Apa itu cinta, tanyaku pada waktu,
Adakah ia hakikat, atau sekadar ilusi semu?
Plato menyebutnya bayang-bayang di gua,
Namun hatiku berkata, ia lebih nyata.
Cinta adalah dialektika jiwa,
Pertemuan dua yang berbeda, menuju satu makna.
Aristoteles memanggilnya kebajikan tertinggi,
Namun siapa tahu, ia juga pedih tak terperi.
Sartre berkata, cinta adalah kebebasan,
Tapi mengapa ia sering menjadi penjara perasaan?
Nietzsche mengingatkan, cinta adalah kehendak untuk kuasa,
Namun di sini, aku hanya tunduk tanpa asa.
Di ujung perenungan, aku temukan jawab,
Cinta bukanlah soal logika yang tajam menusuk.
Ia hadir sebagai paradoks yang abadi,
Antara kebahagiaan dan luka hati.
Maka wahai jiwa, cintailah dengan bijak,
Bukan untuk memiliki, tapi untuk menghidupkan makna yang kelak.
Karena cinta sejati tak butuh alasan,
Ia adalah keberadaan, keindahan, dan tujuan.