Kapasitasku adalah sebagai pengisi waktu luang kamu. Yang kulakukan adalah: memanfaatkan kapasitas itu dengan sebaik yang kubisa. Mencari barang-barang yang dibutuhkan olehmu (yang tidak sempat kamu cari saking sibuknya) buku-buku finance, novel terbaru, jam tangan, makanan, bahkan mainan. Itu artinya aku masih dibutuhkan kamu, makanya aku menikmati. Dimanfaatkan-memanfaatkan. Dua konsep itu mungkin abu-abu. Buatku, aku menawarkan secara sadar untuk dimanfaatkan. Bahwa manusia memang harus bermanfaat untuk orang lain, bukan? “Sayang, mama minta dicariin eggroll tapi yang cake Jepang itu loh. Kamu tau ngga ya itu belinya di mana?” Kata kamu beberapa saat yang lalu mengirimkan pesan lewat aplikasi whatsapp. Kemudian aku browsing di mana aku bisa menemukan eggroll yang enak dekat dari kantorku. Sementara kamu sendiri saat itu sedang meeting di luar kota dan mungkin baru bisa pulang malam hari -mampir flat ku sebentar jika aku berhasil menemukan eggroll yang mamamu inginkan- baru pulang ke rumahmu di pinggiran kota. Eggroll atau bolu gulung ini yang enak rekomendasi teman-temanku dan instagram letaknya di Pantai Indah Kapuk. Jauh sekali dari kantorku di Jakarta Pusat. Sementara aku harus sales visit ke daerah TB Simatupang, Jakarta Selatan. Tapi so close jika harus mengantar si eggroll ini ke rumahmu di Lenteng Agung after sales visit. “Aku bawain ke rumahmu? Sekalian mau sales visit di TBS.” Akhirnya aku menelepon kamu untuk memastikan. “Nope, Sayang. Aku aja ambil ke flat mu ya mungkin setelah jam 8, ini masih di Cikarang.” “Muter-muter dong eggroll-nya. Kamu juga muter-muter. Cikarang-Kasablanka baru pulang lenteng agung.” “Hehehe kan yang penting ketemu kamu.” “Ya udah aku cari di mall sebelah deh. Take care, Hon.” Aku menutup line telepon. Kantorku terletak di jalan utama ibukota. Dikelilingi banyak mall yang selalu membuat aku merasa begitu bising sekaligus asing dan kesepian. Aku begitu mudahnya mendapatkan barang-barang yang aku inginkan tapi begitu sulit untuk mendapatkan kapasitasku akan kamu. Taruhan sama aku, kamu pasti hanya mampir limabelas menit di flat ku. Lama-lama aku jadi kaya asisten virtual kamu. Masih ada waktu dua jam sebelum sales visit. Aku menelopon atasanku untuk izin keluar lebih cepat agar bisa mencari eggroll ini. Tumben mamamu minta macem-macem. “Siang Bu Ratih, saya izin jalan sekarang ya takut macet banget jalanan.” “Baik, Ibu. Siap. Thanks a lot.” Cukup mudah memang untuk izin keluar kantor dengan jabatanku saat ini. Makanya aku bisa sesekali keluar kantor untuk mencari setiap keperluan kamu. Apalagi kantorku memang tipe kantor yang menomorsatukan hasil akhir. Hasil tidak akan membohongi proses. Aku merapikan laptopku dan barang-barang yang kubutuhkan. Handphone, charger, dompet, make up. “Mbak Rana jalan sekarang?” Aku menoleh. Rizka, salah satu timku. “Iya, takut macet. Mau mampir sebentar juga ke toko kue. Eh kamu tau ngga beli eggroll di mana?” “Di bawah ngga ada, Mbak?” Bawah maksud Rizka adalah mall yang letaknya dibawah gedung kantorku. “Aku belum cek sih. Eh kamu mau minta approval?” Ketika mataku melihat dokumen-dokumen yang ada di tanggannya. “Mau sharing sih, Mbak.” Kemudian aku malah terlibat obrolan cukup dalam mengenai pekerjaan dengan Rizka. Kami berdua, bertiga dengan Ibu Ratih bersama-sama menjadi sales representative bank asing dengan target yang kadang bikin otak menyusut, dengan jobdesc utama meeting (seriously) entah dengan direksi, department terkait, klien, or anyone else. Cerita ini mengenai pekerjaanku diselingi kamu, Mas Fabian, laki-laki luar biasa yang mengacak-acak hidupku sekaligus membuat binar bahagia di mataku. ***