Day three : Morning Routine
Hansung’s morning routine is to face an early death by teasing Eduan-nim.
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Saudi Arabia
seen from Germany

seen from United States

seen from Singapore
seen from Italy
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Kuwait
seen from United States
seen from Poland

seen from Italy
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Türkiye

seen from United States
Day three : Morning Routine
Hansung’s morning routine is to face an early death by teasing Eduan-nim.
are you telling me you ship both the daddy and the son with the coffee addict?????
mmmyeesss??noo?? HELL YEAH.
Also thanks anon you just gave me an idea for a prompt from my February challenge.
Eduan : son of a B-Aguero : sAY IT.Hansung : (help.)
expect the finished version somewhere around this month~
Karena yang Dikara Belum Tentu Nyata
Kepada dua buah benua yang saling memanggil namun tidak pernah bersemi
Mengharap angin ditiup ombak agar lekas bertemu, benarkan semua luka yang terjadi
Kepada dua buah benua yang berada di bawah, kau mencium lautan
Entah mengapa aku tulis bait-bait ini, kadang kalau malam hari tiba kamu melintas tanpa visa dan aturan
Mungkin ini salahmu mengatakan inginku kembali berjalan di atas tanahmu, oh benuaku tapi kamu tidak pernah sedikitpun miliku.
Padahal tanpa ditanyapun aku pasti milikmu, ditawarkan tanah sejuta rasa dan warna, aku tetap mau berlayar ke benuamu.
Lalu aku yang pernah mendamba dan berharap untuk menghirup udara yang sama dengan kau
Oh dua buah benua yang salling memanggil namun hanya tetap bergeming
Kala waktu berbeda, karena mataharimu dan matahariku dibagi untuk seluruh umat
Aku tidak merindu karena janjiku untuk tutup perbatasanku, aku tidak melemah karena tidak akan lagi aku ulang menjadi lemah dan payah di hadapanmu
Satu waktu kuingin melangkah menyelaraskan derapku denganmu, getirku berharap sampai pecah dan bergulir itu bola-bola air mata
Kubilang di mukanya, kenapa?! KENAPA TIDAK ADIL? Walau dia kembali bertanya padaku apakah tujuanku, apa yang membuatku ingin meloncati jurang sebrang benua.
aku tidak bisa menjawab lelap sudah penduduk benua ini oleh histeria yang memekik. Tak sanggup aku bilang kalau itu semua karena aku ingin menjawab panggilan benuamu yang satu waktu menjadi keras.
Aku tidak bisa menyalahkanmu untuk menyalakan api-api yang ada toh aku yang sediakan sumbunya, dan binatang itu yang sediakan bensinnya. Tahu benar dia bahwa bensin itu mudah terbakar.
Lalu panggilanmu menjadi sayup, aku mulai kembali hidup.
Satu, dua, tiga kali benuamu berpindah aku harap untuk selamanya. Waktu itu aku memandang sekali lagi dengan yakin, tidak lagi, tidak kalau kamu alasannya untuk menjawab pangilannya lebih baik aku terendam air payau.
Malam itu aku sendiri, karena aku penyendiri. Halo, manis, sudah aku geser axisku aku kembali, kali ini aku benar memanggilmu bukan harap palsu atau lonceng semu atas bosanku.
Gila memang kamu ya, hati ini bukan dam, bukan asal dibuka banjir segalanya.
Aku sudah dewasa sekarang, lebih tua dari anggur yang pekat. Kesukaan semua orang tapi tidak mampu didapat.
Basa basi tidak memanggil sampai kau bilang, biar aku datang ke benuamu kali ini. Kutemani kau seperti angan waktu kita dipisah laut dan kamu yang naïf.
Kala kau bicara, kau sudah lebih dewasa sekarang, tanah benuamu tua dan sudah melihat segalanya. Katamu waktu itu sempat ditanami dan diberi pupuk, aku sudah tidak bertanah merah lagi, cantik.
Kusebut saja benuamu itu, manis, sebagai benua terindah yang pernah aku lihat, rasakan, indahkan.
Menelan ludah aku terperanjak, yang seperti ini lah yang kutakuti darimu.
Aku bersyukur akarku ini tidak mampu menafsirkan yang tersurat, jangankan mengeja, membacapun tak sudi kali ya. Ah apalagi kumpulan kata-kata diberantakan diubah artinya jadi emosi.
Katanya kalau mau tahu pohon yang kuat kau cabut akarnya, walau mungkin hanya serabut tapi namanya akar member kehidupan.
Pindah benua saja, aku menerimamu apa adanya.
Kali ini, mungkin, apabila diberi kesempatan aku akan melangkah ke benuamu, bukan untukmu atau panggilan kosong.
Kamu menjemukan.
Dua buah benua saling memanggil, namun kali ini aku tidak menyaut, karena yang dikara belum tentu nyata.