Dakwah paling berat adalah mengajak keluarga.
Itu yang terbersit dalam pikiran saya. Dulu, saya terlalu memaksakan kehendak hati untuk keukeuh dalam beragumentasi. Tak mau mengalah, tak mau kalah, sampai hati saya tidak bisa 'bertoleransi' terhadap hal yang tidak sama dengan saya. Bukan dengan saya, lebih tepatnya agama saya.
Dakwah itu merangkul bukan memukul, mengajak bukan mengejek, eskrim bukan ekstrim.
Ini adalah gambaran keluarga kami yang sederhana. Disini ada banyak perbedaan dalam sifat dan sikap.
Kakak pertama (paling kiri) yang adem ayem, selalu memberi petuahnya ke saya juga adik, baik, tapi sekalinya marah bisa rusak lemari hha. Tapi seumur saya sekarang, beliau gak pernah marah ke saya. Aa juga sering diskusi agama bareng. Beliau termasuk yang rajin ibadahnya.
Samping saya itu kakak nomor dua, paling cerewet, pernah saya isengin juga dulu dia puber ke cewek. Saya bacain itu surat cintanya depan keluarga hahaha. Dia juga sedikit menyebalkan, tapi seru kalau sudah diskusi. Itu yang di samping adalah istrinya. Sudah mulai nanya-nanya kerudung dan gamis. Katanya pengen di kerudung. MasyaAllah. Aamiin. Ini doa saya di bulan penuh berkah ini. Khusus buat teteh ipar.
Ada yang rambut di cat kuning entah putih lah. Gak paham saya mah. Haha. Si bungsu yang luar biasa ngadoja ke keluarga. Dia gak mau sekolah. SMP cuma sampai kelas 3. Itupun belum selesai. Mungkin ini juga sebagai teguran untuk kami. Mungkin kami sebagai orangtuanya kurang memahami apa maunya. Dulu saya malu, saya sering nangis sama dia. Pergaulan yang salah arah. Sampai ngamen ke Bekasi. Beuh ngurut dada, ngurut sirah. Mungkin ini juga karna lingkungan sekolahnya yang yaaa begitulah kalau swasta abal-abal. Sampai saya bingung harus gimana. Di satu sisi saya ini seorang guru, tapi di sisi lain saya gagal mendidik adik saya sendiri. Saya akui itu. Tapi sekarang saya gak malu sama sekali. Dia hanya belum paham saja tentang dunia ini kedepannya mau gimana. Bagaimana sulitnya mencari kerja meskipun pendidikan tinggi, apalagi tanpa ijazah SMP/SMA. Dia belum sampai kesana. Sekarang cukup memberinya ruang yang sama dengan kasih sayang, perhatian, dan tanpa mengekang. Saya bebaskan adik saya dengan batasan-batasan yang sudah kami buat. Semoga ada hidayah. Asli berdoa tuh ya begini. Allah beri cahaya ke hatinya agar mau sekolah. Ah dasar bungsu. Bakal jadi novel kalau bahas dia mah.
Betapa ramenya seisi rumah kalau kami berempat ngobrol. Mulai dari silsilah Prabu Siliwangi, kerajaan sunda, hal mistis, cerita nightmare, HP yang lagi tren, geng motor, sampai hal-hal yang berkembang di masa kini. Mungkin ini juga yang membuat saya lebih senang ngobrol dengan laki-laki ketimbang perempuan. Kalau sama cewek, bawaannya ngomentarin orang mulu. Kalau sama cowok malah nambah wawasan. Hahaha
Ada harapan yang menghiasi doa-doa saya. Ingin sekali rasanya bisa menikmati momen bersama yang bukan hanya berlomba dalam hal dunia tapi akhirat. Mimpi saya mungkin ketinggian untuk sekarang ini. Lihat mereka sholat dan belajar mengaji saja itu adalah berkah yang tak terkira buat saya.
Sebatas sholat berjamaah pun itu adalah perubahan yang besar menurut saya. Kadang juga merasa minder, ngomong agama sana-sini tapi keluarga sendiri kok gitu? Dulu iya, sekarang tidak.
Selagi kita berusaha memberikan contoh dengan perlakuan yang baik, maka semakin dekat hidayah Allah sampai. Kita hanya berusaha, Allah lah yang membolak-balikan hati. Kamu pernah di posisi saya? Inginnya satu frekuensi. Tapi nyatanya belum. Ingat! Belum ya, bukan tidak. Kita harus yakin atas apa yang telah diperjuangkan. Senang sekali mereka sudah mulai paham khususnya Mamah, bagaimana saya, kenapa saya kerudung panjang, kenapa saya di kaos kaki, kenapa selalu di rok, kenapa udah lulus tapi masih ngaji ke UPI haha, dan segala pertanyaan yang mungkin segan untuk mereka tanyakan langsung ke saya mulai terjawab. Mamah yang hobi baca buku, sengaja saya perlihatkan buku Salim A Fillah, Felix Shiauw, Asma Nadia, dan buku lainnya yang kata Mamah pernah bilang: "Oh gitu tuh gak boleh ya, Mamah baru tau tentang ini setelah baca buku Salim A Fillah bab hak dan kewajiban suami istri". Dan hal baru yang Mamah temuin di buku yang selalu di ceritain ke saya dengan antusias.
Saya juga selalu berdoa akan ada seseorang yang menghiasi keluarga ini dengan keimanan. Karna iman lah yang melekatkan cinta dan ketakwaan. Semoga Allah memudahkan kami menerima setiap hidayah atau petunjuk yang sering menyapa tapi kita malah alpa. Semoga hati-hati kami terpaut dalam naungan-Nya sampai surga-Nya.
Teman-teman, jangan langsung menyerah ya kalau kita di uji oleh orang yang paling kita sayang. Disitulah nikmatnya dakwah. Mengabarkan kebaikan dengan perlahan, lalu doakan.
Seperti biasa, yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca.