2022 Apr 22 - This Pin was created by Jumal Ahmad | Blogger Indonesi on Pinterest. Pemandangan sekitar rumah di #exploreprampelan

seen from United States
seen from T1

seen from United States

seen from United States

seen from Brazil

seen from Ukraine
seen from United States
seen from Thailand
seen from France
seen from Türkiye
seen from France
seen from China
seen from China
seen from China
seen from Hong Kong SAR China

seen from China
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Israel
seen from United States
2022 Apr 22 - This Pin was created by Jumal Ahmad | Blogger Indonesi on Pinterest. Pemandangan sekitar rumah di #exploreprampelan
2022 Mei 15 - This Pin was created by Jumal Ahmad | Blogger Indonesi on Pinterest. jalan masuk desa Adipuro
2022 Jun 14 - This Pin was created by Jumal Ahmad | Blogger Indonesi on Pinterest. desa Adipuro Kaliangkrik Magelang
Magelang dan Senandung Cinta Yang Pernah Hilang (2)
Magelang dan Senandung Cinta Yang Pernah Hilang (2)
“Tak ada yang salah dengan sejenak menepi. Memberi jeda pada diri untuk perjalanan yang telah menanti. “– @burgerk3ju Baca bagian sebelumnya Perjalanan ke Ternate & Manado selama 2 minggu seakan menjadi jamu yang manjur sekaligus penawar kegalauan setelah kegagalanku berangkat ke Maldives. Sisa waktu 2 minggu yang tak akan aku sia-siakan hilang begitu saja. Sebentar lagi aku bakal menjadi…
View On WordPress
Begitu luhur doa dan harapan yang tertera pada sehelai kain batik. Setiap karya yang dihasilkan setiap orang akan berbeda walaupun bermotif sama. Semua bergantung pada suasana hati sang wanita pembatik.
2 orang wanita terlihat gemulai menampilkan tarian. Menyerap energi dari setiap jiwa yang menarikan. Setiap gerakan tubuh mereka elok dan menampilkan arti, selaras dengan syair tembang Yogyaning Reh Mamardi Mring Siwi yang dilantunkan oleh seorang lelaki tua yang dipanggil “Mbah”. Tembang Jawa yang bermakna sangat dalam tentang falsafah kehidupan itu larik demi lariknya terucap mengiringi gerak tarian Sinjang Indigo, dibarengi dengan tetabuhan seperangkat gamelan Jawa. Asap dupa membumbung ke udara menjadi mantra yang dipanjatkan, penuh dengan doa, niat dan harapan kebaikan di hadapan Sang Pencipta.
Dahulu, seorang perempuan Jawa tidaklah dapat sebebas saat ini untuk dapat berekspresi. Biasanya mereka akan dipingit ketika memasuki usia akil balik. Mengenyam pendidikan tinggi hanyalah sebatas asa, tak mudah untuk meraihnya. Hak kebebasan berekspresi dikekang oleh para orang tua, hingga saatnya tiba seorang lelaki yang telah dijodohkan akan datang meminangnya untuk menjadi pendamping hidup. Sangat nelangsa, namun para perempuan Jawa ini tak diperbolehkan untuk membantah dan patuh kepada orang tuanya. Membatik (menuliskan/menerakan malam atau cairan lilin yang dipanaskan pada sebuah kain yang lebar) adalah salah satu cara untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan harapan dari para perempuan Jawa yang terpasung kebebasannya saat itu. Hal inilah yang menyebabkan mengapa kita temui para pembatik kebanyakan adalah kaum perempuan.
Sinjang Indigo
Sinjang Indigo, adalah sebuah karya tari kontemporer dari sanggar Omah Mbudur pimpinan Nuryanto atau lebih dikenal dengan Mas Nur. Kata sinjang berasal dari bahasa Jawa berarti kain yang biasa dipakai perempuan Jawa jaman dulu, sementara Indigo (Indigofera) adalah tumbuhan penghasil warna biru. Jika diartikan secara keseluruhan maka Sinjang Indigo adalah gambaran proses membatik oleh para perempuan yang menghasilkan selembar kain berwarna biru dengan motif tertentu.
