02 Februari 2018
Mari akan kuceritakan tentang salah satu temanku, sebut saja dia Mas Maf.
Mas Maf salah satu temanku di Sekolah Menengah Atas. Saat itu kami masih sama sama menduduki kelas X. Kami tinggal di komplek perumahan yang sama, jadi ketika perjalanan berangkat dan pulang sekolah kami sering berpapasan. Menurutku kami bukan teman akrab tapi kami juga tidak bisa disebut teman biasa.
Singkat cerita karena sering didahului olehnya saat dijalan, egoku sedikit tergores. Aku merasa aku sudah kencang saat berkendara tetapi kenapa tetap ada yang mendahuluiku. Sejak peristiwa penggoresan ego berlangsung, aku semakin senang menarik gas motor lebih dalam lagi. Adrenalinku menaik saat aku berhasil mendahuluinya. Yaah meskipun spesifikasi motor kami sangat berbeda, namun itu tak menyurutkan semangatku untuk mendahuluinya.
Yang ada dipikiranku hanya “aku harus lebih cepat dari dia”, hahaha.
Aku mengagumi cara berkendaranya. Mulai dari bagaimana dia meliuk saat menyalip becak hingga bagaimana dia bisa mengontrol kendaraannya sebelum mencium kendaraan lain.
Hari demi hari berlalu, Tuhan memutuskan pertemanan kami sedikit naik dari sekedar “teman balapan” menjadi “patner balapan” -sebenarnya disini dia sedang mengajariku tentang seluk beluk jalan raya tetapi ia menolak dipanggil guru-. Mas Af mengajariku banyak hal, tetapi yang paling kuingat ialah cara meningkatkan adrenalin dalam hitungan sepersekian detik. hahaha.
Dia guru yang baik.
Di saat kami sibuk mempersiapankan kegiatan prakerin. Tuhan memanggilnya, rupanya waktu Mas Maf untuk menghadapi kemunafikan di dunia ini telah habis.
Tuhan yang mempertemukan dan Tuhan pula yang menjauhkan.
Dari kisah singkat itu aku belajar banyak hal, salah satunya “tunjukkan rasa sayangmu selagi kau bisa, buat orang yang kau anggap penting sadar jika mereka memang penting di hidupmu. Hargai kehadiran dan kehidupan mereka, karena seperti jodoh yang rahasia kematianpun tak kalah rahasianya”.
Hey Mas Af, jadi dapat taman yang mana nih
cc : @kitakalimantan










