CHANEIL KULAR as Tres False 9 (2025) dir. Jake Paul Austin
seen from Malaysia
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States

seen from Italy

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from China

seen from United States

seen from Netherlands

seen from Russia

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Azerbaijan
seen from United States
seen from United States
CHANEIL KULAR as Tres False 9 (2025) dir. Jake Paul Austin
False 9 - AJ Tracey
CHANEIL KULAR as Tres False 9 (2025) dir. Jake Paul Austin
Thomas Muller Sang Penafsir Ruang
Berbeda dengan Messi dan Ronaldo yang sangat-sangat proaktif, Thomas Muller adalah pemain reaktif-adaptif. Lionel Messi adalah false 9 tulen yang dengan aktif menampilkan skill individunya yang berusaha merobek pertahanan lawan. Sementara lain lagi dengan Ronaldo, yaitu tipe striker melebar cepat dalam penetrasi serangan balik. Lawan selalu dituntut dalam menyesuaikan permainan keduanya. Nah, hal bertolak belakang terjadi dengan Thomas Muller. Muller justru melihat dan menafsirkan dulu bagaimana taktik bertahan lawan dilakukan, lalu kemudian beradaptasi dengan mengeksplorasi lubang-lubang yang tersedia.
Pemain biasa saja
Kegilaan cara bermain Thomas Muller menjadi fenomena baru di sepak bola modern. Kehadirannya di posisi yang tepat pada waktu yang tepat saat berlaga di lapangan juga terjadi pada perjalanan karirnya.
Setelah menjalani musim impresif bersama FC Bayern II di Bundesliga Divisi 3, Muller berhasil meraih kontrak penuh di tim utama pada musim 2009/2010. Untuk mematangkannya, direktur Bayern ketika itu berencana meminjamkannya ke klub kecil.
Rencana tersebut gagal. Kehadiran Muller di tim utama terjadi bersamaan dengan hadirnya Louis van Gaal. Sebagai pelatih yang tergila-gila pada taktik, Van Gaal melihat sosok Muller sebagai sosok yang potensial.
Van Gaal kemudian bukan saja memberi kesempatan bermain, tetapi juga peran penting sebagai pemain no. 10 pada formasi 1-4-2-3-1-nya*. Kepercayaan dari Van Gaal di Bayern ini akhirnya berujung pada pemanggilan Muller ke Nationalmannschaft.
Sebagai pemain kelas dunia, Muller sejatinya tidak punya keistimewaan dari segi teknikal. Kaki kiri, kaki kanan dan kepalanya memang “hidup”, tetapi tidak ada satu pun atribut teknisnya yang bisa dibilang super.
Muller tidak terlalu cepat dan kuat secara fisik. Ia malah sering dilabeli sebagai “tukang diving” karena seringnya ia terjatuh. Ini dibantahnya dengan mengatakan bahwa ia memang lemah dalam duel jarak dekat. Kemudian, soal olah bola pun kelasnya medioker. Dribel dan gocekannya (dalam situasi 1v1) sama sekali tidak istimewa.
Berbeda seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang sangat proaktif, Muller adalah pemain reaktif-adaptif. Messi adalah false nine tulen yang secara aktif dengan skill individunya berusaha menyobek pertahanan lawan. Sementara itu, Ronaldo adalah tipe striker melebar yang cepat dalam penetrasi dan serangan balik. Lawan selalu dituntut untuk menyesuaikan dengan permainan keduanya. Nah, hal bertolak belakang terjadi dengan Muller. Ia justru melihat dulu bagaimana taktik bertahan lawan, baru kemudian beradaptasi dengan dengan mengeksplorasi lubang-lubang yang tersedia.
Kemampuan teknikal Muller yang biasa saja membuatnya memiliki kemampuan membaca permainan ulung. Muller selalu bisa melihat situasi permainan, melihat di mana adanya ruang dan mengambil posisi tepat di ruang tersebut.
Kecerdikan dalam posisi berdirinya membuat ia memiliki lebih banyak ruang dan pastinya ia lebih punya banyak waktu untuk mengambil keputusan. Tentu saja, keputusan dan eksekusi sepak bolanya jadi begitu prima.
Selain kelihaian pergi ke ruang kosong di antara lawan, ia juga sangat pandai melihat posisi kawan yang berada pada arah serang tim. Ia tidak sekadar pergi mencari ruang kosong, tetapi mencari ruang kosong yang dekat dengan pemain lain, sehingga kehadirannya di ruang tersebut mampu menciptakan jumlah lebih, baik itu situasi 2v1 atau 3v2.
Bagi pemirsa awam, Muller tak ubahnya pemain “ngacak” yang pergi ke sana kemari tanpa tujuan. Saat bermain sebagai pemain no. 10 atau no. 9, ia sering bermain melebar dan turun menjadi gelandang.
Saat bermain sebagai pemain no. 7*, ia justru sering bermain lebih ke dalam dan ke depan. Semua itu tidak ia lakukan secara instingtif, melainkan lewat hasil observasi. Sebelum mengambil tindakan, ia selalu mengamati ke mana ia harus berlari demi menciptakan situasi overload di area tertentu.
Pengambilan posisinya seringkali memancing lawan untuk bereaksi, sehingga ruang baru pun terbuka untuk rekan-rekannya. Tak heran, Muller termasuk pemain yang secara statistik jarang menyentuh bola. Bahkan, jumlah sentuhannya seringkali lebih sedikit dibanding kiper Manuel Neuer sekalipun.
Produk sistem