“Tarian ini adalah gerak tari spontanitas yang baru saja diciptakan siang ini dan langsung kami dipentaskan. Kami berdiskusi hanya tentang konsep tarian, selanjutnya gerakan seluruh anggota tubuh kami akan menyelaraskan dengan gerak ingsun yang sesuai dengan rasa dan doa-doa yang sebelumnya kami panjatkan,” Mbak Uci membuka perbincangan. Ia adalah salah satu penari yang membawakan Sinjang Indigo.
Koreografer serta pemilihan tembang Jawa yang merupakan unsur paling dasar dari konsep sebuah tarian tak luput dikomunikasikan oleh para penari. Demikian pula dengan penyatuan rasa penabuh bebunyian gamelan, penembang Jawa serta pembaca doa hingga pembawa ukupan dupa menjadi suatu kesatuan yang sangat penting dalam pementasan. Sehingga jika ada seorang saja yang terlibat dalam pementasan “berkhianat”, maka hasil tarian akan terbilang gagal.
Pembacaan doa, kembang ditabur dan tembang dilantunkan – menjadi mantra yang dipanjatkan
Hari lepas maghrib saat pementasan tarian berlangsung. Aura kemegahan tarian Sinjang Indigo sangat terasa. Lampu sorot dipasang sebagai penerangan utama disertai temaram pekarangan Omah Mbudur. Kami yang tergabung dalam rombongan liputan dibuat terpukau. Mbak Uci dan Mbak Diah menarikannya dengan luwes dan penuh penghayatan. Sementara syair tembang Yogyaning Reh Mamardi Mring Siwi yang berisi niat dan doa-doa yang dipanjatkan berhasil menentramkan, mencacah setiap sekat-sekat jiwa, menembus ruang tanpa batas dan menyatu dengan keagungan Sang Pencipta. Kami sampai merinding dibuatnya.
Tarian Sinjang Indigo ditutup dengan doa yang disuarakan dalam wujud tembang berjudul Suntanedyo Nglirwakaken Piweling. Sebuah doa dan wejangan dari guru dan orang tua bahwa dalam hidup manusia segala yang baik dan benar harus diutamakan. Demikian pula tentang hal mengasihi dan mencintai sesamanya juga harus dijalankan.
“Memaknai tarian Sinjang Indigo tak bisa dilihat sepenggal-sepenggal, mas. Harus dari awal hingga akhir karena arti yang seutuhnya berada pada doa-doa, niat dan nilai-nilai yang kami panjatkan dalam sehelai kain ini,”Mbak Uci menambahkan seusai pementasan.
Pelukis menggambarkan tarian Sinjang Indigo
Lantunan tembang dan gerak ingsun yang menyatu dalam tarian
Sinjang indigo
“Jadi pada selembar kain batik itu mempunyai niatan dan nilai-nilai hidup, mbak?” tanyaku penasaran.
“Benar sekali, mas. Kain batik tidak hanya selembar kain yang dilukis begitu saja, namun ketika kami menerakan setiap goresan lilin panas pada selembar kain itu terdapat arti yang merefleksikan suasana hati, kerelaan, ketulusan dari si pembuat kain batik,” pungkas mbak Uci.
Mas Nur menambahkan bahwa pada setiap motif batik yang dapat kita temukan saat ini semuanya mempunyai arti. Ia menjelaskan sebagai contoh kain batik Sido Asih mempunyai arti sebuah harapan bahwa orang yang memakai kain ini akan mempunyai sifat yang welas asih. Demikian juga pemakai kain batik Sido Mukti diharapkan akan mendapatkan tempat yang terhormat. Begitu luhur doa dan harapan pembuat kain batik ini, namun walaupun motif batiknya sama setiap karya yang dihasilkan setiap orang akan berbeda. Semua tergantung kepada suasana hati dan doa-doa yang dipanjatkan.
