Maaf Hanya Sekedar Mengingatkan
Pada akhirnya seruanmu menjadi olok-olok. Tak ada yang salah dari sekadar mengingatkan. Itu baik. Tapi mungkin ada yang tak tepat, seperti waktu dan tempat. Mungkin sudah terlalu sering, kamu selalu komentar ‘maaf sekedar mengingatkan…’ pada setiap yang tak sesuai.
Sesekali kamu perlu bertanya pada dirimu, sebenarnya kamu sedang menegur atau sedang mengajak seseorang? Kamu sedang menasehati atau sedang mengoreksi?
Kamu perlu bertanya pada hatimu, apakah kewajiban dakwahmu telah gugur manakala kamu berkomentar 'maaf sekedar mengingatkan….’ pada banyak tempat di dunia maya? Dari situ, adakah perbaikan? Atau kamu hanya terjebak dalam euforia yang kamu kira itu dakwah?
Dalam kasus orang yang hijrah, dia punya ukuran sendiri dalam mentoleransi dirinya. Barangkali belum plek sama dengan ketentuan agama, tapi dia telah berjalan ke arah sana.
Kamu tak mengerti sampai mana batas pengetahuannya, mungkin dia sudah mengerti, tapi belum cukup berani. Jangan makin membebaninya dengan berondongan 'maaf sekadar mengingatkan…’-mu itu. Karena bisa jadi dia sedang mengumpulkan keberanian dan berondongan nasehatmu malah bikin dia tak kerasan.
Jika itu berupa koreksi, ingat, manusia punya gengsi dan harga diri. Kamu tak dikenalnya, lalu datang dengan komentar, 'maaf sekedar mengingatkan kak, rambutnya kelihatan, bajunya terlalu ketat, suara itu aurat, dll.’ Kalau hatinya bersih, tentu nasehatmu akan mudah diterima. Masalahnya, tatkala hatinya tak sebersih hatimu, dia akan kesal dan berkata, “Kamu siapa, tau-tau datang ngoreksi saya?”
Jika bagimu dakwah hanya sekadar menggugurkan kewajiban menyampaikan, maka lebih baik tahan dulu. Ada situasi yang harus kamu baca, ada audiens yang harus kamu pelajari, ada tempat yang bisa jadi bukan tempatmu. Sebenarnya kamu memang mengingatkan atau hanya sekadar ingin menunjukkan kamu lebih paham?
Pada akhirnya saya hanya ingin bilang, maaf sekadar mengingatkan, alangkah baiknya kalau menasehati itu tidak dengan asal komentar di akun orang. Terlebih itu akun pribadi dan dia tak mengenalmu. Kalau itu baik dan efektif, maka ustadz-ustadz dan muridnya sudah banyak berdakwah di kolom komentar. Tapi tidak kan?
Kamu bisa cari cara yang lebih efektif dan produktif buatmu sendiri. Mungkin bisa dimulai dari do'a. Karena seringkali do'a yang tulus lebih ampuh dari sekadar kata-kata. Dan do'a yang baik untuk saudaranya akan selalu kembali kepada orang yang berdo'a.
— Taufik Aulia





















