Belakangan, setiap kali melihat perdebatan soal kebijakan pemerintah, nilai rupiah yang melemah, susahnya mencari pekerjaan, atau jarak antara janji politik dan kenyataan sehari-hari, aku sering bertanya: sebenarnya bagaimana kita bisa sampai di titik ini? Jawabannya tentu tidak sesederhana menyalahkan satu pemerintahan atau satu tokoh. Sebagian jawabannya mungkin ada di sejarah yang tidak selalu kita pelajari secara utuh.
Kita mengenal Soekarno sebagai Proklamator dan presiden pertama Indonesia. Namun tidak banyak yang tahu bahwa pada masa Demokrasi Terpimpin, sejumlah lawan politik dipenjara tanpa pengadilan. Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Indonesia sekaligus salah satu intelektual terbesar republik, menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya sebagai tahanan politik. Mohamad Roem, tokoh penting di balik Perundingan RoemāRoijen yang membantu mempertahankan kedaulatan Indonesia, juga pernah dipenjara. Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia bahkan dibubarkan karena dianggap mengancam negara.
Lebih jarang lagi dibicarakan adalah Tan Malaka. Padahal melalui Naar de Republiek Indonesia (1925), ia termasuk tokoh paling awal yang secara terbuka menggagas bentuk negara Republik Indonesia. Setelah kemerdekaan, ia ditangkap beberapa kali oleh pemerintah republik, lalu ditembak oleh pasukan Tentara Nasional Indonesia pada 1949. Status dan lokasi makamnya bahkan baru diketahui puluhan tahun kemudian.
Ketika Soekarno jatuh dan Orde Baru berkuasa, cerita sejarah kembali berubah. Peristiwa 1965 selama puluhan tahun diajarkan sebagai kemenangan negara atas ancaman komunisme. Namun yang lebih jarang dibahas adalah pembantaian massal setelahnya yang menewaskan ratusan ribu hingga lebih dari satu juta orang. Banyak yang dipenjara tanpa pengadilan, kehilangan pekerjaan, hak politik, bahkan dicap seumur hidup hanya karena dianggap terkait dengan kelompok tertentu.
Tidak banyak juga yang tahu bahwa sejumlah guru, seniman, pegawai negeri, hingga penulis pernah dilarang bekerja dan dibuang ke Pulau Buru tanpa proses hukum. Salah satunya adalah Pramoedya Ananta Toer, yang kemudian menulis Tetralogi Buru dari pengalaman panjangnya sebagai tahanan politik.
Setelah Reformasi 1998, ruang kebebasan memang lebih terbuka. Namun banyak luka sejarah yang belum benar-benar selesai. Nama-nama seperti Marsinah, Udin, Wiji Thukul, Munir, para korban Trisakti, Semanggi, hingga keluarga korban penculikan aktivis masih menyisakan pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab sampai hari ini.
Yang membuatku heran, sebagian besar cerita ini hampir tidak pernah muncul saat aku belajar sejarah di sekolah. Padahal sejarah bukan hanya soal pergantian presiden, pembangunan, atau kemenangan politik. Sejarah Indonesia juga dibentuk oleh mereka yang dipenjara, diasingkan, dibungkam, bahkan dihapus dari cerita resmi. Jika kita hanya mengenal para pemenang, maka kita hanya memahami separuh dari perjalanan bangsa ini. Sebab Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang namanya tercatat besar dalam buku sejarah, tetapi juga oleh mereka yang tersingkir, dibungkam, atau perlahan dilupakan.
Sebagai rakyat biasa, doaku sebenarnya sederhana. Semoga negeri ini mampu belajar dari masa lalunya sendiri. Semoga para pemimpinnya tidak hanya sibuk mengejar angka, proyek, atau citra, tetapi juga benar-benar mendengar kegelisahan rakyatnya. Dan semoga Indonesia yang kita cintai ini tetap menjadi tempat yang memberi harapan, menghadirkan keadilan, serta menyediakan kehidupan yang lebih baik bagi generasi hari ini maupun generasi yang akan datang.