Sinjang Indigo adalah sebuah pementasan istimewa karena lahir dari sebuah rasa yang timbul dari dalam jiwa. Gerak ingsun yang menyatu dengan niatan luhur serta kerelaan dan disertai mantra kebaikan menghasilkan karya tarian terbaik dan berbeda. Demikian pula halnya dengan selembar kain batik, sebuah karya agung nusantara yang diakui dunia. Kain yang sarat nilai kehidupan serta filosofi tinggi menjadikannya patut mendapatkan tempat dan diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Segala hal yang dimulai dan juga diakhiri dengan doa, tidak boleh terhenti di tengah jalan”
Magelang, Februari 2018.
This slideshow requires JavaScript.
Sinjang Indigo, Doa Dan Harapan Dalam Sehelai Kain Begitu luhur doa dan harapan yang tertera pada sehelai kain batik. Setiap karya yang dihasilkan setiap orang akan berbeda walaupun bermotif sama.
Sebuah kenangan yang membekas dapat berupa apapun. Dengan seseorang, suasana, tempat yang indah, romantisme maupun nostalgia dalam sajian makanan tradisional.
Warung sederhana berwarna hijau itu kelihatan tak ramai saat kami memasukinya. Ada 2 orang pengunjung terlihat menikmati sepiring makanan di bangku kayu yang mengelilingi meja makan panjang. Kebetulan malam itu aku datang bersama rombongan sehingga membuat warung riuh ramai. Ibu Sri Kuntariati pemilik warung menyambut rombongan kami dengan wajahnya yang sumringah dan segera mencatat pesanan kami satu demi satu. Ia segera meneruskan kertas berisi catatan pesanan makanan kepada pegawainya yang dengan sigap segera menyiapkan pesanan.
Wangi harum kacang tanah dan tahu yang digoreng sukses membuat perutku makin lapar. Tak lupa menanyakan apakah masih tersedia bakwan karena hari sudah malam, dan rupanya keberuntungan masih menaungiku. Bakwan sebagai campuran sajian kupat tahu itu ternyata masih ada. Kali ini aku sengaja melihat cara penyajian kupat tahu di warung “Pojok”, untuk membunuh rasa penasaran mengapa rasanya begitu nikmat dan berbeda dengan warung kupat tahu lainnya. Padahal makanan satu ini termasuk jamak dapat kita temukan pada setiap sudut kota Magelang.
Warung Kupat Tahu “Pojok”
Diatas piring sajian, pegawai warung kupat tahu “Pojok” menggerus bawang putih dan cabai rawit hijau sesuai dengan tingkat kepedasan yang dipesan. Kemudian ia mengiris kupat (ketupat), tahu beserta bakwan. Taoge dan rajangan daun kol yang telah direbus disusun rapi diatasnya beserta cacahan daun seledri. Kacang tanah yang telah diulek bercampur dengan sedikit air beserta kecap diguyurkan menjadi topping semua bahan tersebut. Jangan lupakan taburan bawang goreng sebagai garnish makanan dan sedikit kucuran kecap manis. Semuanya terlihat tak ada bedanya dengan racikan warung kupat tahu lainnya.
Namun rasa penasaranku terjawab ketika menikmati kupat tahu “Pojok” ini. Bumbu kacangnya terasa sedap ketika sendokan pertama menyentuh indra perasa di lidahku. Begitu lezat dan gurih. Tekstur tahunya yang lembut bercampur segarnya taoge dan cacahan daun kol ditambah manisnya bumbu kecap serta tingkat kepedasan yang pas menjadikan sajian ini utuh sempurna di dinding mulut. Tak bikin eneg. Pas!
