Dua tahun terakhir ini adalah tahun terberat ku selama hidup. Entahlah, akhir 2016 aku kehilangan seseorang yang telah menjadi sandaranku selama setahun, sempat membuat segalanya menjadi tampak indah, mengajakku ke sebuah dunia dongeng seakan-akan doa mu terkabulkan. Seseorang yang tak mau melihatmu menangis ternyata ialah yang paling bisa membuatmu menangis hebat hingga ingin bunuh diri. Ia yang selalu paling kamu utamakan ternyata ialah yang membuatmu menjadi yang terakhir bahkan yang sekarang ia benci. Dan ia yang paling memperhatikanmu lebih dari apapun, kini ia mengabaikanmu dengan segala keegoisannya. Apa lah cinta, apa lah artinya kata sayang ketika masing-masing dari kita tidak bisa saling mengerti satu sama lain dan lebih mengutamakan keegoisan pribadi. Tidak kah ini ironi? Iya aku paham, baik aku maupun kamu sama sama mengalami masa sulit waktu itu. Tapi, jika kita sama-sama saling bersabar, mengerti, dan benar-benar mencinta, mungkin kita kali ini sedang merencanakan dimana dan kapan tepatnya kita akan tinggal bersama. Dulu, kita saling percaya bahkan saling mengorbankan satu sama lain baik itu waktu, materi, dan emosi. Saking dekatnya kita dulu, kita berbagi apa yang seharusnya tidak di bagi, dan kau sudah menganggap aku sebagai layaknya bagian dari keluargamu. Tak ingatkah dulu, aku selalu bercerita bahwa aku sering memimpikan mu, dan suatu ketika aku bermimpi kamu menikahi orang selain aku. Mungkin itu benar terjadi.