Teman Imaji adalah sebuah film pecah tentang anak kota hujan bernama Kica yang digambarkan sebagai gadis dengan pemikiran-pemikiran ajaib dengan banyak sebutan unik khasnya, mulai dari baju kejujuran, kotatsu, hingga janji pelaut. Diceritakan dalam sudut pandang orang ketiga membuat pembaca dapat melihat tiap karakter secara luas. Meskipun demikian Mutia Prawitasari (@prawitamutia) tetap memfokuskan inti cerita pada karakter utama dan berhasil membawa saya, sebagai pembaca, ikut ke dalam dunianya. Semua terasa nyata, tidak hanya fiksi belaka.
Keseluruhan isinya menggambarkan tentang hujan yang dikemas dalam permainan kata yang indah diiringi lagu-lagu ciptaan Kica hingga tiap pembacanya tidak ingin cepat-cepat berpindah ke halaman selanjutnya. Bahkan daftar isinya saja sangat unik, menggambarkan tentang hujan di tiap-tiap bulan. Tiap bagian cerita tidak terlalu panjang tapi saling berkaitan dengan alur campuran, membuat pembaca tidak mudah bosan. Banyak kalimat yang memunculkan berbagai persepsi dan sering saya temui kalimat yang sulit dimengerti. Di situlah tantangannya. Pembaca diajak mengartikan dan memahaminya sendiri, hal inilah yang membuat beberapa kalimat perlu dibaca dua kali. Tapi itu semua terbayarkan dengan banyaknya kuliah kehidupan yang dapat diambil di dalamnya. Ditulis dengan bahasa informal namun tetap terkesan indah dan elegan, meskipun ditemukan beberapa kesalahan ketik tapi tidak mengurangi esensi cerita.
Semua tokoh menjadi favorit saya, sulit untuk memilih. Rasya yang menjadi figur kakak perempuan yang ideal. Adit yang menjadi malaikat pelindung dan penghibur yang selalu ada kapan pun bagi Kica, dan Banyu yang selalu memahami bahkan apa yang tidak Kica sendiri mengerti. Kisah cinta romantis yang mengutamakan Tuhan di atas segalanya dan selalu menjujung tinggi peran orang tua di setiap langkah mereka membuat buku ini sangat perlu dibaca para remaja supaya tidak terjerumus dalam dunia perpacaran yang tidak sehat.
Selain kutipan yang saya tulis bersama dengan foto di bawah, ada beberapa quote lagi yang mengetuk hati saya, begini bunyinya
Lupa itu wajar, melupakan itu jahat
Kebenaran tak bisa hilang, kejujuran selalu menang
Boleh tenggelam, tapi jangan terhanyut. Nanti sulit kembali
dan yang ini wajib dibaca, diresapi, dan kalau perlu dijadikan wallpaper oleh remaja yang susah move on ataupun yang sering galau
Cinta yang paling baik adalah cinta yang secukupnya. Bukan untuk tetap mendekap orang yang kau cintai dalam pelukan tanpa tersakiti. Cinta yang cukup adalah untukmu sendiri. Supaya jika cintamu pergi, kau tidak terlalu patah hati. Supaya jika ternyata cintamu sejati, kau dan dia akan bersama menikmati.
Satu yang ingin saya baca, common place-nya Kica! Andaikan memang ada dan boleh. (:
Setelah ini, saya ingin mendengar musikalisasi dari Teman Imaji sambil membaca. Semoga makin hidup ceritanya.
Selamat me-nik-ma-ti!
Reviewed by @evajelista
Rating : 5 of 5 stars
Data buku dan review pembaca lain dapat dibaca di sini