Kenangan Yang Tak Terlupakan
Aku masih selalu mengingat karena aku melekat dan tumbuh dalam ingatan
Aku masih mengingat ketika pentil susu ibu melekat hangat pada bibirku yang masih rewel ketika haus tak kunjung terobati. Aku juga masih mengingat pertama kali ibu mengajarkan aku menggunakan pembalut ketika pertama kali aku terkejut melihat darah melekat pada celana dalamku yang lucu itu. Aku masih mengingatnya.
Masa kecil bagiku bukan masa yang indah. Tak usah muna, tau apa kau perihal keindahan dan kebahagiaan ketika kita masih kecil? Kita mengatakan indah ketika kita sudah beranjak dewasa dan berusaha kembali mengingat masa kecil kita. Iya, kita menganggapnya indah dan penuh kebahagiaan karena kita sedang terjebak dengan kehidupan yang rumit ketika kita dewasa seperti ini.
Kita membandingkan antara pr matematika dengan cinta. Kita membandingkan pipis di celana ketika kita masih kecil dengan hamil di luar nikah. Kita membandingkan main becekan ketika hujan dengan skripsi yang tak kunjung disetujui. Kita membandingkan minum susu berantakan tapi tidak dimarahi Ibu dengan kegiatan kampus yang mengharuskan kita pulang malam. Kita.... kita masih saja membandingkan semua itu dan menganggap masa kecil adalah masa yang indah tanpa beban dan masalah.
Kita berada pada waktu yang tepat, pada zaman yang tepat, pada umur yang tepat, pada masalah yang diberikan dengan sangat tepat. Berusaha merangkak dan berjalan adalah masalah untuk para bayi yang memang belum bisa berjalan. Berusaha memakai pembalut sendiri tanpa terbalik, tanpa bocor sana sini adalah masalah untuk anak perempuan yang baru merasakan ada darah yang mengalir dari vaginanya. Berusaha menahan tidak main bola karena baru saja disunat adalah masalah bagi anak laki-laki yang ingin dikatakan sebagai laki-laki dewasa dan penuh tanggungjawab.
Tidak, aku tidak merasakan kebahagiaan saat kecil, maupun sekarang. Tapi satu hal yang aku tahu, aku menikmati kehidupanku.
masa kecilku tercatat dalam kamus kenangan yang sudah usang dan disimpan dalam kolong tempat tidur. Membukanya perlu beberapa kunci ingatan yang tersebar di beberapa tempat seperti rumah sakit, taman kanak-kanak, sekolah atau pada pelukan ibu yang sering kurindukan tiap kali sakit.
Masa kecil bagiku ialah frasa dari beberapa rasa bukan kata kerja atau kata liburan yang sering kujumpai di antara penat dan kenyataan dunia orang dewasa yang penuh kepalsuan.
Waktu kecil aku sering mencicipi tanah coklat yang penuh kata bahagia. Aku sering bermain hujan tanpa memaki "duh sialan hujan" atau "asu hujan ini bikin keingat mantan".
Waktu kecil panggilan pulang ialah suara ibu yang kudengar bukan suara bel pulang kantor.
Waktu kecil aku bermain imajinasi melukiskan teman imajiner dalam selembar kertas dan bercakap cakap dengannya atau bertanya pada robot pemberian ayah, tanpa harus diberi embel-embel "kamu gila ngomong sendiri".
Masa kecilku berat,karena tersusun dengan kata kesepian. Dikucilkan teman atau dianggap berbeda karena tidak bisa menendang bola. Aku hanya bisa menendang tangis di depan wajah ibu ketika ia bertanya "gimana sekolahnya senang bukan?"
Masa kecil ialah kamus yang akan tetap kita simpan boleh dijadikan pelajaran atau dijadikan teman saat butuh pelarian sesaat bukan selamanya, karena hidup ialah pertanyaan dan mati ialah tanda tanya.
