To or Not to Worry
Pair: Kaji/Sakura (WBK) Tag: a little more than "just friends", canon-compliant, post-Roppo Ichiza arc (⚠️ spoiler ahead), mentioned Endo Words: 3,147 A/N: Sebuah upaya menjahit kajisaku dalam storyline menuju Noroshi arc karena bahan-bahan canon-nya ada jadi kayak tinggal disatuin dan dibumbuin aja hehehe :) Summary: Sakura memang petarung yang kuat, tetapi tak ada yang lebih mengerti betapa lemah dan rapuh jiwanya sebenarnya dibanding Kaji, orang yang telah Sakura biarkan untuk melihat titik terendahnya di atap sekolah waktu itu. Yah, mungkin juga duo sahabat Sakura, Nirei dan Suo. Dan sekarang, mungkin juga Endo.
———
Hiragi baru saja menceritakan semuanya. Menurutnya Kaji harus tahu dari dirinya, salah satu dari Empat Raja yang hadir pada pertemuan eksklusif di atap sekolah tadi pagi. Pertemuan itu diadakan setelah Tsubaki memberi tahu Umemiya tentang kemunculan Endo di distrik Keisei kemarin, dan Sakura hadir karena cowok berambut hitam-putih itu—lagi-lagi—menjadi pusat masalah baru: Endo tertarik kepadanya. Umemiya menceritakan sejarah kelam Furin dan para legendanya yang tak diketahui siapa pun untuk menjelaskan bahaya seperti apa yang sekarang mungkin sedang merayap ke arah mereka—ke arah Sakura, khususnya, karena terakhir kali Endo tertarik pada seseorang, musibah terjadi.
Namun, kata Hiragi sambil mendengkus, “Anak itu tidak ada takut-takutnya. Dia justru memotivasi kami untuk menghadapi Endo demi melindungi segala hal yang kita jaga. Bocah sialan memang. Umemiya yakin dia bisa diandalkan untuk mengurus Endo.”
Kaji terdiam cukup lama. Mereka sekarang berada di koridor dekat kelas 2-1. Hiragi, anak kelas 3, repot-repot datang ke sini hanya untuk menginformasikan Kaji tentang ini semua. Kaji bersandar di dinding koridor yang berjendela, sedangkan Hiragi berdiri dengan postur gagah dan tegapnya dengan tangan terlipat di depan dada. Anak-anak kelas 2 berlalu-lalang di sekitar mereka, tak acuh pada kehadiran Hiragi karena sudah terbiasa dan tahu tentang kedekatannya dengan Kaji.
“Yah, itu Umemiya,” kata Hiragi setelah beberapa saat. “Sehebat apa pun dia sebagai pemimpin, kadang dia masih terlalu naif. Dan aku lebih sering mengurus kerusuhan Sakura secara langsung daripada dia. Jadi—”
“Aku tidak akan khawatir, jika itu tujuanmu memberitahuku semua ini,” kata Kaji dengan suara rendahnya yang hampir selalu terdengar tenang dan tanpa emosi.
Hiragi menatap Kaji serius. “Kita masih tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi Sakura mungkin harus menghadapi Endo sendirian. Jangan naif seperti Umemiya, Kaji.”
Kaji tidak langsung menanggapi. Karena sebenarnya, sejujurnya, ia tidak tahu apa yang ia rasakan dan harus pikirkan tentang itu—bahwa Sakura diincar oleh salah satu orang paling berbahaya dalam sejarah Furin. Sakura selalu menganggap dirinya jagoan, buah dari kekuatan dan kepercayaan diri yang tidak hanya menerjunkannya ke banyak masalah sejak datang ke Makochi, tetapi juga membantu dan meringankan beban banyak orang. Kaji mengerti mengapa Umemiya begitu mudah memercayainya.
Lagi pula, Sakura benci dikhawatirkan. Kaji selalu lebih memilih untuk tidak mengkhawatirkannya jika bisa, lebih karena ia terlalu cuek untuk itu dan, yah, percaya pada Sakura. Tetapi, bagaimana kalau pemikirannya sekarang begini hanya karena ia belum sepenuhnya mengerti beban dari situasi ini?