Mesin Waktu Kupat Tahu
Kupat tahu “Pojok” adalah kupat tahu pertama di Magelang, kota yang telah berusia 1.112 tahun. Lokasinya sekitar 40 meter dari alun-alun kota Magelang, tepatnya di Jalan Tentara Pelajar kios 14. Warung ini terlihat bersih karena Ibu Kuntari dan pegawainya selalu cepat membersihkan setiap kali pengunjung selesai makan.
Lontong dan bakwan dipotong, ditata di atas piring sajian
Pengalaman selama 76 tahun hingga saat ini berjualan kupat tahu dan keseriusan melayani pelanggannya memang tak bisa dipungkiri. Demikian juga menjaga cita rasa dan kualitas serta meneruskan tradisi kuliner tradisional tentunya bukan hal yang mudah ditengah gempuran gerai makanan modern yang terlihat makin menjamur di pelosok kota.
“Bapak saya mulai berjualan sejak tahun 1942 di pojokan sebelah selatan alun-alun kota Magelang dengan masih menggunakan pikulan kayu. Tahun 1950 akhirnya pindah dan menetap di warung ini. Saya sendiri adalah generasi kedua yang meneruskan usaha kupat tahu ini,” ibu Sri menjelaskan dalam perbincangannya.
“Ibu Sri, apa yang menjadikan kupat tahu “Pojok” menjadi lebih istimewa dibandingkan warung lainnya?” tanyaku penasaran.
“Salah satunya adalah disini kita menggunakan anglo dan arang sebagai media untuk menggoreng tahu, merebus taoge dan daun kol hingga memasak air minum. Cara memasak dengan arang inilah yang membuat kupat tahu “Pojok” mempunyai cita rasa tersendiri, berbeda dengan saat kita menggunakan kompor gas,” tutur Ibu Sri lebih lanjut.
Cacahan daun kol dan taoge yang telah direbus
Untuk menjaga mutu dan cita rasa kupat tahu, ibu Sri juga menjelaskan bahwa tahu yang dipakai juga dibuat khusus untuk warung “Pojok” oleh pengrajin tahu langganan mereka. Tahu ini tidak dijual di pasar maupun gerai retail. Teksturnya lembut, gurih dan tidak berasa asam. Begitu pula dengan kecap manis racikan sendiri yang dibuat setiap 3 hari sekali. Tak ketinggalan bakwan yang dibuat dari campuran kuning telur bebek menjadikannya gurih. Ini yang membuat sajian tahu kupat “Pojok” terasa berbeda, selain ada bumbu rahasia yang tak boleh diungkap.
Sebagai pelengkap menikmati sajian kupat tahu, tersedia berbagai macam gorengan dan sate udang goreng yang dapat kamu nikmati. Bikin tambah nyamleng! Untuk menikmati kupat tahu yang rasanya lezat ini kamu cukup meebus mahar Rp13.000. Cukup murah bukan? O ya, warung ini buka mulai pukul 9 pagi hingga 20.30.
Nostalgia Kupat Tahu
Warung “Pojok” memang sederhana, namun kisah dibaliknya menjadikan warung kupat tahu ini menjadi sebuah cerita nostalgia bagi beberapa orang pesohor. Tak sedikit petinggi negara dan artis-artis legendaris negeri ini menjadikan warung “Pojok” sebagai tempat “jujugan” kuliner kupat tahu. Ini jelas terlihat dari deretan foto-foto mereka yang terpajang pada dinding warung. Deretan gambar ini menjadi rekam jejak dan penanda sejarah, ditambah lagi dengan tulisan “Sejak 1942” seakan mentahbiskannya. Bahkan menurut keterangan Ibu Sri, warungnya telah menjadi langganan mantan presiden RI ke-6.
