Bagaimana nama “Indonesia” ditemukan dan ditampilkan dalam puisi untuk pertama kalinya? Adakah hubungan puisi dengan reformasi? Apa pula kaitan fiksi dan sejarah? Mengapa kajian budaya dipandang sebagai ancaman terhadap kritik sastra? Lantas bagaimana Firman Montaco menggambarkan orang betawi dalam karya-karyanya? Cukup beranikah pengarang kita menggambarkan nafsu berahi dalam karya mereka? Cerita silat itu masuk karya sastra atau bukan, ya? Bagaimana pula teater realis kita membawa bahasa Indonesia ke atas panggung? Lalu apa sumbangsih Utuy Tatang Sontani untuk teater kita hari ini? Soal-soai itu –dan soal-soal lain yang tidak kalah penting– dicoba diskusikan dan sebisa mungkin dijawab oleh Zen Hae dalam buku kumpulan esainya ini. Serangkaian pembicaraan yang bergerak dari tinjauan umum, sapuan-sapuan besar, ke pembahasan yang lebih terperinci, sebagai kritik sastra dan teater. Serangkaian pembacaan kritis –terkadang dengan selipan humor– terhadap karya sastra dan teater Indonesia mutakhir dan pendahulu mereka, dengan berupaya mengaitkan dinamika kepengarangan di Indonesia dengan arus yang bergerak di sekitarnya –bahkan arus dunia. @hae.zen, Sembilan Lima Empat, Kritik Sastra dan Teater, Yogyakarta, Penerbit JBS, Juli 2021, 298 hlm, 90.000 ISBN: 978-623-7904-36-6 #zenhae #sembilanlimaempat #esai #EsaiSastra #esaiteater #penerbitjbs #bukusastra #kritiksastra #SastraIndonesia #penerbitindie (di Jual Buku Sastra-JBS) https://www.instagram.com/p/CecZIzqhQKo/?igshid=NGJjMDIxMWI=

