Makochi cukup tenang sejak Bofurin tersusun dengan solid dan selalu hadir untuk membantu semua orang. Masalah antarkelompok yang terjadi pun tidak pernah memerlukan diadakannya pertemuan eksklusif Empat Raja. Itu saja seharusnya sudah cukup menjelaskan kegentingan yang ada.
Hiragi menghela napas melihat ketermenungan Kaji.
“Besok ada latihan gabungan untuk semua angkatan di gedung olahraga. Kau harus datang,” katanya sambil menepuk pundak Kaji. “Dan, Kaji, entah nanti, besok, atau kapan, bicaralah dengan Sakura. Yakinkan dirimu sendiri.”
Hiragi pergi. Kaji memandang punggungnya hingga hilang di belokan koridor, lidahnya memainkan lolipop di mulut dengan penuh kebimbangan.
*
Latihan gabungan hari ini akan diadakan sepanjang hari secara bergiliran antarkelas dan angkatan. Tiga kelas Tamon kebagian siang sepulang sekolah. Kaji menyempatkan bertemu dengan Sakura saat jam makan siang, mengajaknya makan di bangku taman samping gedung sekolah dengan dua bento yang sudah disiapkan ibunya. Ibunya selalu menyiapkan dua bento sejak tahu Kaji dekat dengan seseorang di sekolah walau tidak tahu orang itu siapa (terima kasih kepada mulut besar Enomoto karena sudah keceplosan saat main ke rumahnya). Sakura belum pernah bertemu dengan ibu Kaji, tetapi Kaji bisa tahu dari cengiran lebarnya setiap kali membuka penutup bento bahwa ia mencintai masakannya.
“Hm! Enak!” seru Sakura dengan mulut menggembung. Ia baru saja memasukkan sebuah sosis gurita dan sepotong telur gulung sekaligus. “Kenapa semuanya bisa seenak ini? Bukannya aku protes, sih. Ah, hamburg-nya kumakan terakhir saja. Biasanya ini yang paling enak.”
Sakura seperti berada di dunianya sendiri sekarang. Yang ada hanya dirinya dan makan siangnya.
Maka, hanya Kaji yang sadar saat seseorang berbisik keras-keras dari samping.
“Hei …. Hei!”
Sambil mengunyah dengan ujung sumpit di depan mulut, Kaji menoleh. Mengintip dari balik dinding gedung di ujung sana adalah Tsubaki, sebagian rambut dwiwarnanya tergerai mengikuti posisi tubuhnya yang miring. Cowok jangkung yang selalu memakai sepatu berhak tinggi itu melambai-lambaikan tangan kepada Kaji, memintanya datang.
“Sebentar, ya,” kata Kaji kepada adik kelas di sebelahnya. Sakura hanya mengangguk tanpa menoleh, terlalu asyik mengunyah, menelan, dan terus menyuap.
Kaji membawa bentonya menuju Tsubaki.
“Kaji-kun, Kaji-kun!” Tsubaki menyambut Kaji dengan girang. Ia melompat-melompat kecil di atas sepatunya dan kedua tangannya terkepal di bawah dagu. “Aku baru tahu kamu sering lunch date dengan Sakura. Kalian gemas banget!”
Kaji mengerang, tetapi pipinya merona samar. “Serius, memanggilku hanya untuk ini?”
“Eh, tunggu! Bukan!” Tsubaki langsung menarik tudung hoodie Kaji saat Kaji hendak berbalik untuk pergi. “Ada yang ingin kubicarakan. Tapi, aku memang harus bilang kamu lucu sekali dengan Sakura-chan. Tahu nggak, kalian itu seperti dua ekor kucing liar yang sedang berusaha menghadapi dunia bersama! Saat duduk berduaan seperti itu, dilihat dari jauh begini, kalian terlihat sangat serasi, seperti memang diciptakan untuk bertemu, untuk duduk berdua seperti itu, untuk—Eh, tapi, memangnya kalian sudah jadian?”
“Bye.”
“Kubilang tunggu, Kaji-kun!”
“Makanya cepat bicara!” bentak Kaji mulai tidak sabar.
Tsubaki masih berani-beraninya cekikikan, sebab marah pun Kaji tidak bisa mencegah kulit wajahnya agar tidak memerah. Sialan.
