Ajang Unjuk Gigi Untuk Indonesia
Suara turbo dari mesin-mesin mobil terdengar memekik, memecah keheningan siang itu. Matahari yang menyengat begitu terik, ternyata mampu membakar adrenaline para pembalap yang tengah berlaga dalam babak final Mogu Mogu Archilles Motorsport Festival 2015. Asap putih tebal dari knalpot kendaraan para pembalap membumbung di areal berlangsungnya kompetisi drift. Tak kalah bersemangat, para penonton juga riuh bertepuk tangan ketika Emmanuel Adwitya Amandio, drifter asal Indonesia, beraksi sekaligus berhasil mencuri poin dari lawannya. Menunggangi mobil Nissan 200SX, pemuda tampan berdarah Kalimantan ini berjuang keras dibalik kemudi untuk mendapatkan hasil terbaik.
Acara ini memang menjadi sebuah special event di penghujung tahun 2015, mengingat ini merupakan seri penutup setelah sebelumnya digelar di Jogjakarta (5-6 Juni) dan di Surabaya (15-16 Agustus). Tidak hanya itu, acara ini menjadi seri pembuka kejuaraan internasional Asian Drifting Grand Prix (ADGP) 2015 yang pertama kali diadakan di Asia. Adapun dfiter yang ikut bertarung yakni Robbie Nishida (Jepang), Rob Whyte (Australia), Brandon Greaves (Australia), Andy Gray (Skotlandia), Chris Day (Australia), Brent Gordon (Australia), Along Rempit (Malaysia), serta Atsutsi Taniguchi (Jepang). Sembilan drifter tersebut berlaga dengan 10 drifter-15 drifter Indonesia yaitu Emmanuel Adwitya Amandio, Dika CH dan beberapa drifter andalan lokal.
Acara final Mogu Mogu Archilles Motorsport Festival 2015 yang berlangsung di Parkir Barat JIExpo Kemayoran pada akhir pekan lalu, berhasil mengguncang Jakarta hingga malam hari. Pengunjung tidak saja disuguhkan dengan aksi dari para drifter lokal maupun internasional dalam acara Drift Competition, namun panitia juga menyiapkan sebuah rangkaian acara menarik lainnya seperti Car Meetup, Motorcycle Freestyle oleh Wawan Tembong, RC Drift Championship, Food Truck festival, Bazaar, Community Gathering dan diakhiri dengan penampilan dari NOAH. Acara AMF 2015 juga memberikan hiburan lain bagi pecinta dunia otomotif yaitu Elite Battle Royal yang memilih 100 mobil hasil modifikasi terbaik.
Parkir Barat JIExpo dibanjiri oleh para pecinta otomotif maupun pecinta olahraga drifting. Di luar areal drift, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan ciamik dari berbagai jenis mobil hasil modifikasi milik para anggota dari beberapa komunitas mobil yang berjajar rapi. Sedangkan di booth Remote Control Championship, pengunjung didominasi oleh kalangan anak-anak yang mengadu kelihaian dalam memainkan mobil remote control. Seakan tak mau kalah dengan yang lebih tua, anak-anak peserta championship ini begitu semangat dan cekatan meng-handle remote control masing-masing. Paras ketegangan sekilas tergambar diwajah mereka.
Matahari perlahan bergeser ketika sorak sorai penonton kembali terdengar. Puluhan dancer remaja yang kompak mengenakan kaos ungu beraksi melakukan koreografi memukau tepat di tengah areal drift. Disusul dengan penampilan freestyle motor dari Wawan Tembong yang mampu mengundang decak kagum dari penonton. Penampilannya sekaligus melengkapi kemeriahan event drifting terbesar di Indonesia tersebut.
Peluang Untuk Indonesia
Dalam final ADGP yang berlangsung ‘panas’ beberapa hari lalu, Emmanuel Adwitya Amandio, drifter asal Indonesia mampu mengukuhkan diri di posisi ketiga, kemudian disusul oleh para drifter asal Australia yakni Rob Whyte diposisi kedua dan Brendon Greaves yang berhasil bercokol diposisi pertama. Setelah melakukan perlawanan sengit, akhirnya pria kelahiran 20 September 1992 ini mampu mengukir prestasi yang cukup baik pada laga kandangnya. ia juga mengaku bahwa terjadi kendala pada mobilnya, sehingga berpengaruh pada performa kali itu.
“Pas lagi latihan turbonya jebol, mau nggak mau kita harus cari turbo kan. Akhirnya kita dapat, tapi masalahnya turbonya lebih besar berarti harus cari boost yang tepat dan ternyata setelah tuning hanya bisa sampai 1,4 bar, sebelumnya bisa sampai 2 bar. Akhirnya kita coba cari power peak saja, jadi memang mobilnya lebih kencang di latihan dan rpm-nya kita main safe kali ini.” Papar pria yang mengaku mengawali karir drift-nya dari sebatas ‘iseng-iseng’.
Namun diluar pencapaian tersebut, ini merupakan sebuah peluang emas bagi Indonesia untuk menunjukkan kemampuan para drifter tanah air pada dunia internasional. Pihak penyelenggara juga melihat adanya antusiasme yang cukup tinggi dari masyarakat. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor pendorong terselenggaranya perhelatan akbar ini.
”Minat terhadap olah raga drifting di Indonesia sendiri juga relatif tinggi, rata-rata berasal dari usia muda, yakni belasan hingga 30-an tahun. Secara total Indonesia memiliki kurang lebih 100 drifter dari semua kelas, dan 20 di antaranya adalah drifter professional. Kegiatan drifting ini sempat menurun pada tahun 2013 dan 2014, namun di tahun 2015 Achilles Radial berinisiatif untuk kembali memanaskan kompetisi drifting terutama di Indonesia,” ujar Zein Saleh, Marketing Manager Achilles.
Sebagai salah satu drifter yang berprestasi dalam ajang internasional, Dio juga berharap agar event sejenis ini dapat lebih banyak diselenggarakan. “sekarang lihat kita sudah berhasil masukin drifter dan kita beberapa kali ada one more time. Berarti kan potensi drifter lokal perlahan-lahan jadi lebih bagus,” ujarnya yang ditemui selepas naik podium. Berbalut drift suit hitam dan topi, Dio terlihat gagah saat mengangkat tropi kemenangan. Dibawah langit senja, raut kebahagiaan samar terlukis diwajah pemuda 23 tahun ini.
Di sisi lain, pihak penyelenggara juga menangkap hal serupa. Menurut Zein Saleh, drifter Indonesia memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan drifter internasional. seperti Emmanuel Adwitya Amandio, aktif mengikuti berbagai kejuaraan drifting internasional dalam empat tahun terakhir. Seakan perlahan namun pasti, generasi muda pecinta drifter terus mengasah diri untuk dapat berprestasi di kancah internasional. Untuk itu event drifting berskala internasional serupa harusnya diselenggarakan lebih sering, mengingat banyaknya drifter muda berbakat yang membutuhkan ajang aktualisasi diri. [HK]