Deretan foto pesohor negeri pada dinding warung
Walaupun warung kupat tahu “Pojok”” sudah cukup terkenal dengan pelanggannya yang termasuk kaum jetset, namun ibu Sri tetap rendah hati. Ini terlihat dari warung makannya yang sederhana dengan harga makanan tetap murah. Ia tampak tak terusik oleh siapapun yang pernah singgah di warung kupat tahunya. Apapun pangkat maupun strata sosialnya akan setara ketika memasuki pintu warung tahu kupatnya, dan mereka adalah sama yaitu pelanggannya.
Ibu Sri Kuntariati menutup perbincangannya dengan mengatakan,” Saya akan terus mencoba untuk mempertahankan keaslian rasa dan suasana warung, supaya pelanggan dapat bernostalgia di warung “Pojok”.
Ketika aku mengatakan kepada ibu Sri bahwa aku salah satu pelanggannya sejak kecil, ia terlihat senang dengan mata yang berbinar-binar dan kami bertukar kisah. Tak berubah, ia tetap ramah. Seramah sendokan kupat tahu terakhir yang aku nikmati malam itu.
Matur nuwun, ibu Sri. Kupat tahunya enak!
Kupat Tahu “Pojok” Jalan Tentara Pelajar, kios nomor 14 Magelang.
*Artikel ini telah ditayangkan di majalah LINKERS (in-flight magazine) Citilink edisi bulan Maret 2018
Kuah sambel kacang yang gurih
Jangan lupakan taburan bawang goreng untuk menambah cita rasa.
Kupat tahu “Pojok” Magelang siap disantap
Kupat Tahu “POJOK” Magelang Sebuah kenangan yang membekas dapat berupa apapun. Dengan seseorang, suasana, tempat yang indah, romantisme maupun nostalgia dalam sajian makanan tradisional.
“Kalau saya tidak ingat kecintaan saya dengan tanah kelahiran dan seni, lebih baik saya tinggalkan Indonesia.”
Kecintaan Nuryanto (43) akan seni budaya dan Indonesia membuatnya pantang menyerah dalam membangun Omah Mbudur, sebuah creative space (tempat orang-orang berkreasi olah seni and budaya) yang terletak di Dusun Jowahan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Magelang. Usahanya tidak sia-sia karena sekarang Omah Mbudur berkembang hingga mempunyai luas hingga 2,5 hektar. Omah Mbudur yang pembangunannya dimulai pada tahun 2007, saat ini telah menjadi wadah bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berkumpul, berdiskusi dan berkegiatan seni.
Omah Mbudur Selayang Pandang
Sejatining urip iku sing iso nggawe urup-urup, tampaknya prinsip itulah yang dipakai Mas Nur – panggilan akrab Nuryanto – dalam hidupnya. Kalimat diatas diambil dari falsafah berbahasa Jawa yang mempunyai arti “Hidup yang sejati itu jika kita dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar, sesuai dengan bidangnya masing-masing.” Dalam perbincangannya dengan saya, Mas Nur mengatakan bahwa kerinduannya pada saat ia mulai membangun Omah Mbudur peruntukannya adalah untuk semua orang yang mau berkreasi. Baik kreatifitas seni tari, seni lukis, seni patung, seni kuliner, fotografi maupun kesenian yang lainnya. Ia yang meninggalkan Bali pada tahun 1999 mulai membangun desanya dengan “mbabat alas”. Membeli sebidang tanah, membuka hutan dan membangun kawasan Ombah Mbudur dari nol.
“Kalau saya tidak mengingat kecintaan saya akan tanah kelahiran saya, Magelang dan kekayaan seni budaya bangsa, saya lebih baik tinggalkan saja Omah Mbudur dan Indonesia,” kata Mas Nur dalam perbincangannya.