Namun, Tsubaki tidak mempermainkan kesabaran Kaji lagi. Ia mulai terdengar serius saat kembali berbicara. “Kudengar Hiragi sudah memberitahumu. Aku ingin menambahkan beberapa hal yang menurutku juga harus kamu tahu.”
Kaji melanjutkan makan bentonya sambil bersandar di dinding, kakinya menyilang. “Jadi ini soal apa aku harus mengkhawatirkan Sakura.”
“Kamu harus mengkhawatirkannya,” kata Tsubaki lugas. “Aku bilang begini karena tahu lebih mudah bagimu untuk tidak mengkhawatirkannya daripada iya. Kamu, kan, orangnya cuek banget. Ditambah lagi, Sakura-chan tidak suka dikhawatirkan. Kalian seperti dua kutub magnet yang sama dalam hal ini, dan menurutku itu tidak bagus.”
“Kenapa? Bukannya malah lebih tenang begitu?”
“Kaji-kun,” kata Tsubaki, kali ini ketengilannya sudah sepenuhnya luruh dari wajah, tergantikan raut serius yang diwarnai sedikit kecemasan. “Kamu mungkin tidak perlu mengkhawatirkan Sakura sebagai petarung. Dia kuat, mungkin yang terkuat di angkatannya, dan semua orang tahu itu. Tapi …. Aku ada di sana saat Endo muncul. Dia banyak membual, tetapi kata-katanya bisa jadi sangat beracun. Dan dia mengatakan hal-hal buruk kepada Sakura, hal-hal yang dia ketahui dari melihat Sakura bertarung … saat melawan Keel.”
Kaji berhenti mengunyah. "Keel?"
“Iya, Kaji-kun. Endo juga ada di sana saat kalian menghabisi Keel. Dan dia melihat semua yang Sakura alami waktu itu.” Tsubaki tidak tahu dengan pasti, hanya dengar cerita-ceritanya saja dari Umemiya dan Hiragi, tetapi begitu saja ia bisa mengerti Sakura memiliki beberapa pergolakan batin yang membuatnya tidak sekuat yang selalu ditampakkan selama ini. Ia juga sudah dengar Sakura sempat meminta bantuan Kaji untuk mengajarinya menghadapi salah satu pergolakan batin itu—yang berujung pada Kaji menonjok muka Umemiya bulat-bulat karena sudah menguping. Karena itu, walau harus diberi tahu seperti ini dulu, Tsubaki yakin Kaji akan lebih mengerti.
Itu sekarang terlihat dari berubahnya ekspresi Kaji, dari yang tadinya santai dan acuh tak acuh menjadi serius dan terfokus. Ia sudah merasa ada yang aneh dari Keel waktu itu, tetapi tak pernah menyangka orang seperti Endo terlibat.
Diskusinya dengan Sakura di atap sekolah masih terngiang jelas, lengkap dengan intro saat Sakura datang ke kelasnya sendirian dengan wajah agak pucat—katanya habis sakit sehari sebelumnya—dan mata dwiwarna yang tampak begitu resah dan gelisah, seperti sepasang kolam penuh emosi. Kaji tidak bijak ataupun pandai memberikan nasihat seperti Hiragi, tetapi ia membantu Sakura mengurai kekalutannya dengan caranya sendiri—menceritakan analogi-analogi untuk merasionalisasi gumpalan emosi itu dan memberikan Sakura perspektif lain yang jauh lebih logis dibanding badai ketakutan dan kecemasan yang menyelubungi benaknya hari itu.
Sakura memang petarung yang kuat, tetapi tak ada yang lebih mengerti betapa lemah dan rapuh jiwanya sebenarnya dibanding Kaji, orang yang telah Sakura biarkan untuk melihat titik terendahnya di atap sekolah waktu itu.
Yah, mungkin juga duo sahabat Sakura, Nirei dan Suo.
Dan sekarang, mungkin juga Endo.
Apa yang akan terjadi jika Endo … mencengkeram Sakura tepat pada titik terlemahnya?
Ini bukan lagi soal siapa yang secara fisik lebih kuat.
“Sekarang kamu khawatir, kan, Kaji-kun?” celetuk Tsubaki, menarik kembali pikiran Kaji dari kontemplasinya. Ia lalu tersenyum. “Kalau boleh jujur, aku senang melihat ekspresi seperti ini ada di wajahmu. Kamu jadi terlihat lebih lembut dan—”
“Aku akan bicara dengan Sakura,” kata Kaji, mengabaikan ocehan Tsubaki. “Terima kasih sudah memberitahuku, Tsubaki-san.”
