada bahasa inggrisnya. Gue yakin dia lahir dan dibesarkan sampai dia mahir jadi mekanik itu dikelilingi bahasa jawa. Ketika dia harus kerja bareng sama rekannya yang india, dia bisa saja bicara “Udah ndo’, selang'e samene wae” dan si rekan kerja ini paham. Dan mereka kerja dengan santai dan penuh pengertian. Lalu dia bisa dengan santainya panggil Kepala Mekanik seperti ini “Kesini, chief gemblung” dan kepala mekanik datang untuk membantu. LUAR BIASA. Dan selama ini gue tidak pernah melihat satu kalipun mekanik jawa ini dirundung masalah karena keterbatasan bahasa.
Ada dimensi lain dalam komunikasi lebih dari bahasa ketika suatu kepentingan yang sama sedang dibicarakan. Mungkin mekanik ini tidak pernah mengerti sama sekali bahasa inggris, tapi tidak menutup kemungkinan kepada dia untuk tidak menyelesaikan masalah. Mungkin mereka semua bicara dalam level non-verbal melalui gerakan-gerakan yang sudah disetujui hingga melampaui alat normal dalam berkomunikasi alias bahasa. Satu yang bisa menjelaskan, mungkin mereka telah lama bekerja sama, sehingga hapal kebiasaan dan prilaku satu sama lain, lalu seluruh peralatan kerja dan teknik kerja sudah satu suara. Bisa jadi mekanik india cukup bawa sarung tangan dan pelumas, si mekanik jawa langsung bawa kunci yang tepat. Ada kemungkinan mereka bicara melalui level telepati. Tidak ada yang tahu.
Hal yang sama bisa terjadi dipasangan yang sudah lama bersama, yang kadang tidak perlu gunakan bahasa, hanya gerak bahu dan langkah, satu sama lain sudah saling mengerti. Tentu ada perkara-perkara yang perlu dibahasakan, tapi untuk hal-hal yang sudah satu suara, tidak perlu lah. Maka kadang kita perlu mempelajari pasangan kita juga untuk mengerti hal-hal seperti ini. Untuk yang baru mulai, pahamilah kadang ada level komunikasi yang lebih tinggi dari bahasa yaitu melalui non-verbal tersebut. Tentu mulai dari bahasa lalu meningkat dalam tindakan. Kalau semua berada dalam satu kepentingan, pasti semua bisa terselesaikan.
[]















