Eufimisme atau eufemisme adalah ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dianggap kasar. Eufimisme sering disebut juga dengan penghalusan kata. Dalam satra Indonesia, Eufimisme termasuk ke dalam majas /gaya bahasa perbandingan (sekelompok dengan majas metafora, personifikasi, alegori, hiperbola, alusio, dll.). Di Indonesia, eufimisme berkembang dari zaman ke zaman menjadi sebuah folkways. Orang-orang yang tidak menggunakan ‘eufimisme’ dalam gaya bahasanya seringkali mendapat stigma tertentu dan dianggap sebagai orang yang ‘ceplas-ceplos’. Contoh eufimisme di Indonesia, misalnya, “Bantuan Siswa Miskin” diganti dengan “Bantuan Siswa Kurang Mampu”. Meskipun memiliki arti yang sama, kata ganti “kurang mampu” rasanya lebih sopan dibandingkan dengan kata “miskin”. Atau “Dia telah meniggal” diganti dengan “Dia telah pergi mendahului kita“. Bagaimana? Mungkin bagi sebagian orang hal seperti ini bukan hal penting. Namun perlu diingat, salah satu tujuan penghalusan kata ini bukan lain adalah untuk menjaga perasaan lawan bicara kita. (Sin)