*
Sakura melakukan latihannya dengan serius. Ia bertarung melawan Hiragi dan, sejauh yang Kaji perhatikan dari posisinya yang agak jauh, belum pernah menang sekali pun.
Kaji langsung merunduk saat melihat kaki lawannya terayun cepat dari sudut mata. Suo menarik kembali kakinya yang hanya menebas udara kosong dengan raut simpatik. Senyumnya selalu terlihat ramah dan manis, tetapi penuh kepalsuan di mata Kaji. “Sekangen itukah kau pada Sakura-kun, Senpai? Sampai-sampai tidak bisa melepaskan pandangan darinya. Lucunya ….”
“Diam.”
Kaji memaksa dirinya untuk berhenti mencuri-curi pandang ke arah pertarungan Sakura. Musuhnya ada di depan mata dan ia orang yang sangat menyebalkan. Suo menguasai teknik-teknik menghindar dan menghalau serangan pada level yang luar biasa. Tinju dan tendangan Kaji banyak yang kena, tetapi sama sekali tidak berdampak. Suo kebalikan dari Kaji yang hampir selalu membiarkan tubuhnya menerima serangan sehingga mudah terluka dan kehabisan energi. Walau begitu, kali ini energi Kaji terkuras oleh mode bertahan Suo yang seakan-akan tidak ada akhirnya.
Ia melompat mundur dengan napas terengah-engah. “Kau tidak bisa menyerang, ya?” tanya Kaji akhirnya, lebih karena bosan ketimbang frustrasi dengan dinamika pertarungan mereka. Dilapnya keringat di rahang dengan kepalan tangan kiri.
“Ah, maaf. Kukira aku sedang memberimu kesempatan untuk berlatih sambil memperhatikan Sakura-kun.”
Senyum ramah palsu sialan itu lagi. Kaji mendengkus, menyadari Suo hanya akan menyerangnya saat ia terdistraksi—seperti tadi. “Licik juga strategimu,” katanya, membuat Suo bertanya, “Strategi apa?” sambil tetap tersenyum dan sedikit menelengkan kepala. Kaji menerjang maju lagi, walau pada titik ini sudah yakin duel ini akan berakhir tanpa pemenang.
Benar saja. Mereka berdua masih sama-sama berdiri tanpa terluka saat sesi mereka selesai. Mengikuti beberapa anak kelas 1 dan 2 lainnya, mereka menepi untuk memberi anak-anak lain ruang untuk sesi latihan selanjutnya.
Nirei, teman kesayangan Sakura yang tidak ikut latihan, sudah menyiapkan minuman segar di pinggir lapangan. Kaji bergabung dengan Enomoto yang mengajak teman-teman Sakura mengobrol dan Kusumi yang langsung mengambilkannya minuman.
“Si Sakura itu, sudah banyak sekali masalahnya,” kata Enomoto. Semua orang sudah tahu tentang situasi di antara Sakura dan Endo—salah satu alasan utama diadakannya latihan gabungan ini, juga salah satu masalah yang melibatkan Sakura dari sekian banyak yang sudah terjadi sejak tahun ajaran baru. “Jiwanya memang jiwa pemancing masalah atau bagaimana?”
“Dia bukan berjiwa pemancing masalah,” bantah Anzai dan teman-temannya yang datang dengan tampang seperti zombi. “Dia yang melompat ke dalam masalah itu sendiri.”
Anzai dan teman-temannya menjadi lebih segar setelah minum. Kaji tidak terlalu menyimak obrolan mereka dengan Enomoto. Melihat mereka dan teman-teman terdekat Sakura—Nirei, Suo, dan dua anak lain yang Kaji lupa namanya—mengingatkan Kaji pada pertarungan melawan Keel dan percakapannya dengan Tsubaki. Kaji termangu sambil memandangi sparing Sakura dan Hiragi.
“Sudah cukup, bocah!”
