Malam tak pernah terasa sedingin ini.
Selimut sudah kudekap erat, menutupi seluruh badanku. Tubuhku menggigil entah karena dinginnya malam atau rasa sakit yang berasal dari tangan kanan hasil pembengkakan jarum infus yang telah dicabut. Namun, untuk alasan apapun itu, rasa takut yang menyelimuti diri terasa mencampuradukkan mimpi dan realita. Demam dan rasa dingin rasanya bergantian merasuki tubuh ini.
Berkali-kali aku tertidur untuk kemudian aku terbangun lagi tiga puluh menit kemudian. Begitu seterusnya hingga fajar menjelang.
Dalam malamku, aku sempat berharap. Semua ini mimpi dan segalanya akan kembali seperti biasa. Aku akan mendapati diriku kembali ke tempat tidur nyamanku, tak ada rasa sakit, rasa dingin, rasa demam, dan rasa takut yang menyelimuti diriku. Namun, berkali-kalipun aku membuka mata dan mendapati aku masih berada dalam kamar rumah sakit yang sama, di mana mimpi buruk itu dimulai. Rasa putus asa pun mulai menyerang.
Aku berdoa, berharap, menangis, meminta ampun, memohon, segala hal yang bisa kulakukan, kulakukan saat itu. Rasa sakit itu nyata, kenyataan perih itu juga nyata, semuanya bukan mimpi dan menyangkalnya hanya akan menambah perih.
Maka, kujadikan malam itu sebagai malam untuk menumpahkan seluruh rasa putus asa dan sedihku. Untuk esoknya aku temukan hari baru dan semangat baru. Selalu ada jalan disetiap musibah adalah janji-Nya. Maka kupercayakan seluruhnya pada sang Pemilik nyawa, kumohonkan kekuatan.
Dan aku tahu, aku percaya, aku menyaksikan.
Makassar, 15 September 2012