First Impression ke Dokter Spesialis THT
Ceritanya, telinga sebelah kanan saya mengalami nyeri yang amat sangat luar biasa menyakitkan pada awal Februari ini. Tiga hari pertama sakitnya wow. Seperti sakit gigi tapi ini di telinga tepatnya bagian dalam telinga. Hal ini diawali karena kebiasaan saya mengorek telinga dengan menggunakan jari hehehe *bodoh sih. Ternyata hal ini menyebabkan luka pada telinga saya yang kemudian diikuti dengan bengkak dan keluar nanah berwarna kuning yang baunya ulala. Mau makan susah, tidur apalagi. Cuma bisa nangis menahan sakit. Demam, pusing, dan rasanya bagian wajah sebelah kanan saya terasa aneh seperti cacat tak berfungsi. Mau makan pun susah untuk buka mulut. Pokoknya kayak sakit gigi lah. Akhirnya, hari ketiga saya konsultasi dengan bidan puskesmas tempat saya kerja dan diberikan lah obat Metronidazol dan Antalgin. Katanya itu bisa membantu untuk menghilangkan nyeri. Yaaa, setelah habis 1 strip obat yabg diminum, saya pun tidak merasakan nyeri lagi dan saya pikir telinga saya sudah baik-baik saja. Tapi, ternyata setelah kurang lebih 1 minggu berselang, telinga saya kambuh lagi. Sakit yang sama terulang kembali. Akhirnya, saya memutuskan untuk bagaimanapun caranya saya harus ke dokter spesialis THT. Ya, saya pikir mungkin teling saya harus dibersihkan dulu sama dokternya. Mungkin telinga saya sakit karena serumen yang menggumpal. Soalnya, Tahun 2017 saya juga pernah mengalami masalah yang sama dengan telinga sebelah kanan saya hingga saya kehilangan pendengaran sementara. Tapi bedanya, waktu itu tak sesakit sekarang hiks. Dan ketika saya ke dokter keluarga, dokternya pun membrsihkan telinga saya dengan cara menaruh air ke dalam lubang telinga saya beberapa kali kemudian dikeluarkan serumen yang sudah mengeras dengan alat kecil. Back to the topic, akhirnya saya menyebrangi lautan (karena saya di kepulauan terluar loh) untuk mencari dokter spesialis THT. Prosesnya lumayan panjang dan ribet. Mana dalam perjalanan, saya muntah terus. Ternyata mual saya karena efek obat pertama yang saya minum. Mulai dari dokter keluarga, terus puskesmas setempat untuk dibuatkan rujukan ke RS yang ada dokter spesialis THT. Oh ya, waktu ke puskesmas, dokter umum disana tidak memberi saya therapy apa2. Katanya lebih baik ke dokter spesialis saja supaya nanti dikasih resep. Beliau juga mengatakan kalo dia juga pernah mengalami luka di telinga sampai harus ke dokter spesialis THT untuk dibersikan. Lebih bulat lah tekad saya untuk ke dokter THT. Keesokan harinya barulah saya ke RS, mendaftar dengan nomor antrian 191. Dan ketika selesai antri, pas ke poli THT nya sudah tutup. Tapi, susternya mengatakan untuk kembali lagi pada pukul 4 sore. Berarti masih ada harapan. Oh yaa, waktu itu keadaan telinga saya sudah tidak sakit lagi tapi masih sulit tidur karena berasa penuh teling saya seperti kemasukan air yang sangat banyak sampai tidak kedengaran apa-apa. Nah, jam 4 lewat sudah ada sekitar 5 orang yang mengantri di depan poli THT. Saya pikir cuma saya doang karena kata orang-orang biasanya poli THT itu paling sunyi pasien. Menunggu sekitar 2 jam tepatnya setelah magrib, saya pun dipanggil masuk ke dalam. Dag dig dug hati saya. Nanti bagaimana yaa. Tapi, dokternya ramah sekali. Pertamanya, beliau bertanya keluhan saya apa kemudian mulai tanya2 soal pekerjaan, tinggal dimana sekarang. Tiba-tiba, telinga saya udah disemprot aja pake benda panjang tipis hitam kayang selang kecil. Pokoknya ada airnya apa cairan. Rasanya, dingin kaya disiram air tapi lama-lama cikit cikit gimana gitu. Setelah itu diperiska dengan alat yang namanya otoscope.
Telinga merupakan salah satu panca indra yang penting untuk manusia, jika telinga bermasalah itu akan sangat memperngaruhi kehidupan. Memili
Setelah itu mulai lah dikorek-korek dengan mirip alat dari stainless steel yang ujungnya ada kapas mirip cotton bud tapi ini panjang. Ketika dimasukkan ke telinga, oalah sakitnya langsung kambuh lagi. Udah pengen teriak tapi malu juga. Terpaksa hanya bisa meremas tangan menahan sakit sambil berharap cepat berlalu. Lumayan lama sih prosesnya waktu saya di dalam. Beberapa kali, setelah dokternya 'mencungkel' telinga saya, beliau memperlihatkannya kepada saya. Ada darahnya katanya. Setelah diperiksa lagi, disimpulkan bahwa ada bisul besar dalam telinga saya dan kalo dipaksa untuk dipencet untuk nanti dibersihkan, takutnya malah akan tambah parah. Jadi dokter pun meresepkan saya antibiotik cefadroxyl dan penghilang nyeri ibuprofen. Saya diminta untuk kembali lagi minggu berikutnya untuk periksa kembali. Wish that i'll be get well soon. See you next post.