Tiba-tiba Hiragi berteriak. Cowok jangkung yang selalu memakai celana ketat itu bilang sparingnya sudah cukup, tetapi Sakura ngotot ingin terus berlatih karena tak ada yang tahu kapan Endo akan muncul lagi, menolak perintah Hiragi untuk beristirahat. Hiragi mengomel, tetapi mengerti mengapa Sakura tidak bisa tenang. Setelah terdiam sejemang, dengan tangan terkepal Sakura berbicara.
“Ini … tidak ada hubungannya dengan si sialan Endo itu. Tidak peduli siapa yang kulawan, aku sudah memutuskan tidak akan akan membiarkan teman-temanku tumbang.”
Tidak hanya Hiragi dan Kaji, teman-teman Sakura juga mendengarkan dari pinggir lapangan.
“Aku tidak bodoh. Aku tahu aku tidak bisa menolong semua orang sendirian. Tapi ….” Sakura menatap tangannya sendiri. “Jika bisa sedikit saja lebih kuat, pasti ada lebih banyak orang yang bisa kutolong. Tidak tahu kapan dia akan datang, atau apakah dia memang akan datang. Tapi, justru karena itu … aku tidak ingin ada yang bisa kusesali. Ini bukan saatnya untuk berdiam.”
Pada saat itu, Kaji langsung tahu. Ada badai yang sedang berputar di benak Sakura.
Hiragi menghela napas. “Yah—”
“Hei.” Kaji yang tiba-tiba datang membuat Hiragi mendadak terdiam. “Aku akan melawanmu,” katanya kepada Sakura.
Ini saatnya mereka berbicara.
*
Mungkin, sparing melawan Hiragi dan tidak pernah sekali pun berhasil menguasai pertarungan membuat Sakura menyadari sesuatu. Sebab, sampai saat makan siang tadi, Kaji merasa anak ini masih baik-baik saja—memandang hidup secara positif dan percaya diri dengan gaya belagunya yang biasa, berbeda dengan Sakura yang sekarang berdiri di hadapannya dengan kalut dan tak sabaran. Setiap gerakannya terkesan buru-buru, menyerang Kaji dengan tinju dan tendangan yang energinya tidak terfokus. Dari mata biru kelabu dan ambernya yang memandang Kaji dengan kuyu, Kaji tahu Sakura sudah tidak bisa berpikir jernih. Ia masih menerjang dan menghindar hanya karena merasa harus terus melakukannya, bukan karena ingin mencapai sesuatu untuk meningkatkan kemampuan.
Menjadi lebih kuat apanya? Ia hanya sedang memforsir tubuhnya tanpa tujuan.
Kaji sudah meladeni Sakura sejak bergantian dengan Hiragi tadi. Gedung olahraga sudah sepi dan menggelap seiring dengan menuanya sore, dan karena Tamon yang terakhir kali menggunakannya untuk latihan gabungan, semua orang pulang setelah latihan selesai. Kecuali, yah, mereka berdua. Itu pun karena Sakura tidak mau diminta berhenti.
“Sakura, cukup.” Kaji menangkap kepalan tinju Sakura sebelum serangan itu mendarat ke—mana? Tidak jelas Sakura mengarahkannya ke wajah atau perut Kaji, seakan-akan yang penting tangannya maju. Kaji hendak memuntir tangan itu, tetapi Sakura mengangkat kaki dan menghantamkan tendangan ke pinggang Kaji. Kaji nyaris tidak merasakan apa-apa, selain dorongan ringan yang membuat tubuhnya bergeser sedikit ke samping. “Kamu sudah lelah,” kata Kaji lagi. “Seranganmu semuanya kosong.”
“Sedikit lagi!” sahut Sakura bebal. “Aku masih bisa bergerak!”
“Tapi kubilang cukup!” Masih dengan sama mudahnya, Kaji menangkap lagi tinju Sakura, kali ini pada pergelangan tangannya, lalu merunduk saat Sakura melayangkan tangan lainnya yang bebas ke arah kepala Kaji. Saat kembali berdiri, Kaji berada di belakang tubuh Sakura, menekuk tangannya yang masih ia genggam ke belakang punggungnya dengan gerakan mengunci.
Sakura memiringkan tubuh dan menggunakan tangannya yang bebas untuk meraih Kaji, tetapi karena kecepatannya sudah menurun drastis, Kaji mendahuluinya menangkap tangan itu untuk ditekuk juga di belakang punggung.
