Mencari Teman ke Surga
Judul ini aku temukan di El-Asyi, sebuah majalah mahasiswa Aceh di Mesir. Di kolom ini mereka mengajukan beberapa pertanyaan terkait pernikahan ke beberapa senior yang sudah menikah.
Namun, ketika membaca jawaban-jawabannya, aku merasa kurang puas. Jawaban mereka terlalu klise. Tak ada sesuatu yang baru atau prespektif lain. Maka, sambil berkhayal diwawancarai dengan pertanyaan-pertanyaan itu, aku akan coba mengajukan jawaban dari prespektif lain:
1- Menurut Anda bagaimana cara kita memilih pasangan yang benar dan tepat?
Pertama kali kita harus tahu dulu tujuan menikah. Karena kriteria tergantung tujuan. Nah, menurut saya tujuan menikah itu dua:
Pertama, untuk diri kita sendiri.
Kedua, untuk keturunan kita.
Tujuan pertama berarti tujuan fitrah manusia yaitu kebutuhan biologis dan psikis. Maka, carilah yang nyaman Anda pandang (paras). Kemudian carilah yang karakter sesuai dengan Anda.
Saya tidak ingin munafik ketika mengatakan carilah menurut paras dahulu, baru yang lain. Karena salah satu tujuan menikah memang ini kan? Buktinya nabi bersabda yang artinya,
“wahai pemuda, barangsiapa yang sudah siap, maka menikahlah! Karena itu lebih membantu untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.”
Kemudian, setelah itu carilah karakternya sesuai dengan Anda. Dan ini menurutku alasan terbesar manusia menikah yaitu menemani jiwa yang sepi. Bukankah Hawa diciptakan lantaran Adam merasakan sepi? Padahal ia hidup dalam kenikmatan surga...
Tujuan kedua berarti tujuan peradaban. Saya sebut peradaban karena narasi yang harus dibawa memang harus sebesar dan semuluk itu. Mencari pasangan berarti mencari orang yang Anda ingin membangun peradaban bersamanya. Kualitas lahan dan bibit berbanding lurus dengan hasil panen. Kebaikan orangtua menentukan kebaikan keturunan. Persis seperti pepatah,
“apel jatuh tak jauh dari pohonnya”
Berbicara peradaban berarti berbicara aktor-aktornya yaitu manusia. Ketika berbicara tentang manusia, maka takkan lepas dari pendidikan. Dan pendidikan menyasar dua hal inti pada manusia: kognitif dan afektif.
Perlu diingat bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Pendidikan dari orangtua lah yang membentuk alam bawah sadar anak. Maka, ketika memilih pasangan, kualitas pendidikan (kognitif dan afektif) pasangan termasuk jadi pertimbangan penting.
Saya tidak bilang setiap sarjana sudah pasti berpendidkan. Ini dia masalahnya, kita temukan tak semua sarjana yang mampu berpikir kritis, logis, rasional. Atau tak semua sarjana punya keterbukaan pikiran dan kerendahan hati. Entah itu masalah sistem pendidikan kita yang bobrok atau gimana, yang pasti gelar sarjana tak menjamin seorang berpendidikan.
Ketika mencari pasangan, carilah pasangan yang berpendidikan. Artinya, dia memiliki kualitas kognitif dan afektif yang bagus. Kualitas kognitif seperti kemampuan verbal, kemampuan berpikir logis, sistematis, kritis dan problem solving. Kemudian, kualitas afektif seperti keterbukaan pikiran, kerendahan hati, disiplin, ulet.
Gimana cara mengetahuinya? Salah satu cara yang saya temukan adalah dengan melihat jurusan, asal kampus, riwayat organisasi dan nilainya di kuliah. Pokoknya gimana kondisi dia di kampus.
Seperti nge-hire calon karyawan bukan? Ya, mau gimana lagi, kita tidak bisa menilai kecuali dari zahir. Kita takkan sanggup untuk merasakan dulu hidup beberapa tahun dengan setiap manusia di dunia ini (baca:pacaran) agar mengetahui kepribadiannya. Bahkan, orang yang sudah pacaran enam tahun aja, ketika menikah mereka mengaku masih sering terkejut dengan perilaku pasangan mereka yang baru mereka temukan ketika menikah.