Aku di masa kecil adalah sosok kalem yang benci dengan pertengkaran dan tak mau ambil pusing dengan kekacauan yang sedang terjadi.
Aku di masa kecil adalah aku yang menjadi objek kecemburuan sosial, baik karena pakaianku yang menurut haters terlalu bagus, otak yang terlalu pandai, wajah yang terlalu imut, sifat yang pendiam, anak yang penurut, apapun itu aku selalu salah di mata para haters.
Aku di masa kecil adalah aku kecil kesayangan ibu. Aku selalu menceritakan apa yang terjadi kepada ibu. Mulai dari aku yang dikejar-kejar oleh angsa, aku yang memetik bunga milik tetangga, hingga siapa saja yang mengobrol denganku dan apa yang kita obrolkan.
Aku di masa kecil bukanlah aku yang tak pernah nakal, hanya saja kenkalanku tak pernah terendus radar orang dewasa manapun. Para orang dewasa hanya bisa menemukan hasil kenakalanku bukan memergokiku saat aksi itu berlangsung. Aku pernah menggunting lemari gantung dari plastik hanya karena aku ingin dia memiliki dua pintu. Ibuku takpernah tau kapan aku mengguntingnya, beliau hanya bisa menikmati hasil karyaku.
Aku di masa kecil adalah aku yang suka bermain dan menjelajah. Aku pernah bermain hide and seek di toko baju bersama ibuku dan karyawan yang melayani beliau. Hide and seek itu bukan sesuatu yang aku rencanakan sendiri. Awalnya aku membantu ibu memilih baju yang akan beliu beli. Setelah sekian lama beliau memilih dan takkunjung selesai. Aku memutuskan untuk duduk di dalam etalase baju-baju panjang. Di sana hangat, Aku suka. Aku bermain dengan baju baju di sebelahku hingga tiba tiba ada tangan yang menggendongku, ternyata beliau ibuku.
Masa kecil adalah hadiah terindah yang pernah tercipta
Dewasa ini banyak sekali manusia yang sangat merindukan masa kecilnya, termasuk aku salah satunya. Aku sangat merindukan masa kecilku, masa dimana aku masih belum mengenal masalah, belum mengenal cinta, belum mengenal tugas-tugas kuliah dan juga belum mengenal smartphone.
Mungkin banyak dari kita yang sudah dewasa tersenyum sendiri ketika mengingat kecilnya, mengingat kenakalan-kenakalan yang pernah dilakukan, mengingat permainan-permainan konyol untuk mengisi waktu luang dan mengingat teriakan emak yang memanggil untuk segera pulang karena maghrib akan segera tiba.
Aku masih ingat dengan detail bagaimana cara untuk mencuri jagung disawah, memanen buah-buahan milik tetangga saat malam tiba, melempari rumah orang yang aku anggap jahat dengan petasan, membuat rumah-rumahan ditengah sawah dan betapa sakitnya ketika tengu menyerang bagian vitalku.
Saat bulan Ramadhan tiba, tak sesekali juga aku dan kawan-kawanku sudah membatalkan puasa kami sebelum waktu maghrib tiba. Kami berjalan kesawah dengan perasaan yang masih tak memikirkan dosa, dengan perasaan senang gembiranya anak kecil dan juga tak lupa kami bawa bebekalan untuk membatalkan puasa yang telah kami ambil dari ladang tetangga dan kami sembunyikan dibalik baju kami semua.
Memang nakal tapi itu semua masuk dalam bingkai kenangan kan? Masih banyak sebenarnya kenakalan-kenalan yang kulakukan pada masa kecilku (kayaknya masa kecilku nakal semua isinya, haha).
Ah semua kenakalan itu yang membuat masa kecilku terasa unik, masa kecil yang sangat bahagia dengan segala kisah yang mampu membuat tertawa sampai terbahak-bahak saat mengingatnya.
Prosa ini di buat untuk melunaskan writing project bulan November 2017
cc : @kitakalimantan @tumbloggerkita @kitajateng