Aku percaya, cinta bisa tumbuh kapan saja, kepada siapa saja, Jika rasa dipupuk, bersama, atau sendiri. Selama pintu itu terbuka suka rela, terpaksa, dipaksa, atau bahkan jika tak sengaja
seen from Japan
seen from Poland
seen from China
seen from Japan
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Canada

seen from United States
seen from Qatar

seen from United States
seen from Brazil

seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from France

seen from Canada

seen from United States
seen from United States

seen from France
seen from United States
Aku percaya, cinta bisa tumbuh kapan saja, kepada siapa saja, Jika rasa dipupuk, bersama, atau sendiri. Selama pintu itu terbuka suka rela, terpaksa, dipaksa, atau bahkan jika tak sengaja
Dirty Project : Prolog
Panggil Saja Aku Hujan Aku terlahir sebagai seorang anak laki laki utuh, tapi tumbuh menjadi pria yang tak sempurna sebagai pria. Tak ada tragedi, tak ada trauma yang bisa disalahkan atas ketidak sempurnaanku sebagai seorang pria. Apa yang salah dengan hidupku? Tidak aku sama sekali tidak kemayu, atau suka bertingkah selayak wanita. Aku tak sejalang itu, bahkan aku merasa jijik berdekatan dengan make up make up. Atau bergaul dengan pria pria yang kehilangan kepercayaan dirinya, berlenggak lenggok dengan make up tebal, menggoda, menjaja, cekikikan lengking penuh kenistaan. Lalu apa yang membuatku tak utuh sebagai pria? Tumbuh dengan tubuh kecil kurus kerontang tak bertenaga memunculkan rasa rindu terdalam untuk dilindungi. Aku pria lemah, selemah butir gerimis yang jatuh, hingga aku merindukan keperkasaan seorang pria. Ini mungkin terlihat aneh, tapi aku begitu terobsesi dengan pria pria yang menawan, aku pria yang tumbuh mencintai keindahan pria. Mahluk tuhan yang kuat dan kokoh, tidak sepertiku lemah, tak berdaya. Mereka tampak indah, otot otot padat, langkah kaki tegap berderap, suara berat yang khas, utuh, dan sempurna. Sungguh Mengagumkannya tangan Tuhan menciptakan mereka. Dan ini yang menjadi kesalahan terbesar dalam hidupku. Apa kau pernah merasa dilema dalam hidup? Hahaha... Ini pertanyaan bodoh bukan, dan sudah dipastikan semua punya permasalahan yang membuat canggung untuk melangkah, begitu juga dengan ku, lelaki gerimis runtuh. Terobsesi pada pria membuat kelelakianku rubuh, sering menyalah tafsirkan arti kedekatan arti perhatian, dan pada akhirnya berujung jurang merekah memisah. Bagaimana tidak, jika kau lelaki utuh pastilah akan menjauh, takut, jijik, bahkan bisa berujung trauma dan phobia. Hey jangan panggil aku seperti gadis meski aku menafsirkan pria pria serasa dengan pikiran gadis gadis, aku masih pria hanya saja tak utuh, ada bagian yang hilang dari kelelakianku, dan sering aku menemukannya pada dada dada bidang pria yang kutemui, tampak kokoh dang hangat untuk dipeluk. Hahaha terlihat menjijikan bukan iya aku saja kadang merasakan itu. Aku juga bisa menemukan bagian lelaki ku yang lenyap pada punggung kokoh mereka, seperti tempat bernaung yang hangat, deru deru nafas yang perlahan berhembus terasa menentramkan. Entah berapa kali aku terluka karena salah tafsir, menerka sendirian atas apa yang mereka lakukan padaku, oh tidak sebenarnya aku tidak salah menafsirkan kedekatan mereka, karena aku selalu memberikan dua opsi, yang satu tentang kebenaran bahwa mereka dekat karena memang murni berteman dan satu lagi khayalan khayalan yang aku buat tentang mereka, fantasi fantasi hampa, dengan bodohnya aku memilih yang kedua untuk mengartikan kedekatanku. Taraa, aku berhasil melukai diriku dan kepercayaan orang yang sudah dekat denganku. Tertawakan saja aku tak masalah dengan itu, karena memang hidup sebagai pria tak utuh memang lucu. Atau mau mengucilkanku karena merasa jijik, itu juga sah sah saja. Dunia mengutuk, Dunia mengecam, dan akan kukatakan aku adalah korban dari ketidak becusanku menahan diri, Tuhan tak pernah salah menciptaku sebagai pria, itu doktrin yang tertanam kuat di otakku, dan begitulah keluargaku mendidikku, tapi nyatanya doktrin itu runtuh meski aku masih mempercayai kebenarannya. Aku tahu di luaran sana ada ribuan orang yang memperjuangkan kehidupan tak sempurnanya dibawah naungan pelangi, tapi aku tak pernah tertarik untuk bergabung, karena pelangi yang mereka suguhkan sama sekali tak indah bagiku. Kebohongan macam apa yang hendak mereka tawarkan, ketentraman dan rasa nyaman atas kesalahan yang mereka pupuk? Ini salah dan aku mengakui nya, aku menyadari ketidak utuhan yang terjadi dalam hidupku. Pria yang terobsesi pada pria lainnya, sebuah kecacatan yang mengesampingkan takdir tertulis, aku bukannya tak bisa mencintai wanita, karena bagiku cinta bisa saja tumbuh kapan saja, selama tetap dipupuk, baik bersama sama atau sendiri, jiks pintu terbuka entah itu terpaksa, dipaksa, atau bahkan tak sengaja. Aku bisa melakukannya untuk diriku sendiri, hanya saja adakah gadis malah yang menerima ketidak utuhan seorang pria yang terobsesi dengan keindahan pria lainnya? Jikapun ada pastlah ia akan mati kehabisan darah tersayat sayat luka biru di sekujur tubuhnya. Membagi kasih dengan gadis yang lain pun menguras air mata, apa lagi harus memalingkan mata lelakinya dari indahnya tubuh tegap pria lain yang menggoda. Sekejam itukah aku harus memperlakukan gadis yang sosoknya akan selalu mengingatkan pada sosok yang melahirkanku? Lalu bagaimana aku harus bertindak? Mungkin orang normal akan menyarankanku berhenti mengagumi pria dan memilih tergila pada gadis gadis manja, oke aku bisa saja melakukan itu tapi tetap saja jejak jejak yang membekas di relung hati ini tak akan mudah hilang, betapapun aku menutupinya akan tetap terukap entah kapan, wanita tak sama dengan laki laki yang mudah melupakan masalalu. Meski hanya masalalu hal itu akan selalu menjadi pertimbangan besar untuk melanjutkan langkah, tak semudah itu menerima kecacatan. Hujan pun selalu runtuh bergemuruh pada akhirnya, tak bisa menyalahkan Tuhan, hanya mampu merutuki kesalahan. Menjelma hujan yang tak menyenangkan.
Dirty Projectors - Two Doves (by GoldenFocker)