Sakura seperti penjahat yang diborgol sekarang. Ia sempat meronta untuk melepaskan tangannya dari kuncian Kaji, tetapi tubuhnya yang kehabisan tenaga tidak bisa diajak bekerja sama lagi. Jika ini pertarungan sungguhan, ia pasti hanya bisa mengandalkan adrenalin untuk terus maju.
Hanya deru napas mereka yang mengisi udara selama beberapa saat. Lalu, Kaji menekuk kaki dan menurunkan tubuhnya perlahan sambil menarik Sakura ke bawah, berniat mendudukkan mereka di lantai lapangan. Tubuh Sakura langsung melemas dan ambruk ke belakang setelah kedua kakinya terlipat di lantai, bersandar tanpa tenaga pada Kaji yang sigap menahannya.
Akhirnya, batin Kaji. Akhirnya bisa berhenti juga.
“Hiragi …. Unggul sedikit saja tidak,” gumam Sakura dengan napas masih terengah, merutuki sparingnya melawan Hiragi—membenarkan dugaan Kaji bahwa ada sesuatu dari pertarungan itu yang mengganggunya. “Kalau si Endo itu … benar lebih kuat dari Hiragi ….”
Kaji berdiri untuk mengambil handuk dan minuman masing-masing dua, lalu kembali duduk di sebelah Sakura yang sekarang tertunduk muram dengan bahu lunglai.
“Dia ada saat kita melawan Keel, kau tahu?” Sakura berbicara lagi setelah meneguk air dan menerima uluran handuk dari Kaji. Napasnya sudah lebih normal sekarang. “Entah siapa orang kita yang melawannya saat itu, dan entah kenapa dia tidak menunjukkan diri. Tapi, jika dia memang sekuat itu dan tidak menyembunyikan diri saat melawan teman-temanku, mereka pasti—” Sakura tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi Kaji tahu ia terngiang wajah terluka dan tubuh tumbang teman-temannya yang tidak pernah berhenti menghantuinya sejak saat itu.
“Dan … kalaupun aku yang berhadapan dengannya, aku yang saat itu pasti tidak bisa melakukan apa-apa. Aku benci memikirkan ini, tapi—”
Sakura mendadak diam.
Kaji membuka sebungkus lolipop dan memasukkannya ke mulut, kaki bersila dan punggung ditahan dengan kedua tangan. Rasa manis menjalar saat Kaji mengisap permen rasa susu itu, mengirimkan ketenangan yang menyenangkan.
“Endo bilang apa?” Pertanyaan Kaji memecah keheningan.
“Hm?” Sakura menoleh linglung.
“Dia mengatakan sesuatu saat kalian bertemu. Apa itu?”
Sakura tidak bertanya dari mana Kaji tahu tentang itu. Ia tertunduk lagi.
Saat kembali berbicara, suara Sakura terdengar sangat pelan.
“… tidak pantas di Furin.”
“Apa?”
“Tidak pantas berada di Furin,” Sakura mengulang. “Dia bilang—aku tidak pantas ada di sini.”
Punggung Kaji langsung menegap. Ia menatap Sakura dengan mata membelalak—reaksi yang sama seperti semua orang yang mendengar Endo waktu itu.
“Yah, dia tidak tahu apa-apa tentang aku, jadi aku tahu itu tidak benar,” kata Sakura. “Tapi … sudah lama aku tidak mendengar seseorang mengatakan hal seperti itu kepadaku ….”
Dari posisinya saat ini, Kaji hanya bisa melihat wajah Sakura dari samping. Rambut Sakura yang kumal karena keringat jatuh di sekeliling wajah, sebagian menutupi matanya dan menghalangi Kaji untuk membaca ekspresinya dengan baik.
Namun, ia sudah familier dengan ini, kesedihan yang sebenarnya membebani pundak Sakura, yang kadang menghalanginya untuk mengangkat dagu tinggi-tinggi seperti yang selalu dilakukannya saat tampil sok jagoan. Kesedihan yang Kaji masih tidak tahu dari mana dan bagaimana tumbuhnya karena Sakura belum mau bercerita tentang masa lalunya, tetapi—tidak hanya Kaji—semua orang yang mengenal Sakura bisa merasakan kepedihannya hanya dari melihat caranya menunduk saja. Ia seakan-akan ingin menyembunyikan warna matanya yang abnormal dari dunia. Ingin menciut sekecil mungkin dan mengubur dirinya sendiri dari pandangan orang lain.
