flex desk (flexible desk)
Sekarang kamu tinggal sendirian? bareng keluarga kamu? atau bareng temen-temen kosan/kontrakan kamu? pernah ga ngerasa kesel pas semua hal udah kita beresin, kita udah coba decluttering tapi ternyata gak lama kemudian semua kembali ke keadaan semula. berantakan lagi, berantakan lagi. lama-lama capek ternyata dan akhirnya yang awalnya idealis menjadi seseorang yang suka bersih dan ngerapihin, tiba-tiba ada satu kondisi dimana kita sudah tidak peduli lagi dengan kondisi kerapihan dan membiarkannya tetap berantakan. Kalau kamu pernah mengalami hal yang sama, kamu boleh lanjut baca post ini. have a nice read.
Potret dari teman satu perjuangan selama beberapa bulan ini
sebelumnya fyi dulu kalau sekarang saya tinggal di sebuah rumah milik dimana penghuninya 6-10 orang per hari. ini tergantung sedang weekdays atau weekend. kalau sedang weekdays, mungkin maksimal 6 orang. tapi kalau weekend bisa sampai 10, malah terkadang 12 orang. Tentunya semua orang yang ada di rumah tersebut mempunyai habbit dan tingkat kerapihan dan kebersihan yang juga berbeda-beda. Ada yang rapih dan ada yang tidak rapih. Yang rapih pun ada dua jenis, ada yang rapih ke semua barang dan ada yang rapih hanya pada barang sendiri. Pokoknya unik saja. Saya yakin pasti ada beberapa dari teman-teman minimalis yang juga pernah atau bahkan sedang mengalami pengalaman yang sama. Apalagi kalau kita adalah tipe yang merantau saat studi, hidup bersama orang lain di kontrakan mungkin akan menjadi sesuatu yang biasa.
Mimpi yang Tak Sampai
Awalnya saya mau sharing terkait bagaimana kita bisa menjaga kerapihan dan kebersihan di ruang yang biasa digunakan untuk mengobrol, menonton tv, dan menerima tamu. Apalagi kalau bukan ruang tengah. Marie Kondo dalam bukunya the life-changing magic of tidying up berkata kalau kita ingin bersih-bersih rumah kita. kita harus memvisualisasikan ingin seperti apa rumah kita. kalau kita hanya berkata “saya tidak ingin rumah tidak berantakan” atau “saya ingin rumah rapih” itu kurang tepat. Contoh yang diberikan oleh Marie Kondo yakni ada salah satu client perempuan yang ingin mengubah tempat tinggalnya menjadi hunian yang lebih feminis. Kalau saya pribadi, saya ingin membuat hunian saya menjadi seperti coworking space. Tapi saya pribadi merasa telah gagal untuk mencoba menjaga kebersihan di ruangan tersebut. Makin kesini saya merasa menyerah untuk membersihkan barang-barang yang tak pernah henti-hentinya berserakan, bekas makanan yang kadang tidak dibuang, sampai kertas-kertas/plastik yang entah datang darimana dan biasanya bertumpuk tidak jelas.
Misuhan
Mengepel? ah sudahlah, saya sendiri bertanya-tanya ada apa ini. Apakah kapasitas penghuni di rumah tersebut overload atau memang ada masalah yang lain. Padahal rumah yang sedang saya tinggali bisa disebut besar dan juga luas. Harusnya kapasitasnya tidak overload.
Dulu sebelum mendeklarasikan diri ingin menjadi seorang minimalis, saya adalah tipe orang yang suka misuh-misuh sendiri sambil bersih-bersih. Walaupun laki-laki, saya pernah menjadi yang paling cerewet sampai ada satu kejadian beberapa tahun lalau dimana saya berantem dengan seorang sahabat dari beasiswa hanya karena masalah kebersihan ini.
sayangnya orang minimalis yang berada lingkungan maksimalis biasanya akan terkesan perfeksionis dan idealis
iya lah gimana mau gak kesel ketika sudah membereskan dan merapihkan, tiba-tiba ada orang yang ‘kurang menghargai’ (begitu saya menyebutnya) hasil pekerjaan kita.
Francine Jay (miss minimalist) mengatakan selalu ada tiga tahap untuk menerapkan konsep minimalisme di sebuah tempat: rapihkan, simpan dan rawat. Rapihkan dan Simpan mungkin bisa kita lakukan sendiri. Tapi butuh banyak pihak untuk bisa ‘Rawat’.
Matt D’Avella dalam salah satu vidionya yang berjudul living with a non-minimalist memberikan tips bagaimana caranya tinggal bersama seorang yang bukan minimalis. Oh iya, fyi selain ada istilah minimalis. Ada juga istilah maximalist yang biasanya memaksimalkan ruangan yang ada untuk menyimpan semua barangnya. Ia berkata kalau kita tidak perlu memaksakan konsep hidup kita kepada seseorang. Biarkan mereka menjadi diri mereka. Just let them be. Cukup kita yang menerapkan, maka lama-lama mereka akan mulai respect dengan lifestyle yang sedang kita jalani (minimalisme).
