Sejak dulu dia memang tak pernah terlihat peduli.
Getar notifikasi Whatsapp diponselku. Ada satu pesan masuk. Eh, ternyata dari dia. Aku memanggilnya, Mas Kafa. Ka-fa-bi-hi.
“Ara, kamu bisa bantuin saya? Saya sedang butuh bantuan."
"Saya ada tugas Reliability. Ada lima soal yang harus saya selesaikan. But, im freez. Sepertinya kepala saya sudah tertahan. Kamu sudah expert materi ini, kan? Bisa minta tolong bantuin mengerjakan? Nanti minta penjelasan sekalian via telepon. Bagaimana?"
Duh, lagi pusing berat nih, Mas. Nggg. Tapi, gapapa deh. Kapan lagi aku bisa bantuin kamu, Mas? Hehehe.
Kemudian dia mengirim foto-foto tugasnya. Satu persatu.
"Nanti malam ya. Sekalian ngerjain tugasku yang lain. Sekarang aku mau istirahat dulu. Pilek berat. Pusing. Demam."
Hah? Gitu aja? Iya... Sejak dulu dia memang tak pernah terlihat peduli.
Aku menutup ponsel dengan muka terlipat. Dia selalu begitu, terlihat tidak peduli. Bahkan ketika aku demam seperti ini. Kadang aku bertanya, kenapa aku masih saja menaruh rasa kepadanya? Yang jelas-jelas tidak mau tau semuanya tentang aku? Yang sejak dulu tak pernah menampakkan sama sekali kepedulian. Yang sejak dulu selalu bersikap dingin dan acuh tak acuh. Kenapa? Hah?
Toh seandainya dia peduli sama aku, paling bakal bilang, “Nggak usah manja! Latihan menguji mentalitas diri. Beli obat sendiri dong!”
Hafal. Aku sampai sebegitu hafal dengan sikap-sikap khasnya. Ah, sudahlah.
Aku menepuk angin di depan muka.
Kubuka ponselku kembali. Mengetik pesan lagi,"Nanti malem ambil saja sekitar jam setengah sembilan. Aku titipin Pak Man. Biasanya jam segitu beliau masih jaga di gerbang kost,"
Setelah agak reda pusingku, aku mulai mengerjakan tugasnya. Juga tugasku sendiri untuk besok.
Beberapa menit terlewat. Kepalaku mulai pening lagi. Duh, padahal baru menyelesaikan satu nomor. Yaudahlah, ya. Tak ada jalan lain selain: aku memutuskan untuk tidur lagi karena semakin parah peningnya. Aku tak sempat makan, tak sempat ke kamar mandi, tak membuka ponsel samasekali. Kalau sakit seperti ini, seolah semuanya tidak berarti kecuali kesehatan. Kapok, deh, nyepelein penyakit flu. Ternyata flu saja bikin produktifitas menurun drastis.
“Aku selesaiin abis ini deh.” Gumamku sambil menutup buku-buku.
Aku merebahkan diri diatas kasur. Kupejamkan mata. Tidak bisa tidur. Kumembuka mata kembali. Menatap kosong langit-langit kamar. Air-air tak jelas mulai tertahan pada binar mataku. Kemudian tumpah. Terbawa perasaan. Berandai-andai. Pikiran meliar. Andai dirumah, mamah pasti sudah beliin obat. Diambilin makan. Dibelai-belai rambutnya. Didoain supaya cepat sembuh. Huhuhu. Disini kosong, tak pernah ada yang benar-benar peduli. Hanya mamah yang peduli.
Pun dia. Sejak dulu dia memang tak pernah terlihat peduli.
Pukul setengah sembilan malam tiba-tiba, "Mbak Ara, dapet titipan dari Pak Man," Seorang teman kamar lain menyodorkan kresek putih berisi sesuatu.
Karena penasaran, aku segera membuka tas kresek putih itu. Ada sepaket obat. Ada sebungkus nasi padang. Ada sebotol susu penambah daya tahan tubuh dan sebotol air mineral. Ada sekotak tisu. Terakhir, ada sesobek kertas coklat bertinta merah menyembul dari dasar kresek bertuliskan seperti ini:
Yang tablet warna silver obat demam sama pusing, diminum sehari tiga kali. Yang tablet warna kuning obat pilek. Juga diminum sehari tiga kali. Sebelum diminum, makan dulu nasinya. Terus tisunya buat lap ingusmu. Pasti mbeler terus, kan? Hahaha. Cepat sembuh, ya.
Aku tidak mampu menahan lagi air-air tak jelas dari mata. Menetes lembut pada pipi tembamku. Ternyata ada yang masih mempedulikanku ditengah lautan manusia yang mengandalkan keegoisan-keegoisannya sendiri. Ternyata ada yang masih mau memahamiku disaat aku merasa tak ada satupun yang mempedulikanku. Ada.
Aku membuka ponselku. Niatnya ingin berterimakasih banyak-banyak ke dia. Eh, ternyata ada pop-up pesan Whatsapp darinya. Dikirim barusan tadi waktu pukul delapan lewat beberapa menit. Sebelum ada titipan kresek putih dari Pak Man.
"Nggak usah ngerjain tugas saya. Biar saya sendiri yang ngerjain. Mudah-mudahan saya bisa. Saya tau kamu pening. Istirahat gih."
Sesegera mungkin kubalas pesannya.
"Beneran Mas? Hahaha. Terimakasih, ya. Peningnya sudah agak mendingan kok.” Aku berusaha menghibur diri sendiri. Dan entah kenapa semangatku tiba-tiba melesat drastis. Tiba-tiba saja aku senyum.Tiba-tiba saja perasaanku bahagia.
Tuhkan. Perempuan mudah sekali diganti perasaannya, ya?
"Oh iya, kata mbak-mbak apotek tadi, kamu tidak boleh makan gorengan sama minum es dulu. Kan pilek,"
Aku benar-benar tidak mampu menahan air-air tak jelas ini lagi.
"Oh iya. Eskrimnya ditunda dulu, kamu sembuh dulu aja."
Eh. Ternyata Mas Kafa masih ingat. Kukira lupa.
Tumpah. Air air tak jelas dimata tumpah lagi untuk yang kesekian kalinya.
Kini aku tau, dia peduli.
Lima hari setelah kejadian ini. Aku membuka akun twitterku--yang dari dulu memang jarang-jarang kubuka. Seperti biasa. Hal pertama yang kulakukan adalah membuka timeline twitternya. Membaca kicauan-kicauannya--yang walaupun isinya kebanyakan catatan-catatan kampus yang tak kupahami maksudnya. Sejauh ini, ia belum tau kalau ternyata salah satu followernya adalah aku. Yang memakai nama lain. Hahaha.
Sekrol-sekrol-sekrol. Hey, ada tiga kicauan terpencil yang membuatku merasa nggg... GR. Tertanggal tepat setelah aku dititipi obat dan makanan sama dia.
“Dingin bukan berarti tak ingin, Nona.”
“Ada yang diam-diam bahagia disebabkan karena kehadiranmu disaat kamu merasa tidak ada satupun yang mempedulikanmu.”
Buru-buru aku menutup laptopku. Lalu menggigit bibir.
Aduh, bagaimana ini? Mas Kafa benar-benar peduli, ya, ternyata?
Cerpen ini ditulis untuk memenuhi tugas dari Kak @prawitamutia pada Kelas Menulis Literaturia, 15 September 2016 yang lalu di Surabaya.