Akhirnya usaha terjauh adalah menilainya secara zahir. Misal, nilai IPK di kampus biasanya menunjukkan seberapa baik sifat tanggung jawab dan disiplin seseorang. Di sini kita sudah bisa nilai afektifnya. Tapi, nilai sering ga menunjukkan kualitas kognitif seseorang.
2- Mengapa Anda memutuskan menikah?
Karena saya belum menikah maka pertanyaannya akan saya ubah sedikit menjadi:
Kenapa Anda menikah? Dan apa yang membuat Anda akhirnya memustuskan untuk menikah?
Dulu saya pikir menikah hanya akan menambah beban. Karena kalau bisa hidup sendiri kenapa harus menikah? Menikah menurutku hanya menambah masalah baru dalam hidup. Bayangkan saja, masalah Anda sendiri aja belum beres, trus mau nambah masalah baru!?
Tapi, baru-baru ini saya menyadari bahwa jiwa secara fitrah membutuhkan pendamping. Bahkan hal ini saya rasakan ketika masalah hidup semakin berat. Saya merasa butuh pada seorang yang pelukannya menghilangkan ketakutan. Tatapannya meneduhkan hati yang gelisah. Saya ingin hidup ini dijalani berdua. Kata pepatah, “jika engkau hendak menempuh perjalanan pendek, maka pergilah sendirian. Namun, jika perjalanan panjang, maka pergilah bersama!”
Tapi, hal yang membuat saya akhirnya memutuskan unutk menikah belum terpenuhi. Yaitu berupa kematangan mental dan finansial. Dua hal ini menurut saya harus terpenuhi bagi seorang yang ingin menikah.
3- Apa yang membuat Anda yakin dengan pasangan Anda?
Kalau sudah terpenuhi kriteria yang saya sebut sebelumnya.
4- Apa visi misi Anda menikah?
Seperti yang saya sebut sebelumnya, visi menikah ada dua yaitu visi pribadi dan visi peradaban.
Visi pribadi adalah untuk memenuhi kebutuhan biologis dan psikis. Sedangkan visi peradaban adalah untuk melahirkan keturanan yang berpendidikan.
5- Bagaimana cara Anda memelihara dan menjaga pernikahan hingga ke surga?
Rumah tangga langgeng karena adanya jalinan komunikaasi yang baik antar pasangan, saling memahami dan mampu meredam ego masing-masing.
Sebenarnya, dalam hubungan apapun itu, baik persahabatan, pertemanan, pernikahan atau bahkan hubungan antar komunitas, ada satu hal yang menjamin sekaligus menghancurkan hubungan. Yaitu kemampuan mengatur ego. Pertengkaran dan perselisihan selalu bermula dari salah satu atau kedua pihak memaksakan egonya. Tidak ingin memahami sudut pandang lain. Inilah yang membuat suatu hubungan retak.
Sebaliknya, ketika masing-masing pihak mampu mengendalikan egonya dan berusaha memahami pihak lain, maka suatu hubungan akan terjaga.
6- Apa yang harus dilakukan jika belum menemukan teman ke surga?
Seperti yang dikatakan ustzh. Mutzatul Armi, Lc bahwa boleh jadi pintu-pintu kebaikan lebih banyak terbuka sebelum, sesudah atau tanpa pernikahan. Aku setuju dengan beliau. Pasti ada beberapa kondisi kita berubah 180o . Seperti pembagian waktu, pikiran, tenaga dan keuangan.
Ada banyak hal yang bisa kita lakukan ketika sudah menikah yang tidak bisa kita lakukan saat sebelum menikah. Begitu juga banyak hal yang bisa kita lakukan di saat sebelum menikah yang mungkin di saat menikah Kita ga bisa lagi melakukannya. Jadi, manfaatkan masa jomblo Anda sebaik-baiknya!
Di saat jomblo ini kita bisa mempertaruhkan segalanya tanpa dibayangi ketakutan. Eksplorasi hal-hal baru, Keluar dari zona nyaman dan lain-lain. Berbeda ketika sudah menikah nanti. Kita sudah punya tanggung jawab terhadap orang lain. Ada hidup orang yang bergantung dengan hidup kita. Setelah menikah kita pasti ga bisa seenaknya keluar dari comfort zone. Malah kita berusaha gimana hidup selalu dalam comfort zone. Daerah-daerah eksplorasi kita menjadi terbatas ketika sudah menikah.
Kairo, 26 April 2021