Gaya bermain Thomas Muller memang unik dan fenomenal. Ia menjuluki dirinya sebagai Raumdeuter. Dalam bahasa Inggris, “raumdeuter” berarti “space investigator”, atau dalam bahasa kita bisa ditafsirkan secara bebas menjadi “penafsir ruang”.
Rob Brown, seorang pandit papan atas menulis sebuah analogi cerdas. Thomas Muller adalah Clark Kent saat ia menguasai bola. Sederhana dan begitu rendah hati. Seketika saat temannya menguasai bola, Muller pun menjelma menjadi Superman.
Kemunculan Thomas Muller diyakini bukanlah suatu kebetulan. Ia merupakan representasi produk sebuah sistem canggih yang telah direncanakan jauh-jauh hari.
Pasca-Euro 2000, di mana tim Panser terjerembab di fase grup, Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) melakukan revolusi pada sistem pembinaannya. Salah satu poin penting adalah pembinaan sepak bola Jerman harus mampu mencetak pemain yang lebih memiliki teknik mumpuni dan kreativitas taktik.
Revolusi filosofi ini kemudian berimbas pada proses talent scouting. Setelah filosofi baru ditetapkan, para pemandu bakat Jerman harus lebih mengutamakan pemain-pemain berteknik ketimbang pemain yang besar, kuat dan cepat. Di samping talent scouting, akademi-akademi juga diminta untuk terus mengedepankan latihan yang berbasis pada pengembangan teknik-taktik sepak bola.
Langkah lain yang dilakukan DFB adalah menyewa jasa Marcel Lucassen, pelatih spesialis teknik sepak bola yang bekerja untuk tim nasional junior seluruh kelompok usia. Penulis yang kebetulan pernah berkesempatan mengikuti kursus Football Technique dengannya menjadi tidak heran dengan kemunculan pemain cerdas seperti Thomas Muller.
Filosofi latihan yang ditawarkan Lucassen adalah latihan teknik sepak bola berbasis 11vs11. Secara ekstrem, Lucassen bahkan mengatakan bahwa latihan teknik sepak bola terbaik adalah Game 11vs11. Tentu saja, pada level tertentu, Game 11vs11 harus disederhanakan menjadi bentuk yang lebih sederhana seperti 4v4, 4v2, 4v1, 4v0, hingga 1. Hanya saja, apapun bentuknya, latihan teknik tidak boleh keluar dari konteks Game 11vs11.
Konteks Game 11vs11 ini terkait dengan Posisi, Momen, Arah dan Kecepatan. Semua latihan teknik yang dibuat harus mencakup keputusan dan eksekusi empat aspek tadi dalam Game 11vs11. Jika tidak ada dalam Game 11vs11, maka itu bukan latihan teknik sepak bola yang tepat.
Filosofi di balik ini semua adalah karakteristik sepak bola itu sendiri. Tak seperti senam, misalnya, di mana teknik merupakan eksekusi teknik itu sendiri, di sepak bola, teknik adalah eksekusi dari keputusan. Jika aktivitas pembinaan sepak bola ingin menghasilkan pemain masa depan seperti Muller, maka semua latihan teknik pun harus berbalut dengan latihan pengambilan keputusan.
Pemain penentu
Kemenangan di sepak bola selalu ditentukan oleh gol penting. Gol menjadi penting ketika ia tercipta lewat sebuah proses yang spektakuler atau pada waktu yang tepat dan menentukan.
Terjadinya sebuah gol selalu diawali oleh proses taktikal yang rumit, di mana semua pemain memainkan fungsi masing-masing sesuai taktik tim. Tak hanya itu, mereka juga harus menyesuaikan dengan situasi yang terjadi akibat bentrokan dengan taktik lawan.
Pemain masa depan
Berbagai deskripsi di atas membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa Thomas Muller adalah purwarupa pemain masa depan yang ideal. Sepak bola modern, semakin hari semakin compact saja, khususnya dalam hal bertahan.
Kondisi ini membutuhkan pemain yang bisa senantiasa mencari dan menciptakan ruang yang dapat dieksploitasi oleh dirinya, maupun rekan-rekannya seperti Muller. Kriteria ideal lainnya adalah kemampuan Muller bermain pada berbagai posisi. Kemampuan mencari ruangnya membuat posisi bermain menjadi tak relevan.
Ini jelas sesuai dengan tren sepak bola modern yang tidak lagi zone-dependant (terkait posisi), melainkan space-dependant (terkait pada ruang). Muller dapat bermain sebagai pemain no. 7, 11, 10 ataupun 9. Sekadar meramal, tak menutup kemungkinan di masa tuanya kelak, Muller akan mengisi posisi no. 6.
Dua kemampuan di atas membawa pada pertimbangan teknis yang ekonomis. Pemain seperti Muller bisa menghemat penggantian pemain.
Utilitas dan fleksibilitasnya membuat pelatih dapat melakukan perubahan taktik tanpa harus mengganti pemain. Ia dapat berganti posisi sesuai kebutuhan. Bahkan, tanpa harus mengubah posisi, ia dapat mengubah fungsi dan cara bermainnya.
Penulis kini menunggu para pembina usia muda Indonesia untuk mampu “mencari ruang” agar dapat mencetak pemain jadi luar biasa justru karena biasa saja.
Ditunggu, Thomas Muller Indonesia! <>
*)Sistem penomoran posisi yang digunakan adalah sistem Spanyol/Belanda. 1 = kiper, 2 = bek kanan, 3 = bek tengah kanan, 4 = bek tengah kiri, 5 = bek kiri, 6 = gelandang bertahan, 7 = sayap kanan, 8 = gelandang bertahan/serang (box to box), 9 = striker, 10 = gelandang serang/second striker, 11 = sayap kiri.