Kaji mengulurkan tangan dan menyingkirkan helai-helai hitam rambut dari depan mata Sakura, mengejutkan Sakura yang langsung melihat ke arahnya dengan pipi merona. “H-hei—”
“Hari ini, ada dua orang yang berusaha meyakinkanku untuk mengkhawatirkanmu,” ujar Kaji, menatap iris biru kelabu dan kuning keoranyean di mata Sakura yang dinaungi bulu mata lentik. Mata yang cantik. “Sakura, apa aku harus mengkhawatirkanmu?”
Sakura menatap balik mata abu-abu gelap Kaji dengan raut tercengang. “U-uh …. Tidak?”
“Meski kamu tidak bisa mengalahkan Hiragi-san?”
Sakura merengut. “Itu bukan alasan! Aku pasti akan mengalahkannya besok!”
“Aku ... hm, tidak hanya aku saja. Aku dan semua orang di Furin, kami percaya padamu,” lanjut Kaji. “Sebagai gantinya, kamu juga harus percaya pada kami, apa pun yang terjadi. Dan tolong ingat itu baik-baik saat Endo ada di hadapanmu lagi nanti.”
Sakura mengernyit bingung, tidak mengerti mengapa Kaji tiba-tiba berbicara seperti itu. “Ada apa denganmu?”
Kaji melingkarkan tangannya ke leher Sakura dan memitingnya, membuat Sakura berteriak protes. Tetapi kemudian Kaji menarik Sakura mendekat dan menempelkan sisi wajahnya di kepala adik kelasnya itu, rambutnya terasa lengket dan lembap di permukaan kulit Kaji. Membuat Sakura membeku.
“Aku akan memohon pada Umemiya untuk menemanimu, seandainya bisa,” kata Kaji, suara rendahnya terdengar menggelitik di atas telinga Sakura. “Tapi, kelasku juga harus kuurus dan kulindungi. Karena itu, jika kamu harus menghadapi orang itu sendiri … ingatlah aku. Apa pun yang dia katakan, ingat aku dan semua yang pernah kita bicarakan.”
Kaji tidak tahu lagi apa yang bisa ia katakan selain itu. Kekuatan pada mental Sakura hanya bisa diperbesar dengan kata-kata, untuk menghapus semua hal buruk yang pernah ia dengar dan terima dari orang-orang yang pernah menyakitinya dan menggantinya dengan hal-hal baik, untuk menghalau hal-hal buruk lain yang mungkin masih akan ia dapatkan saat bertemu lagi dengan orang-orang berhati jahat. Kaji tidak tahu apa yang mungkin akan dilakukan Endo, tetapi jika omongan Tsubaki benar, laki-laki itu pasti akan mencoba meyakinkan Sakura soal ketidakpantasannya berada di Furin. Menyerangnya pada titik terlemah. Sakura harus punya cukup kekuatan untuk tidak terpancing dan tenggelam dalam kata-kata beracun Endo. Hanya dengan begitu Kaji bisa benar-benar tidak mengkhawatirkannya.
“Aku … akan ingat,” ucap Sakura, memegangi tangan Kaji yang masih melingkar di lehernya dan sekarang lebih terasa seperti sebuah … dekapan. “Aku tidak akan lupa.”
Sayangnya, Kaji mengangkat tangan dari leher Sakura untuk menepuk-nepuk pelan kepalanya, membuat Sakura diam-diam menelan rasa kecewa merasakan kehampaan yang ditinggalkan tangan itu. Namun, Kaji membiarkannya tetap bersandar dan menikmati tepukan-tepukan lembut di rambutnya sampai Sakura merasa tenang. Ketenangan yang hanya bisa ia dapatkan di Furin, dari Kaji yang selalu ada untuk mendengarkan isi hati yang tidak bisa ia ceritakan kepada teman-temannya, membubarkan badai emosinya dengan logika, dan menyaksikan sisi-sisi terlemahnya tanpa menghakimi.
Ia harus ingat bahwa ia pantas memiliki semua ini.
———
(To be continued?)












