Menjelang hari ke-23 di Februari 2016
Semalam, setelah hampir 2 jam lamanya berbincang di telepon bukannya lelah atau mengantuk yang aku rasa, alih-alih ingin menyampaikan apa yang belum bisa tersampaikan. Lihat, aku masih saja belum bisa menjabarkan dengan baik melalui susunan kata maupun diksi yang tepat untuk semua itu.
Berawal dari pesan chat seorang teman wanita, -Ah bukan, bahkan lebih dari seorang teman. yang ku kenal dari masa lalu yang kini menyisakan perih -yang menyapa kembali setelah dua puluh empat hari dia pergi. Entah pergi untuk menghindar atau menghilang, namun bisa kupastikan karena suatu hal yang sebisa mungkin tak terbahas, sedapat mungkin agar tak menjadi batas, agar tak saling menyakiti.
Dua puluh empat hari kemarin, dimana aku mencoba memahami apa yang seharusnya terjadi, perlahan melepas rasa kecewa yang teramat, mengenyahkan benalu yang yang tak seharusnya kubiarkan tumbuh sedari awal. Dua puluh empat hari kemarin, tidak, bahkan dari satu setengah tahun kemarin, sungguh aku mampu menyita pikiranku dengan segala hiruk pikuk pekerjaan dan kesibukan dengan orang-orang nyata disekelilingku, meski tak jarang ketika dalam suatu perjalanan atau waktu senggang masih saja terbesit perihal segala kemungkinan.
Sebenarnya, Aku sudah melihat pesannya beberapa menit lebih awal, sebelum akhirnya kuputuskan untuk menjawab pesan singkatnya yang seakan memanggil untuk minta diperhatikan.
Dia kembali, setelah mencoba menghilang. Adakah kepentingan mendesak yang membuatnya harus menghubungiku?
Lalu setelah balasanku terbaca pasti olehnya, selang beberapa detik dering telepon tanpa nada itu mengusik pikiranku. Aku ragu sesaat, haruskah aku menjawab panggilannya atau kubiarkan saja tanpa rasa bersalah. Dia menanyakan perihal kesediaanku untuk mengangkat telepon. Panggilan kedua, akhirnya kubiarkan mulutku menjawab sapa dari seberang sana.
Aku bertanya-tanya adakah hal penting yang harus disampaikan selarut ini. Aku sedikit sungkan, memikirkan segala kata yang harus ku utarakan agar tercipta rasa nyaman. Aku sedikit khawatir, memikirkan segala ucapnya yang mungkin akan melemahkanku.
Saling sapa bertanya kabar, selalu pertanyaan yang sama. Tapi kali ini aku merasakan tulus pertanyaannya bukan sekadar basa-basi semata. Aku sehat, jawabku. Dan jawabnya pun dengan kata yang sama.
Aku sehat, hanya saja hatiku masih butuh beberapa pemulihan.
Dirimu, sungguh baik-baik saja kah?
Aku rindu, suara lugas dan luwes dengan logat khasnya itu. Suara yang beberapa waktu dulu sering menjadi peramai sepinya malam, yang beberapa waktu dulu menjadi penenang ketika kalut semakin meresahkan, yang saling menguatkan untuk keluh yang terasa, yang kadang tanpa sadar mengacau waktu. Suara yang sejatinya menyamankan untuk terus bercakap membicarakan hal apa saja sampai terlelap.
Akhirnya aku tersadar untuk menanyakan perihal sebab dirinya menghubungiku. Berawal dari ucapan maaf, sebab kejadian kecil di dua puluh empat hari sebelum saat ini. Aku sedikitnya paham, dia tidak sepenuhnya dalam keadaan baik.
Sebagian besar diriku berharap semoga ini bukan tentang perihal masa lalu. Tapi ada sebagian lain diriku yang berharap sedikitnya ia membawa kabar dari masa lalu. Bodoh memang, masih saja belum puas akan sesuatu yang sudah jelas, bahwasanya sungguh itu telah menjadi masa lalu yang tak seharusnya kembali.
Dia..menanyakan pendapat untuk satu hal yang mengharuskan dirinya memutuskan secepat mungkin. Tawaran bekerja di kota lama, kota yang pernah menjadi kenangan, yang jaraknya dekat dari tempatku.
Ah, aku akhirnya paham apa yang merisaukannya. Dia mencari keyakinan untuk menguatkan keputusannya.
Sepenuhnya aku membebaskan dirinya memilih keputusannya sendiri, selepas dari segala apapun perihal lalu. Kalau dirinya memilih kembali datang, tentu aku akan sedia untuk dia jadikan teman, sekalipun sekadar dalam perantauan. Sesungguhnya aku tak menyimpan luka atas dirinya yang menyebabkanku harus mengabaikannya, sungguh tak ada.
Hanya saja belum bisa aku pungkiri, dirinya sedikit banyak mengingatkanku perihal lalu yang seharusnya tak lagi terpikirkan. Namun ku akui juga, hadirnya mungkin bukan untuk melemahkanku tapi sebaliknya. Dan perlu diketahui, aku tak lagi merasakan apa-apa sepeninggal mati rasa.
Perbincangan mengalir tanpa lagi ada sungkan, hanya kadang diam dalam jeda yang terlalu lama. Aku hanya merasa tak ada banyak kata yang ingin ku ucap, maka aku putusakan untuk mendengarkan segala ceritanya. Bahkan sampai akhir perbincangan, tak ada sedikit pun dirinya menyinggung perihal itu. Betapa berhati-hatinya ia, seperti ada sungkan yang teramat. Aku merasa sedikit lega dari kecemasanku sebelumnya.
Entah dirinya memang tak berniat mengungkit persoalan lalu karena ingin menjaga perasaan, memahami sesama wanita?
Atau karena dirinya berada dipihak yang lain, lalu menganggap serupa bahwa tak ada lagi yang harus diperbincangkan karena memang semestinya selesai.
Kalau boleh aku bertanya, aku ingin menanyakan dirinya berada dipihak siapa?
Bukan, bukan untuk meminta pembelaan atau bukan juga untuk menyalahkan. Aku tahu, dirinya ada diposisi sulit jika aku menanyakannya. Membuat dirinya tak lagi merasa nyaman, lalu kembali pergi dan menghilang seperti kemarin. Bisa jadi selamanya.
Kembali diam dalam jeda yang lebih lama, dengan perasaan nyaman yang sama. Sampai akhirnya ia putuskan untuk menyudahi perbincangan tengah malam tadi, setelah aku mengiyakan.
—————————————————————————————————-
P. S : Hei, wanita tangguh yang usia sebenarnya lebih dulu 2 bulan dariku, Aku harap itu bukan yang terakhir. Masih ingatkah janji di masa lalu? bahwa apabila nantinya ada kenyataan yang tak berjalan sesuai harapan, diantara kita tidak akan ada yang berubah, tidak perlu terpengaruh. Pasti ingat.
Sekalipun sulit buatku, itu bukan berarti aku tak bisa. Maklumi saja sampai waktu sepenuhnya memulihkan keadaan kita satu sama lain. Semoga tak perlu lagi ada yang menjarak antara kita. Semoga kelak, akan ada waktu dimana kita saling bercerita tentang bahagia baru yang patut kita bagi. Iya, bahagia baru.