Dia tak ingat kapan mulai membangun istana kaca itu.
Ekspektasi, harapan, dan doa. Itulah pondasi dari istana kaca. Berlapiskan ambisi, harga diri, dan mimpi, lengkaplah istana megah nan indah itu. Tapi segala kemegahan tak membuatnya tinggi hati. Diajaknya semua orang yang ditemuinya untuk masuk. Menikmati sudut demi sudut istana. Mereka menyukainya.
Hari demi hari, semakin banyak orang yang berkunjung. Dia tidak keberatan. Dia justru bangga, memperlihatkan segala yang dimilikinya dengan rendah hati. Dia adalah magnet bagi mereka yang senang tipe matahari sepertinya.
Dia kira, istana itu akan tegak berdiri selamanya.
Dia lupa, bahwa yang dia bangun adalah istana kaca.
Rapuh dan lemah.
Hanya butuh kerikil kecil untuk menghancurkan segala yang dibangunnya selama bertahun-tahun.
***
Mereka berdua mematung menatap papan pengumuman.
"Kak," sosok muda di sampingnya mengernyitkan dahi. "Itu judul skripsi kakak, kan?"
Seharusnya, sosok yang lebih tua berbisik pedih. Seharusnya, andai orang yang paling dia percaya di dunia tidak menusuknya dari belakang.
Warna yang terbilang ceria. Tapi mereka mengkhianatiku. Kelopak bunga. Langit biru cerah. Semesta seakan bersekongkol untuk menghantamku dengan kebahagian yang ada hari ini.
Kebahagiaanmu.
Sial. Kenapa dari sekian manusia yang ada, harus dirimu menjadi pusat semestaku? Kenapa kamu yang harus mampir di kehidupanku, tapi tak kunjung memasuki hatiku, padahal sudah kubuka pintu selebar mungkin?
Kamu.
Yang bahkan tidak mengetahui namaku.
"Selamat atas pernikahannya."
Terlihat senyum bahagiamu, sebelum kualihkan pandangan pada sahabatku yang akan menjadi pendamping hidupmu.
Hatiku koyak.
Sama seperti kelopak bunga yang berserakan di panggung pelaminan, terinjak demi kebahagiaan orang lain.
'Kebahagiaan orang yang dicintai adalah kebahagiaan kita juga', apanya? Omong kosong.
Aku tercenung. Sejujurnya, lumrah mendengar pertanyaan itu di saat orang sekitar menyadari bahwa aku telah bolak-balik di tempat yang sama selama berjam-jam.
Tapi, bisa kurasakan orang yang menghampiriku memiliki sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang ... aneh. Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang menusuk.
"Apa kau tersesat?"
Entah bagaimana aku tahu bahwa dia tidak menanyakan tersesat secara fisik.
“Aku tidak terlalu suka langit biru. Cerahnya terlalu menyilaukan.
Aku juga tidak terlalu suka langit mendung. Kelabunya membuat murung suasana.”
“... Lalu, apa yang kau sukai?”
“Langit biru dengan selapis tipis kelabu, membuat kombinasi warna yang tidak terlalu biru, juga tidak terlalu abu. Warna yang tidak menyilaukan, juga tidak menyendukan batin.
Sama seperti aku melihat kehidupan. Tidak senang berlebihan, tapi tidak juga sedih yang mendalam.
Musim gugur. Musim ketika pohon diberi dua pilihan. Mempertahankan daun, atau menjatuhkannya.
Bohong, sebenarnya, kalau dikatakan bahwa mereka diberi pilihan, di saat mereka hanya bisa melakukan apa yang mereka bisa. Beruntunglah mereka yang bisa mempertahankan daun. Kalau tidak? Yah, mereka tidak memiliki pilihan lain.
Kamu.
Senyummu mengatakan kalau kau memilih tetap bertahan. Tapi jangan kau tipu diriku, memangnya aku tidak sadar kalau jiwamu berada dalam posisi tidak memiliki pilihan selain jatuh?
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Erwin, dan dengan segera dia menyesalinya. Diliriknya teman serumahnya itu, masih berkutat dengan laptopnya sendiri. Aga, sang teman, hanya terkekeh tanpa mengalihkan pandangan.
"Mas sama Mbak baik-baik aja, Win. Mereka lagi seneng si kecil lagi aktif banget," cengiran tidak hilang dari wajah Aga. "Gua rencananya mau nengok mereka Sabtu nanti, kangen berat sama ponakan tersayang gua. Lu ikut gak?"
"Boleh," jawab Erwin, mengingat sudah lama dia tidak menengok mantan bosnya sekaligus kakak ipar Aga. Tidak ada salahnya menyisihkan waktu untuk mampir, lagipula dia pun sama kangennya pada bayi mungil yang kabar terakhirnya mulai bisa merangkak ke sana kemari.
Meski begitu, Erwin sebenarnya tidak hanya menanyakan kabar kakaknya Aga dan suaminya. Dia sudah tahu betul pola jawaban Aga kalau ditanya soal keluarga. Dibalik senyum dan keceriaan Aga, dia masih menyimpan luka atas perceraian orang tuanya di masa kecil. Bagi Aga, keluarganya yang tersisa hanya sang Mbak, yang lalu bertambah dengan keberadaan si Mas dan si kecil.
Ah, keluarga...