Mas Nur dalam perbincangannya dengan kami. Dok: Pribadi
Saat itu bukan perkara yang mudah bagi Mas Nur untuk membangun Omah Mbudur. Dituding sebagai seniman gila karena membangun rumah hanya untuk “kongkow-kongkow” para seniman dan diskusi masyarakat. Omongan tak sedap lainnya sempat menjadi penghalang, namun semuanya itu tak menyurutkan niatnya dan sanggup ia hadapi. Terlihat saat ini Omah Mbudur berkembang menjadi tempat berkreasi bagi siapapun yang mau belajar dan berkarya. Tempat ini terbuka bagi setiap seniman, masyarakat sekitar bahkan para wisatawan. Masyarakat di sekitar Ombah Mbudur juga diajarkan untuk menciptakan hasil karya seni yang nantinya dapat dijual di galeri seni.
Mas Nur mencintai negeri yang kaya dengan kekayaan seni dan budaya ini dengan sepenuh hati. Menurut penuturannya, ia pernah ditawari untuk membangun tiruan candi Borobudur di Russia, namun dengan tegas ia menolak. Baginya, candi Borobudur hanya milik bangsa Indonesia. Waah keren ya! Nasionalis sejati.
Omah Mbudur Dan Aktifitasnya
Memasuki pelataran Omah Mbudur, langkah kaki saya seperti menembus sebuah dimensi yang berbeda. Sebuah gerbang megah terbuat dari batu pualam yang tersusun dengan rapi menyambut ramah, sementara lumut hijau dibiarkan menyelimuti sebagian gerbang batu itu. Rasa nyaman dan tenang menyeruak seketika dalam jiwa. Gerbang ini layaknya gerbang istana. Kesan alami dan asri tepat disematkan bagi tempat yang rimbun dan ditumbuhi banyak pohon ini. Tetabuhan gending Jawa terdengar menggema, dimainkan pada sebuah sudut rumah pendopo oleh kelompok karawitan bapak-bapak. Dari lagu yang dilantunkan, sepertinya itu adalah sebuah langgam Jawa untuk penyambutan tamu.
Tembok gerbang Omah Mbudur
Omah Mbudur dapat dikatakan sebagai salah satu pelopor pembangunan kawasan desa wisata di wilayah seputar candi Borobudur. Saat ini di Omah Mbudur telah terkonsep dengan matang beberapa atraksi dan fasilitas bagi para wisatawan. Fasilitas berupa aula pendopo yang cukup lega, camping ground, kegiatan outbound, wisata sawah bahkan wisata kesenian terdapat di sini. Pada setiap akhir pekan, tempat ini selalu dipenuhi oleh rombongan pelancong baik dari dalam maupun luar negeri.
Menyoal kerajinan tangan, para pengunjung Omah Mbudur diberikan kesempatan untuk belajar cara membuat kerajinan gerabah seperti asbak, guci kecil ataupun vas bunga dari tanah liat. Pengunjung akan dipandu oleh ibu-ibu pengrajin gerabah dari proses produksi hingga menjadi produk siap jual. Proses pembuatan kerajinan gerabah ini mengingatkan saya akan film Ghost-nya Patrick Swayze dan Demi Moore saat adegan membuat vas bunga.
Selain berbagai karya kerajinan tangan hasil karya masyarakat sekitar Omah Mbudur, Mas Nur juga mengajak masyarakat sekitar untuk menyediakan kamar dan rumahnya sebagai tempat menginap atau homestay para wisatawan.
“Pada awalnya sulit untuk menjelaskan dan mengedukasi masyarakat di sini. Namun lambat laun akhirnya mereka sadar dan melihat potensi yang besar dari kampung halamannya,” jelas Mas Nur.