**False nine adalah istilah untuk pemain no. 9 yang memainkan peran striker palsu. Disebut palsu, karena ia selalu pergi ke area tengah untuk menjadi gelandang atau area pinggir menjadi sayap. Pertama kali dimainkan oleh Matthias Sindelar (Austria) pada Piala Dunia 1934. Pada era modern, false nine kembali dipopulerkan oleh Lionel Messi.
Back in the Hole
The role “centre-forward” is used interchangeably with “striker” nowadays and the term “False 9” is thrown around frequently in discussions without many knowing what it is really is.
To understand it better, false 9 needs to be seen as a role rather than a position. Only a handful of players in the world are able to execute it as required and that too within a stable structure around them. Wayne Rooney was tried as a false 9 by Sir Alex, Totti played this role as well at Roma and even Cesc Fabregas was deployed in the hole for Spain at the EUROs. But it is Messi who performs the role to perfection.
Pep Guardiola changed modern football with his teams and having Messi operate as a false 9 was a significant move, both for the footballing world and the manager/player himself. The first time Messi was in this role was in the 2-6 thrashing of Madrid at the Bernabeu – a result of a sudden late night call Messi got from Pep. Messi’s positioning and movement caused Madrid a lot of problems throughout the match and one of their defenders of the game, Metzelder, had this to say after the game:
“Fabio [Cannavaro] and I looked at each other. ‘What do we do? Do we follow him to the midfield or stay deep?’ We didn’t have a clue.”
And that’s exactly one of the aims of the false 9 – causing confusion in the opposition back line and bringing players out of position. From here we can move to the current set up at Barcelona and Messi’s role under Ernesto Valverde.
One of Valverde’s priorities upon arriving at Barcelona was to remove the burden of carrying the team from Leo Messi’s back. And he’s done that by restructuring the team around Leo. This season we can see a switch back to false 9 for Messi with an organized team around him and vigorous pressing being carried out. We can see Alba and Semedo pushing high as they’re supposed to be (both being very talented offensive fullbacks) and we can see Iniesta and Rakitic not having to move out wide because of the structure and the support they have in the wide-space due to the fullbacks.
Messi’s role while operating ‘in the hole’ is supposed to be what Metzelder described above. With no dedicated #9 in the formation (because of Suarez moving to the left side and making runs behind the defence), opposition centrebacks don’t know whether to follow Messi into the midfield (bringing them out of position and leaving gaps behind them or to their side) or whether to hold their line and wait (giving Messi the space you’re not supposed to give him).
This allows the false 9 to distribute the ball where he needs to and create chances for runners behind the defense or take a chance himself. Messi is a master of the game and has unparalleled vision to perform his duties.
From the videos below you can see how much more involved Busquets and Alba are in this new system, especially with Messi personally and you can also see the new role Rakitic played against Espanyol, something reminiscent of his #10 days from Sevilla. For the first time in ages Barcelona played with a great structure with Messi as a spearhead of the team once again, rather than being present next to Busquets to help create something out of nothing from the halfline.
[...]
published on Sep 8, 2017 by TalkFCB
This restructuring of Messi’s role is a pleasure to watch especially after the “enganche” role he played last season, only for us to witness Neymar and Suarez waste so many good chances created by him. Now we watch Messi getting on the end of cut-backs from Alba marauding down the left flank and placing them into the back of the net – he’s back to the most dangerous place he could be.
And this is where he deserves to play. It’s where he scored an outrageous 73 goals in a season and an eventual 91 for the year – and someone of his ability, the greatest of all time, deserves to be free and not frustrated.
Let’s hope we can see this role evolve as the season progresses.
[…] Yazdan Basir, September 12, 2017 – ‘Back in the Hole
False 9 - AJ Tracey
AJ TRACEY DROPS THE WAVEY VIDEO TO “FALSE 9” AJ Tracey releases the wavey new video to the track "false 9". After teasing the visual via his social media platforms, the dope video sees the West London MC fully decked out in the new Tottenham Hotspurs's kit while dropping his trade mark vicious bars.