“biarkan suasana yang tentram pada ruangan yang kita ciptakan menjadi perkenalan pertama keluarga kita dengan cara hidup yang lebih sederhana”, - Francine Jay
Miss minimalist pun mengatakan hal yang serupa, yakni kita harus memberikan contoh kepada orang-orang yang berada di lingkungan kita: teman kita atau pun keluarga kita.
Saya yakin bahkan saya, dan semua orang yang tak jarang misuh-misuh pun sudah melakukannya. Pertanyaan berikutnya, lalu harus apa? Seberapa bersih pun kita membersihkan rumah, tidak ada yang berubah. Berantakan adalah berantakan.
Declare
Saya menemukan hal menarik dari Fumio Sasaki. Dalam bukunya ia mengatakan agar kita tetap konsiten menjadi seorang minimalis. Kita harus mendeklarasikan diri menjadi seorang minimalis di lingkungan kita, -- dan di media sosial. Beritahu dunia bahwa kita yang dulu bukanlah yang sekarang. Kita sekarang adalah seorang minimalis yang sangat suka kebersihan dan kerapihan dan siap menerima dan sharing bersama kamu untuk mengikuti gaya hidup minimalis.
Kalimat ‘tolong jaga kebersihan’ mungkin sudah tidak bisa mempan lagi alih-alih menggunakan kalimat tersebut. Alangkah lebih baiknya menggunakan kalimat “saya sedang menerapkan konsep minimalisme. Kalau kamu tertarik, kamu bisa join”
Okay tadi itu dasar pemikirannya. Panjang juga ya ternyata. Sekarang kita langsung ke membahas flex desk.
Flex Space
Di dunia usaha ada yang namanya flex space yang berarti ruang kantor yang boleh digunakan siapa saja. Kita datang pagi, menempati satu meja yang kosong, bekerja disana sampai sore. Saat akan pulang, kita merapihkan dan membawa pergi semua barang. Meja tersebut pun bersih dan siapa digunakan untuk besoknya. Di case yang sedang saya hadapi, saya masih belum bisa menerapkan space di rumah yang saya tinggali karena saya tidak punya position yang cukup tinggi dan pasti ‘rawat’-nya akan cukup sulit. Jadi saya coba menerapkan konsep minimalisme ala Francine Jay ini ke yang lebih kecil dahulu yakni ke meja belajar/kerja yang selalu digunakan bersama. Saya menyebutnya flex desk.
Flex Desk
Gambar diatas adalah kondisi meja sebelum dibersihkan. Gambaran ketika semua orang di tempat yang saya tinggali tidak menggunakan konsep flex desk. Semua barang ada disana. Bahkan ada beberapa bumbu masak dapur nyasar ke meja kerja???. Jujur saya stress ngeliat kondisi kaya gitu. Saya pribadi benar-benar tidak bisa bekerja dengan fokus karena seolah-olah barang-barang tersebut memanggil-manggil untuk dibereskan.
Ini kondisi meja yang sudah diterapkan konsep flex desk. Permukannya benar-benar bersih dan saya bisa fokus mengerjakan sesuatu, termasuk menulis tulisan ini.
flex desk adalah meja kerja yang bisa digunakan (tentunya saya rapihkan dan pilh dulu barang-barang yang saya kan rapihkan sesuai kategori yang nantinya akan saya share di posting-an IG hari ini) oleh banyak orang. Mejanya tidak perlu canggih. Meja apapun yang bisa digunakan selama masih layak. Yang berbeda adalah ada aturan yang sama dengan flex space. Buat yang sudah berkeluarga, bisa menggunakan kata ‘game’ kebanding aturan. Setelah menggunakan meja tersebut, barang-barang yang dibawa ke meja tersebut harus dibawa pergi juga. All Surfaces Clear -- begitu bunyi dari salah satu metode STREAMLINE ala miss minimalist. Matt D’Avella pun mengatakan bahwa salah satu alasan mengapa kita menyimpan barang sembarangan adalah tersedianya banyak permukaan, pun termasuk meja kerja kita. Akan jadi panjang kalau saya bahas permukaan, jadi saya cukupkan untuk bahasanya surface dan akan saya bahas di tulisan lain.
Akhir Kata
Teman-teman minimalis bisa menggunakan konsep flex desk ini, jangan lupa untuk declare ke temen-temen dan media sosialnya. Kalau berhasil, saya sarankan untuk mencoba konsep flex space di ruang tengah. Semangat dan salam minimalis.
@ryanfryzky | menjadiminimalis.com

















