Lima Menit Di Depan Patung Mahatma Ghandi
Cerita yang satu ini terjadinya waktu aku masih nyangkut di negeri orang pas masih muda dulu *elus-elus jenggot*
Di weekend minggu kedua bulan September, aku berkesempatan menghabiskan akhir pekan di Washington D. C . dalam rangka ikutan acara 9/11 Unity Walk bersama beberapa exchange student lain. Selesai acara, aku diberi waktu 5 menit sebelum kami semua pulang ke Virginia buat jalan-jalan dulu di Mahatma Gandhi Memorial Park yang masih berada di sekitar Massachusetts Avenue. Lah, kenapa cuma 5 menit? Well, sebenernya ini keinginan Pradnya, salah satu temenku yang aslinya emang orang India, untuk jalan sebentar ke sana. Karena aku juga mau, pada akhirnya aku gak sengaja ikut. Gak sengaja karena awalnya aku nggak tahu Pradnya mau ngibrit ke mana, tahu-tahu dia udah naik ke dalem mobil dan aku dengan impulsifnya ngintilin dari belakang.
Berniat ngasih makan piaraan (baca: kamera), aku ikutan masuk ke dalam mobil dan dibawa ke Gandhi Memorial oleh salah satu pasangan suami istri dari gereja tempat kami singgah. Nggak nyampe sepuluh menit, kami akhirnya mendarat di Gandhi Memorial dengan selamat. Pradnya yang udah diselubungi rasa antusias tingkat nyenggol atep sibuk ambil foto sana-sini. Aku duduk di depan patung Gandhi, minta Pradnya foto aku sekali, trus nungguin dengan kalem dan budiman.
*JEPRET!*
Saat itu, aku nggak sadar seseorang sudah ngamatin aku dari tadi, dan pada akhirnya dia menyapa.
"Hey, are you Indonesian?"
Cengo. Aku nolehin kepala ke seorang wanita berambut pirang yang usianya kutebak sekitar akhir 20 tahunan atau awal 30 tahunan. Aku cuman ngangguk dan menjawab dengan nada heran, "How do you know?" Dan anehnya, si Nona ini cuma senyum misterius. Kemudian jawaban dia selanjutnya bikin rahang bawahku ketarik gravitasi bumi.
"Saya sudah pernah ke Indonesia sekitar 10 tahun yang lalu. Saya mengunjungi Bali."
Wah, ini surprise banget! Iya bruh, di tengah ibukota negara segede Amrik begini malah ketemu bule yang sengaja nyamperin dan ngajak ngobrol pake bahasa Indonesia. Gimana nggak mangap?
Aku ngangguk dengan antusias dan nanya apa dia bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, dan dia jawab dia bisa sedikit-sedikit. Aku tebak, mungkin dia nyangka aku orang Indonesia karena waktu itu aku lagi pake jilbab motif batik. Obrolan kami lalu berlanjut. Aku langsung menjelaskan kalau aku exchange student dan tinggal di Virginia selama tahun akademik ini. Dia excited, lalu memperkenalkan diri dengan nama Sarah. Aku, yang udah gatel pengen buka obrolan panjang dan banyak dengan Sarah, ikut memperkenalkan diri sendiri. Tapi waktu yang kupunya kurang dari 5 menit. Sebelum maghrib tiba, rombongan kami harus segera meninggalkan DC kalo ga mau telat nyampe di Virginia. Di saat terakhir itu, Sarah senyum lagi dan lanjut ngomong dengan bahasa Indonesia terbata-bata, lengkap dengan logat bulenya.
"Saya suka dengan negara kamu." Dia menjeda kalimat. "Negara kamu cantik."
And I smiled, widely, from ears to ears.
Program intercultural exchange yang mengantarkanku ke negara ini membuatku mengemban beberapa ‘misi’, salah satunya adalah memperkenalkan Indonesia. Setelah menemui beberapa orang yang tak tertarik sama sekali dengan tanah air, di tengah kebingungan karena semangat yang naik turun, atau kekhawatiran segala sesuatu akan menjadi lebih buruk lagi, mendengar kalimat itu keluar dari bibir orang asing di negara asing, euh, rasanya seperti diperciki air di muka pas lagi ngantuk. Segeeeerr!
Aku terbata-bata bilang terima kasih. Sebelum pada akhirnya Pradnya datang dan bilang kami harus kembali ke gereja tempat kami singgah. Rasanya badanku udah lengket dan nempel ke bangku batu itu, tapi aku harus pulang sekarang. Dengan berat hati, kujelaskan situasiku sekalian pamit ke Sarah. Aku berdiri dan berjalan ke arah mobil, lalu melambai ke arahnya. Rasanya ada sebuah kebanggaan membuncah di dalam dada, kebanggaan kecil pada tanah air yang membuatku senyam-senyum sepanjang perjalanan pulang.
Ah, mengutip salah satu kalimat Kak Jenny Jusuf yang paling kusuka di buku Eat Play Leave,
Lucu rasanya, betapa patriotisme justru bisa timbul setelah bergaul dengan orang-orang asing, yang terang kulitnya berbeda, bola matanya tak sewarna, yang di nadinya tak mengalir darah Indonesia, tetapi punya cinta yang sama. Indonesia adalah Ibu Pertiwi yang mengadopsi banyak anak, dan mereka semua mencintainya sama besar.
Lucu juga rasanya, rasa bangga jadi salah satu anak Ibu Pertiwi justru bertambah saat aku berada jauh sekali dari tanah air, di negeri asing yang letaknya ribuan kilometer dari rumah, di negara adidaya besar tempatku membawa nama Indonesia dan kelak memperkenalkannya ke banyak orang. Dan rasa itu terpancing muncul karena ucapan tulus dari seorang asing yang meninggalkan sepotong hatinya di Indonesia, bertahun-tahun yang lalu.
Membaca Eat Play Leave mengingatkanku bahwa Sarah mungkin adalah salah satu dari sekian banyak anak adopsi Ibu Pertiwi, yang meskipun nadinya tak dialiri darah Indonesia, namun tetap mencintainya seperti ia mencintai ‘ibu’ kandungnya sendiri. Perasaan banggaku lalu campur aduk jadi sedikit malu, karena rasa bangga jadi bagian dari Indonesia itu harus diingatkan dulu dari percakapan dengan orang asing, yang tentunya tak akan kualami seandainya tadi aku tidak iseng mengintili Pradnya mendatangi tempat ini.
Lima menit di depan patung Mahatma Ghandi itu terasa begitu singkat, namun rasanya sudah memberiku banyak hal untuk diingat.
***
Kutipan yang kucomot di atas cuma salah satu dari sekian banyak cerita inspiratif yang dihadirkan Kek Jenny Jusuf di buku Eat Play Leave, yang memuat cerita-cerita warna-warni berdasarkan pengalaman sang penulis saat tinggal di Ubud, Bali. Masih ada sebelas cerita lain yang berhasil bikin aku gemes, ikutan sebel, geleng-geleng kepala, sampe pengen nepok jidat bule yang lagi diceritain. If this book was a ride, it was an enjoyable and fun ride! Gih, buktiin sendiri dengan baca kisah-kisah lainnya, siapa tahu selain terinspirasi kamu juga bisa jadi tambah cinta Indonesia :D