Erwin memejamkan mata. Bagaimana kabar orang-orang yang dia tinggalkan sekian tahun yang lalu? Apa mereka masih bertahan bersama, ataukah mereka pun mengambil jalan yang sama dengan orang tua Aga? Juga gadis yang ditinggalkannya ... apa dia baik-baik saja?
Erwin menghela napas. Memikirkan masa lalu tidak pernah membuatnya bisa tenang.
"Menurut kamu, saya baiknya beliin apa buat mereka?"
"Suka-suka lu dah, yang penting jangan sama kayak yang bakal gua bawa."
"Siap."
Lebih baik fokuskan saja pada 'saat ini', dengan orang-orang tersayang yang ada.
Ya, itu seharusnya pilihan yang terbaik untuk Erwin.
Kilas balik seluruh cerita fiksi yang makhluk ini buat setahun ke belakang.
(mari melupakan final untuk sejenak)
List of works published this year (from oldest to latest):
Januari
Keluarga
Monolog Malam
Februari
Disconnect (hanya prolog)
Kakak (publish cerita lama)
Ulang Tahun
Maret (judulnya berdasarkan prompts)
1. Chills
2. Broken Object(s)
3. Warmth
4. Wet
5. Buckets
6. “Let’s play hide and seek!”
7. Leaves
12. “It’s a hobby of mine.”
April
Biru dan Kelabu (publish cerita lama)
Hilang
Mei
-
Juni
-
Juli
Rokok
Agustus
-
September
-
Oktober (judulnya berdasarkan prompts #angstober)
1. Shattered Flowers
2. Castle of Glass
23. Full Moon
24. Morning Breeze
25. Nightmare
26. Yellow Tulip
27. Last Wishes
28. Broken Wings
30. A Little too Late
November
-
Desember
-
(Kesimpulan: Cuma nulis cerpen/drabble dan dipost di sini aja)
Work you are most proud of (and why):
None. Ku cinta karya-karyaku sama rata meski kadang kubilang sampah wkwk
Work you are least proud of (and why):
None. Ku cinta karya-karyaku sama rata meski kadang kubilang sampah wkwk (2)
A favorite excerpt from your writing:
Hatiku koyak.
Sama seperti kelopak bunga yang berserakan di panggung pelaminan, terinjak demi kebahagiaan orang lain.
‘Kebahagiaan orang yang dicintai adalah kebahagiaan kita juga’, apanya? Omong kosong.
(1. Shattered Flowers)
Share or describe a favorite comment you received:
Jarang ada yang komentar, tapi Teteh bilang dia jadi suka Hanif anakku, aku jadi merasa uwu anakku ada yang notis ehehehehe kusenang. Ku juga senang ada komentar dari Nda hehehe. ((((okeinipenjelasanrandombanget))))
A scene or character you wrote that surprised you:
Mia alias Mirana.
Karena aku jujur lupa udah nulis apa aja tahun ini, jadi merasa sedikit kaget waktu tau aku nulis satu cerita tentang Mia. Dia itu karakter yang kubikin paling lama dari semua cerita-cerita yang lain. Aku bikin karakter dia sejak SMP, tapi cerita dia belum kubikin sampai sekarang haha. Karena semakin bertambahnya umur, aku mikir bahwa pengkarakteran Mia harus benar-benar digali sedemikian rupa, jadi gak bisa main-main, apalagi setelah itu ada imbasnya ke Aruna dan Senja, juga karakter lain yang ceritanya enggak dipost di sini.
How did you grow as a writer this year?:
Sejujurnya sempet kecewa. Merasa gak menghasilkan karya selama setahun. Makanya bikin ini dan rasa kekecewaan lumayan terobati. Ternyata masih nulis beberapa karya meski semuanya hanya berupa drabble atau cerpen. << ketauan udah lupa nulis apa aja
How do you hope to grow next year?:
Lebih produktif. Nulis banyak drabble itu oke, cuma lebih asyik lagi kalau bener-bener bisa namatin satu cerita panjang atau novel atau novelet atau apalah namanya //heh.
Diksi juga lebih berkembang, jadi nulis gak cuma pake kata yang itu-itu aja.
Ingin juga bisa menulis sesuatu yang baru.
Berharap juga menulis sesuatu yang bisa menarik pembaca untuk berkomentar (segala kritik dan saran akan diterima dengan sangat senang hati).
Oh iya, banyak baca juga.
Who was your greatest positive influence this year as a writer (could be another writer or beta or cheerleader or muse etc etc):
Banyak sih. Selain komentar Teteh sama Nda, mulai kembali baca fanfic. Itu sangat membantu, bikin jadi kangen dan semangat untuk nulis.
Anything from your real life show up in your writing this year:
Ada. Satu cerita yang gak akan dipublish di sini.
Any new wisdom you can share with other writers:
Lebih ke pengingat untuk diri sendiri sih. Banyak baca. Banyak nulis. Banyak belajar hal baru. Hobi boleh tapi jangan lupakan kewajiban juga.
Any projects you’re looking forward to starting (or finishing) in the new year:
Ingin namatin cerita wibsib (Leila dan Hanif) sama seri bucin (Dira dan Garu meskipun lebih ke Garu). Kalau bisa nyentuh ke seri lembayungemas (Senja Aruna Mirana Aga dll) pun lebih oke.