Pembuatan kerajinan gerabah
Pembuatan kerajinan gerabah
Pembentukan obyek & kreatifitas
Hasil jadi kerajinan gerabah
Hasil jadi kerajinan gerabah
Selanjutnya dijemur dan dibakar untuk mengeluarkan tekstur
Mas Nur sempat membuka homestay pertama kalinya dengan membuka rumah milik pamannya yang juga merupakan warga dusun Jowahan. Saat ini sudah terdapat puluhan homestay dari berbagai macam pilihan, dari kelas sederhana hingga ekslusif. Dari keterangan Mas Nur kepada saya, rata-rata setiap rumah penduduk menyediakan 2 kamar tidur untuk disewakan sebagai homestay. Wah, menarik ya bisa bermalam di rumah warga. Tentunya sangat menyenangkan karena dapat berinteraksi dengan warga lokal serta melihat keseharian mereka.
Gagasan Wisata Sawah
Keberadaan candi Borobudur memang menjadi magnet pariwisata di kabupaten Magelang, namun dari sekian banyak pengunjungnya tak banyak yang mau berkunjung ke obyek wisata lain di seputar candi. Hal ini kembali mengusik Mas Nur untuk berinisiatif memanfaatkan semua potensi yang ada disekitar candi. Ia menggagas wisata baru yaitu wisata sawah.
“Kami mencoba menggandeng para petani untuk membuat wisata sawah, tujuannya adalah memberikan nilai tambah yang kami kembalikan kepada para petani. Saya melihat mereka ini sudah bekerja keras menggarap sawahnya, namun hasilnya kok sedikit,” kata Mas Nur.
Berangkat dari kondisi itulah timbul niatannya untuk mengajak para petani ini sebagai mitra kerjanya menciptakan wisata sawah. Sebagai langkah awal, Mas Nur mengajak para petani ini mengembangkan pertanian organik. Tanaman jagung, padi, ketela dan sayuran semuanya produk organik. Nilai jual produk organik ini kemudian dijual dengan harga tinggi kepada para wisatawan. Selain itu, wisatawan baik lokal maupun mancanegara ditawarkan dan diajak untuk membajak sawah, menanam padi, memanen ketela, memanen buah-buahan dan hasil perkebunan lainnya. Dengan kata lain aktifitas bercocok tanam ini dijadikan atraksi wisata.
“Alhamdullilah, program wisata sawah ini mendapat sambutan baik dari para wisatawan. Mereka banyak yang tertarik menjajal semua aktifitas tersebut. Saya berharap konsep yang kami buat ini dapat diadopsi dan diaplikasikan para petani dan pelaku wisata lainnya. Hasilnya lumayan lho, “ Mas Nur menjelaskan.
Dari sekian banyak ide maupun gagasan yang telah diwujudkan oleh Mas Nur, saya sempat bertanya apakah tidak takut jika ide-idenya itu dicuri oleh orang lain.
“Saya justru merasa senang dan bangga jika orang-orang meniru apa yang saya lakukan. Memberi jalan untuk kesejahteraan masyarakat sekitar Omah Mbudur itu menjadi suatu kebahagian buat saya, mas,” pungkasnya.
Saya pribadi kagum dengan sosok Mas Nur. Seseorang yang saya catat sudah selesai dengan hidupnya dan dapat menginspirasi banyak orang. Mas Nur percaya bahwa dalam kehidupan ini manusia harus selalu berbagi dengan masyarakat dan alam sekitarnya.
Apa yang sudah dilakukan Mas Nur dengan Omah Mbudur serta ide-idenya yang menjadi jalan untuk kesejahteraan masyarakat sekitarnya adalah perwujudan kerja sama yang harmonis. Warga dusun Jowahan mendapatkan banyak manfaat serta kenaikan derajat ekonomi dengan hadirnya Omah Mbudur.
Sejatining urip iku sing iso nggawe urup-urup. Matur nuwun, Mas Nur.
Produk kerajinan ini dibuat dari bekas kaleng minuman
Sosok inspiratif dibalik Omah Mbudur
MAS NUR DAN OMAH MBUDUR “Kalau saya tidak ingat kecintaan saya dengan tanah kelahiran dan seni, lebih baik saya tinggalkan Indonesia.”
Want to play hide and seek?