Ayat - Ayat Cinta 2 (Movie Review, 2017)
Waktu awal diumumin bakal ada film Ayat-Ayat Cinta 2, jujur saja aku tidak terlalu excited. Kenapa? Karena aku tidak menyukai perubahan karakter Fahri yang mereka buat di film AAC1. Ntah kenapa aku selalu merasa tingkat kealiman Fahri menurun dibandingkan dengan di novel. Dan ternyata hal itu kembali terulang di film kedua ini.
Ada banyak scene yang membuat alis ku berkedut. Fahri yang digambarkan sangat paham soal agama dan bagaimana Islam memuliakan seorang wanita, tapi justru tidak menolak saat diajak "berkhalwat" dengan seorang gadis yang bukan muhrimnya, walaupun gadis tersebut adalah sepupu istrinya sendiri. Bagaimana mungkin seorang Fahri mau diajak selfie berdua bareng Hulya, tidak menolak saat Hulya memperbaiki dasinya, duduk berduaan dengan Hulya di taman (Yang aku tau Fahri di novel ga akan mungkin mau melakukan hal-hal itu)
Hal lain yang membuatku kecewa adalah karakter Hulya. Aku memang tidak pernah menyukai Hulya di buku karena aku selalu merasa dia terlalu agresif, walaupun begitu Hulya tetaplah seorang muslimah yang berhijab sempurna dan santun. Tapi di film karakter Hulya dibuat tidak berhijab dan jauh lebih agresif membuatku semakin tidak bersimpati dengannya (Hulya di film memang digambarkan sebagai karakter yang lebih cerdas dan akting Tatjana sangat bagus but sorry I just cant like her). Karena itu aku sama sekali tidak merasa sedih saat scene Hulya kritis hingga meninggal.
Satu-satunya konflik dari AAC2 adalah keberadaan Aisha. Tapi justru misteri penting ini malah sudah terungkap di pertengahan film sehingga film AAC2 terasa berjalan kosong tanpa konflik. Tidak ada scene yang menegangkan sepanjang film kecuali menjelang ending.
Hal lain yang sangat disayangkan adalah minimnya scene Sabina dan interaksi Fahri dengan Sabina. Karakter Sabina merupakan karakter kunci utama di film ini tapi karena antara Fahri dan Sabina nyaris tidak ada interaksi, justru membuat momen "penting" mereka di menjelang ending film tidak mendapatkan "feel" nya. Apalagi dengan dihilangkan nya bagian Fahri yang bersedia melamar Sabina si pengemis buruk rupa karena kagum dengan sikap Sabina yang rela mati saat membela penghinaan atas Rasulullah.
(Spoiler!!: Sabina adalah Aisha yang telah rusak wajahnya. Di buku digambarkan bagaimana Fahri selalu mencurigai kemiripan sikap antara Aisha dan Sabina walaupun kemudian Fahri hanya menggangap hal itu sebagai bentuk kerinduannya yang begitu mendalam terhadap Aisha. Tapi di film sama sekali tidak ada kecurigaan Fahri terhadap Sabina sehingga membuat penonton bertanya-tanya tentang cinta Fahri terhadap Aisha karena tidak dapat mengenali istrinya sendiri. Ditambah lagi keresahan dan kebimbangan Fahri terhadap hilangnya sosok Aisha tidak digambarkan begitu jelas di film sehingga kesannya Fahri sangat mudah terbuai oleh rayuan Hulya dan menerima tawaran lamaran dari ayah Hulya. Sayang sekali Dewi Sandra tidak diberi kesempatan untuk mengeksplore lebih sebagai Sabina/Aisha, padahal akting Dewi Sandra cukup baik memerankan karakter ikonik yang sudah sangat melekat dengan Rianti)
Tapi yang paling membuatku kecewa adalah hilangnya beberapa bagian penting di buku dalam film AAC2 ini sehingga plot nya terasa berantakan dan membuat penonton yang tidak membaca bukunya merasa kebingungan dengan transformasi drastis setiap karakter. Kenapa Jason yang sangat membenci Fahri tiba-tiba mau menyambut baik ajakan persahabatan dari Fahri? Kenapa Keira tiba-tiba meminta Fahri untuk menikahinya hanya karena dia tahu bahwa Fahri adalah "malaikat penolongnya" selama ini? Apa yang membuat nenek Catarina yang seorang Yahudi sangat menyayangi Fahri yg muslim? Kenapa Fahri bisa dengan mudahnya meminta Sabina si pengemis untuk menjadi asisten rumah tangganya tanpa takut menimbulkan fitnah, apalagi saat itu kondisi Fahri sedang ditinggal istrinya? Apa itu amalek? Kenapa orang-orang Yahudi menyebut Fahri amalek?
Kekayaan ilmu dan pesan-pesan yang terdapat di buku justru gagal disampaikan melalui film ini.
Jika ditanya apakah film AAC2 ini sesuai ekspetasiku sebagai pembaca bukuya? Jawabannya adalah Tidak. Lalu apakah AAC2 layak ditonton? Iya jika engkau adalah penggemar berat kisah cinta Fahri dan Aisha. Film ini bisa mengobati kerinduanmu menyaksikan visualisasi kisah mereka. Tapi jika engkau hanya ingin melihat akting para pemainnya atau belum pernah sama sekali menonton / membaca AAC, lebih baik sabar saja menanti film ini diputar di televisi.