Uta: Hai, Nan. Apa kabar?
Nan: Loh, Ut. Ternyata nomorku masih kamu simpan....
Uta: Hehe. Ternyata masih aktif, ya.
Nan: Masih dan akan selalu. (Sebenarnya agar kamu tidak kesulitan kalau sewaktu-waktu mau cari aku)
Uta: Jadi, gimana? Sastra menyenangkan?
Nan: :) Menyenangkan sampai mau mati rasanya.
Nan: Kalau kuliah di kampus seni gimana, Ut? Apalagi masuk ke jurusan impianmu. 'What a wonderful life' kalau kata Elvis Presley.
Uta: Yah, seperti Dewa 19, 'hadapi dengan senyuman'.
Nan: Berat ya, Ut, jadi ketua angkatan? (Harusnya dia akan bingung, bagaimana bisa aku tahu. Tapi sepertinya dia bakal tidak peduli.)
Uta: Ya gitu, deh. Lumayan buat dimasukkan ke CV, deskripsinya bekerja di bawah tekanan.
Uta: Hahaha, iya, kalau masuk.
Nan: Eh, sorry. Tapi akan kudoakan kamu jadi ketua himpunan atau BEM atau UKM atau apalah itu supaya betulan bisa dimasukin CV.
Uta: Jangan mengada-ada, deh.
Nan: Menurut jurnal psikologi yang-aku-udah-lupa-judulnya, kalau bilang 'jangan' itu justru mendorong orang untuk melakukan yang sebaliknya, Ut.
Uta: Oh, kamu sudah dapat matkul Psikologi Sastra?
Nan: No, still a long way to go. Kamu udah dapat matkul Psikologi Seni?
Uta: Ah, kamu suka sekali tanya balik begitu. Aku tanya kabar saja belum dijawab. -_-
Nan: OH, HAHAHA MAAF. (Pertanyaanmu cukup sensitif dan aku sedang emosional, itu jawaban jujurnya.)
Uta: Semoga selalu baik, Nan.
Nan: (Aku juga selalu berharap begitu, Ut—sampai aku memutuskan untuk menghapus kata 'harapan' dalam kamus kehidupanku)