Edisi Hari : #4 Membawa Hari dan Membawa diri
Pagi ini matahari cerah namun tidak panas, hanya hangat. Sudah memasuki 10 hari terakhir dan tidak ada perubahan soal ramai di stasiun besar sudirman. Seluruh orang berebut berjalan, dorong tarik, sikut untuk berlari keluar dari kereta listrik ibu kota dan pindah peron untuk menunju tempat pialang rezeki, mengumpulkan rahmat Allah yang disebar di seluruh muka bumi.
Biasanya di pagi hari, aku akan memilih bermalas-malasan di sekitaran bendungan hilir karna aku tau Nadim Makarim dan perusahaannya bsia menyelamatkan ku untuk datang ke kantor tepat waktu, atau setidaknya tepat sebelum ramai orang lain duduk di kursi dan mejanya. Santai
Namun kali ini setidaknya aku menghabiskan 4800 detiku untuk menaiki kereta dan berpindah dari satu peron ke peron lain, ditambah bertanya pada bapak berseragam penjaga keamanan (?) mengenai mana jalur menuju wilayah sudirman tamrin, sambil tentu saja memegang hp untuk mengabadikan momen ketika seluruh kepala seperti segerombolan permen cicak yang diterpa matahari pagi. Hangat, Seru dan entahlah, seperti membawa hari masing-masing
Jika sudah bercerita pada mama mengenai riyuh, seru dan menantangnya tinggal dirumah bude dan merasakan bolak-balik ke kantor, maka nasihat yang dikirimkan hanyalah
“Baik-baik membawa diri ya”
Aku terdiam, biasanya seorang ibu akan menyarankan untuk menjaga diri untuk anak perempuannya, namun kali ini, mama menekankan soal membawa diri. Seperti lebih dalam dan lebih bermakna. Karena dunia penuh arus, karena dunia seperti sungai deras dan banyak batu dan kerikil tajam di depan, atau bahkan disamping? Di bawah?
Membawa diri lebih dimaksudkan pada pintar memposisikan diri, memaknai bagaiman lingkungan dan adab yang ditegakan serta menyambut segala arus denganlhai bergerak, bukan menahan dan bertarung seperti benteng waduk yang kuat pondasinya, namun menjadi ikan yang lihai dimanapun, dengan menjadi yang baik walau arus menerpa. Aku tidak pernah mengetahui ada ikan begitu terluka hingga mati hanya karena diterpa ombak.
Mungkin seperti, menjaga diri adalah kata kerja aktif dengan posisi statis, dimana kamu bisa terus menjaga dirimu dengan berdiam diri dan memegang tameng bahkan dimanapun dan kapanpun.
NamunMembawa diri adalah soal memilih kemana langkah kamu tapaki, peron kereta mana yang kamu ambil, hingga di stasiun mana kamu akan turun.
Membawa diri adalah kata kerja aktif, dengan posisi dimanis tiap saat tiap waktu.
Membawa diri menunju yang lebih haqiqi. Semata-mata beribadah kepada Yang Kuasa.
Membawa diri menuju sebuah niat yang lebih haqiqi yaitu merealisasikannya.
Membawa diri menunju sebuah cara yang lebih manusiawi yaitu menjadi manusia sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat untuk dunia dan sekitarnya.
Entahlah, lebih dari pada antara kita dengan diri dan keselamatan namun juga menyentuh soal kenyamanan yang lain akan keberadaan kita. Romantisme makhluk sosial ditengah perjuangan yang dibawa tiap personal. Membawa diri dengan perjuangan masing-masing dan lihal bermain dengan arus kehidupan.
(bukan hanya arus manusia ya bejubel di kereta listrik pukul 7 pagi dari/ke stasiun tanah abang)
Hari berjuang adalah soal membawa hari dan membawa diri
Dan tiap hari adalah Hari Perjuangan masing-masing hamba pada dunia dan akhiratnya. Bawa Harimu dengan sebuah niat yang lebih Abadi dan cara yang manusiawi
Doa Terhangat
Agar menjadi lebih baik kita semua ditiap harinya
Tiara













