Saat tulisan ini berhasil di unggah, lagu ini baru berumur 2 hari. Diawali dengan “Ku terbangun lagi di antara sepi, hanya pikiran yang ramai”. Meski siang hari berhasil dilalui, terkadang malam lebih rumit untuk diakhiri. Saat rasanya ingin mengutuk diri, tapi tersadar akan banyak hal yang berhasil dilewati.
Ketika dunia memperlihatkan bahwa adil benar-benar dipertaruhkan di dalamnya, sudah berusaha bersyukur sekuat tenaga, tapi “rela memang tak semudah kata”. Berpura pura tertawa, menahan luka, kita hanyalah manusia biasa. Beberapa luka tidak mudah sembuh seutuhnya. Bekasnya berlindung di balik kata 'hanya sedang lupa'. Hingga semuanya bercampur menjadi satu sampai rasa sakitnya sudah tak berupa.
Yang luarnya utuh, barangkali dalamnya hilang separuh. Terlihat tangguh, padahal rapuh. Semoga sampai suatu saat nanti, saat dunia kembali bergemuruh, tidak mudah untuk runtuh.













