Anak Laki-laki Berambut Cokelat Pastel
mucha (@duniamucha), didit
696 words
gif cr. nctwinwin
Anak laki-laki berambut cokelat pastel itu baru saja selesai memperlihatkan aksi-aksi tari akrobatik tradisional yang berhasil memukau orang-orang yang duduk di sekitar panggung terbuka. Begitu musik gaduh yang mengiringinya berhenti, semua orang bertepuk tangan. Bertopang dagu, Mucha memperhatikan bagaimana anak laki-laki itu minggir dari panggung dan tersenyum pada temannya yang memberinya sebungkus tisu dan sebotol air putih. Senyumnya lucu sekali, Mucha berkomentar dalam hati. Pencahayaan di pinggir panggung terbuka tempat anak laki-laki itu dan teman-temannya berkumpul agak remang, tapi rambut anak laki-laki itu tetap terlihat sedikit lebih terang dibanding rambut anak-anak lainnya. Warna yang selalu mengingatkan Mucha pada susu Milo. Mucha tersenyum, terbayang segelas Milo hangat.
Anak-anak klub teater tradisional Asia tak terlihat lagi di panggung terbuka. mereka kini berkumpul di dekat kolam kodok di belakang panggung terbuka yang tak terlihat oleh Mucha. Evaluasi latihan hari ini, mungkin. Sudah jam dua belas malam lebih. Mucha duduk terkantuk-kantuk di bangku bermeja di depan perpustakaan. Masih berusaha mengerjakan tugas review yang deadline-nya dua hari lagi.
Lingkungan di sekitarnya tiba-tiba berubah menjadi padang bunga. Mucha berputar-putar di sana. Ratusan kelopak bunga ikut berputar bersamanya, lalu beterbangan di angkasa. Bulan bersinar terang sekali, tapi cahayanya pucat, seperti lampu yang bersinar redup. Mucha melihat anak laki-laki berambut susu Milo tadi sedang duduk di atas batu besar. Senyum Mucha mengembang lebar. “Didit!” panggilnya. Didit ikut tersenyum.
Hal terakhir yang Mucha ingat adalah ia berlari ke arah Didit; kelopak-kelopak bunga beterbangan di sekitar kakinya. Tetapi tiba-tiba Mucha merasa dirinya memudar, dan dagunya yang meluncur dari tangan yang menopangnya mengagetkannya sampai terbangun dari mimpi.
Hal yang pertama Mucha lihat dan dengar adalah anak laki-laki berambut susu Milo tadi sedang tertawa di depannya. Melihat Mucha terbangun, dia berkata, “Udah bangun, Cha?”
“Eh--Iya, iya, udah,” Mucha menjawab linglung. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari ia masih duduk di bangku kampus dalam usaha menyelesaikan tugas. Lalu ia meraup wajah dan menghela napas keras. “Astaga… Sempet-sempetnya ketiduran.”
Terdengar Didit tertawa lagi. Dia sudah duduk di depan Mucha entah sejak kapan, bercanda dengan teman sesama anggota klubnya yang sekarang sudah pergi ke arah Plaza Gedung C. Baju didit sudah bukan lagi kostum latihan teater, melainkan jaket yang dilintangi tali tas selempang. Masih ada beberapa orang selain mereka yang tampaknya akan lebih memilih menginap di ruang-ruang sekre malam ini daripada pulang ke kos. Mucha harus segera pulang sebelum menjadi salah satu dari mereka.
“Minggu ini kamu begadang terus, Cha,” celetuk Didit.
Mucha menghela napas. “Kamu tau nggak sih, Dit? Udah empat hari ini aku hidup kayak zombie. Empat hari!” Mucha menekankan dengan keempat jarinya. “Tidur, kuliah, nugas, repeat. Kayak gitu terus sampe-sampe berenti bentar liat langit aja nggak sempet. Dari kos berangkat sambil merem, di kelas merem, pulangnya juga sambil merem.”
“Trus kapan, dong, meleknya?”
“Nih.” Mucha mengacungkan bundelan kertas yang harus ia review. “Pas nugas.”
“Sama satu lagi.” Didit ikutan mengacungkan jari telunjuk. Lalu, jari telunjuk itu ditunjukkan ke arah wajahnya sendiri. “Pas liat muka aku.”
Bundelan kertas Mucha serta-merta ditepukkan ke kepala Didit. Mereka tertawa.
Setelah itu, Didit mengajak Mucha pulang. Mereka berjalan bersama sampai melewati bunderan dan menyeberangi jembatan, lalu Mucha harus belok ke kanan. Didit belok ke kiri. Mereka berpisah di pertigaan. Tinggal jalan sedikit lagi, Mucha sudah sampai di kosnya. Tiga warung yang ia lewati masih sama-sama buka. Anak-anak kos sekitar sini biasanya nongkrong di sana untuk begadang. Wangi kopi yang mengudara di jalan kecil itu seharusnya membuat Mucha lebih terjaga. Tapi ia sudah capek sekali. Tinggal merem saja ia bisa tidur sambil berjalan.
Ketika baru saja sampai di depan kos, ponsel Mucha berbunyi. Didit menelepon.
“Halo, Dit?”
“Oh, jawab ternyata,” kata Didit di seberang sana. “Kirain jalan sambil ketiduran.”
Mucha tersenyum. “Udah sampe kos?” tanyanya sambil membuka gembok gerbang.
“Lagi pesen nasi goreng di warung. Aku denger suara gerbang dibuka.”
“Iya, ini aku baru nyampe kos.”
“Langsung tidur, ya. Biar besok bisa melek lihat langit.”
Mucha kira Didit masih mau mengobrol, tapi ternyata setelah Mucha bilang “Iya, iya” sambil tertawa, Didit bilang “Dah, ya” lalu menutup telepon.
Mucha masuk ke kos sambil senyam-senyum. Ia memutuskan untuk menyeduh segelas Milo, tapi begitu kepalanya menyentuh bantal, ia kembali menari-nari di padang bunga yang tadi dan Milonya menjelma menjadi seorang pangeran yang rambutnya cokelat pastel bernama Didit.