Terhubung dengan Alam dalam Dekap Papua
Tulisan ini dimaksudkan untuk mengikuti kompetisi menulis Wonderful Papua oleh EcoNusa dan Blogger Perempuan Network
Papua, satu dari lima pulau besar di Indonesia yang selalu ingin ku pijak sejak dari bangku kuliah hingga akhirnya pada September 2018, pertama kali aku menapakkan kakiku di Pelabuhan Sorong, pintu gerbangku setiba di Papua. Jujur sewaktu itu selalu urung untuk ke Papua karena jarak yang terlalu jauh, biaya yang dikeluarkan pasti sangat mahal dan masih belum punya teman disana. Akhirnya bermodal nekat mengadu keberuntungan lewat sebuah esai untuk kegiatan sosial yang berakhir jackpot bisa bergabung dengan budget minim dan bisa traveling sambil mengabdi.
Aku dan rombonganku akan mengunjungi sebuah desa di ujung jalan Trans Waigeo, Desa Warsambin. Berjarak satu jam perjalanan darat terpantau lancar dari Waisai. Dimulai dari sinilah kami terputus dengan dunia luar. Ketiadaan sinyal menutup jalur interupsi godaan media sosial. Minimnya listrik membuat kami lebih sering berinteraksi dengan sekitar. Bosan? Awalnya ku pikir akan seperti itu tapi nyatanya, tidak. Tidak terhubung dengan dunia luar bukan berarti kehidupan terputus. Tidak terhubung dengan listrik bukan berarti kehidupan tidak berlanjut. Dalam senyap Papua aku terhubung dengan alam serta kehidupan di sekitarku.
Selama di Desa warsambin aku merasa lebih hidup. Dengan hutan dan tanamannya yang asri nan rimbun, laut dengan ikan dan biota yang terlihat jelas dari air yang sangat jernih, udara yang bebas polusi, serta air segar yang mengalir langsung dari mata air. Dari hutan Papua, dapat terdengar jelas suara – suara fauna, terutama burung. Jika beruntung bahkan kamu bisa melihatnya dengan jelas. Salah satu suara burung yang ku dengar dan kulihat setiap sore hari adalah burung Mangkawok, suara burung Mangkawok sebagai pertanda arus naik atau arus turun menurut kepercayaan masyarakat.
Desa Warsambin merupakan desa pesisir laut. Meski tidak memiliki pantai berpasir namun keindahan lautnya sungguh sangat menawan. Dari dermaga kita dapat melihat langsung ikan – ikan seperti yang sering kita lihat di animasi layar televisi. Menikmati sunyi sore hari sambil melihat anak – anak desa memancing dan mandi air laut, atau hanya sekedar duduk duduk santai sambil bercengkrama tentang hari ini atau esok. Sesederhana itu. Kalau bisa diulang, rasanya ingin kembali menikmati suasana itu kembali.
Satu hal yang paling menarik dari Desa Warsambin adalah Wisata Kali Biru. Dengan bermodal naik perahu selama 15 menit, dilanjutkan berjalan kaki 10 menit melewati hamparan batu, sungai dan hutan, maka akan sampailah kita di tempat paling eksotis di pedalaman Raja Ampat. Kali Biru. Sungai air tawar yang berwarna biru dan dingin. Dingin karena merupakan sumber air yang masih terjaga dalam rimbunnya hutan. Namun apa yang membuat refleksi airnya berwarna biru seperti air laut dari yang sempat ku baca adalah karena Kali Biru merupakan telaga yang cukup dalam dan gelombang sinar matahari terutama gelombang warna biru terserap dengan baik sehingga warna yang terlihat di mata kita adalah warna biru. Lokasi Kali Biru yang berada di dalam hutan sangat cocok untuk berlibur melepas penat setelah aktivitas padat karena suasanya yang hening serta kebersihan alam yang masih terjaga. Yang pasti Kali Biru harus termasuk dalam daftar destinasi Ekowisata jika mampir ke Raja Ampat.
Perjalanan menuju Kali Biru
Ketika ekspektasi sejalan dengan realiti dan itu bisa didapat di Raja Ampat, Papua Barat. Ekspektasi: alam yang indah dan menawan. Realita: alam yang EKSOTIS BANGET! Kenikmatan tiada tara. Kamu harus merasakan sensasinya sendiri. Jangan merasa mahal untuk dapat melihat Papua. Banyak jalan banyak cara. Papua itu indah. Papua itu menawan. Setidaknya satu kali saja dalam hidupmu pergilah ke Papua dan merasakan pengalaman terhubung dengan alam secara utuh.













