Sejenak bibir tak mampu berucap kata
Kemudian sajak di kepala tak mampu lagi teruraikan
dan aksara tak kuasa menyampaikan
ketika hati yang mulai berdesir membatin
sepasang bola mata yang memiliki muara air
menatap langit dengan permadani tinggi tak terukur
melihat bumi sebagai alas rendah menapaki kenyataan
pemandangan gedung pencakar langit yang beradu antara rumah kerdil
tak ada sisa untuk kami berlari sekedar bermain layangan.
pasak-pasak itu menjadi simbol pengikat siapa yang berkuasa
Aroma khas berlalu-lalang melengkapi warna dasi, rok, kemeja, jas dan mobil mengkilap sebagai primadona
sedang saat senja menjelma di sudut trotoar ada mereka yang mendorong gerobak mengais sedikit dari sisa makanan atau plastik yang dapat mengubah rupiah.
ketika bintang menghiasi langit, mereka tidur nyengak bagai di hotel bintang lima beralas koran
pemandangan macam apa ini
Saat kaum adam menunaikan kewajiban jumat,
aku mendaki dan keluar menikmati udara dilantai 28, itu adalah caraku merenung di akhir pekan
dan melihat dengan jelas bangunan pencakar langit itu mengambil lahan Tanah air manusia terpinggirkan
sungguh ironi bahwa pribumi tak punya kuasa menikmati bangku mewah lengkap dengan pendingin ruangan.
mereka berjibaku dengan dinginnya air di tempat orang besar buang hajat.
dimana perlingunganmu wahai hukum?
tak adakah pengerem agar mereka terlidung secara hak?
mengingat suatu sistem penguasa modal untuk menghimpun sumber daya
bagai kuda yang dipaju dan diikat untuk terus memperkaya si empunya
hingga setiap tahunnya kaum buruh harus menjerit kompak untuk menaikan digit angka atas keringat yang diperas
Kau jadikan primadona bagi mereka yang materilnya tak berseri
Menjadi fakta pribumi menjadi budak dalam negerinya sendiri
ini rumah kami bukan rumah mereka!
mengapa harus mereka yang menikmati?
mereka bilang ini soal kemampuan dan pendidikan?
Tak mampukah pungutan wajib yang Kau kumpulkan untuk melindungi hak pendidikan, kesehatan dan penghidupan yang layak?
agar Jurang pemisah itu memiliki jembatan sesuai Sila kelima itu.
sudahlah, Mata menjadi saksi setiap jiwa yang sakit,
Telinga mendegar jeritan hingga rongrongan barisan yang bersuara
bahkan aksi menjadi makanan pelengkap sebagai bukti kedukaan.
Jangan lagi kau tutup mata Tuan,
rangkaian kata ini disusun sebagai perenungan saat diri ini mendengar suara hati mereka, peluh mereka, dan meneropong perjuangan mereka
aku menulis ini sebagai bentuk syukur sebab Mata dan Hati menjadi perenungan atas izin-Nya untuk berfikir tentang jenakanya ibukota.
aku membayangkan kelak, jika lautan di DKi Jakarta tumbuh gedung pencakar langit hingga air menjadi daratan, ada tanya besar meraung dalam raga.. “itu siapa yang menikmati, Tuan?”
Katanya dan Nyatanya negeri maju Singapura adalah hasil reklamasi, hingga ketika aku mengunjungi negeri itu, tak dapat membedakan mana penduduk asli mana pendatang,
hingga makanan dan fasilitas indah hanya yang si berdasi yang menikmati.
padahal Indonesia negeri marintim, laut sebagai kekayaan penyambung hidup.
kelak, mereka harus bekerja seperti apa?
saat nenek moyang yang mendidik dengan mental pelaut.
dan kini, laut itu akan dijadikan daratan.
sebenarnya untuk siapa daratan baru itu dibuat?
Bagaimana jika reklamasi DKI Jakarta menjadi kenyataan total. dampak apakah yang akan terjadi? hanya waktu yang menjawab Mungkin aku, atau kamu adik adikku atau anak cucuki kelak. Saat itu hanya katas yang bercerita tentang dualisme primadona
saat mencuri waktu jeda, 13 April 2017 diruang pendingin melengkapi tulisan seminggu setelah resmi menjadi penduduk di Kawasan antar Bangsa
menerima kritik dan saran di line @mulyandha