Sejak Kapan Nikah Punya Ukuran?
Akhirnyaa nulis lagi gara-gara tergelitik dengan salah satu kiriman di insta story seseorang yang bertuliskan “Nikah = Hijrah lama + ilmu tinggi. Sejak kapan nikah punya ukuran?”.
*****
Bismillaahirrahmaanirrahiim....
Sebelum membahas apa yang harus dibahas disini (?), mari kita cek dulu Apa itu Menikah?
Dalam Wikipedia, dijelaskan bahwa Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
nikah/ni·kah/ n ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama: hidup sebagai suami istri tanpa -- merupakan pelanggaran terhadap agama.
Dalam Islam, ada beberapa syarat sah pernikahan (sumber: https://www.arrahman.id/syarat-sah-pernikahan-berdasarkan-al-quran-dan-hadits/ ), antara lain:
Kerelaan kedua calon pengantin
Wali
Calonnya jelas dan tertentu
Saksi
***
Berdasarkan informasi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa selama sesuai dengan aturan hukum dan agama, maka tidak menjadi masalah. Begitu pula jika memenuhi syarat sah pernikahan maka sudah dapat dipastikan SAH.
Nah, kembali lagi ke topik pembahasan....
Bener ga sih nikah itu punya ukuran?
Bener ga sih kalau mau nikah harus hijrah lama dan punya ilmu tinggi? Trus gimana dong kalau yang baru hijrah dan baru belajar ilmu tentang pernikahan? Masa’ ga boleh nikah dulu?
Eiiittss, tunggu dulu....
Jangan langsung menyimpulkan..
Tenang....kalau mau nikah itu ga harus hijrah lama kok. Boleh baru hijrah, atau bahkan belum hijrah sama sekali.
Boleh nikah pas udah merasa punya ilmu yang mumpuni. Boleh nikah waktu masih belajar tentang ilmu pernikahan. Boleh bangeeet.
Trus gimana dong sama pendapat yang bilang bahwa nikah harus punya ukuran?
Yuk coba baca QS. An-Nur ayat 26 ini:
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Artinya:
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)’’. ( http://www.fiqihmuslim.com/2017/10/ayat-al-quran-tentang-pernikahan.html )
Berdasarkan QS. An-Nur ayat 26 diatas, bisa disimpulkan bahwa kita akan menikah dengan seseorang yang berbanding lurus dengan kita. Kita sering kan dengar kalimat jodoh kita adalah cerminan diri.
**
Trus apa dong hubungannya QS. An-Nur ayat 26 dengan topik tulisan kali ini?
Ada dong hubungannya...
Sebelumnya aku mau tanya, “Mau dapet jodoh seperti apa? Sosok yang baik-baik atau yang tidak baik-baik?”.
Pasti teman-teman akan kompak menjawab “Sosok yang baik dong”.
Nah sekarang pertanyaannya dibalik “Apa aku sudah baik? Apa aku sudah pantas?”.
Kalau ada yang tanya “Emang nikah ada ukuran?”
Ukuran disini terkait dengan kriteria calon, waktu target menikah, dan mau seperti apa pernikahan akan diadakan.
Jawabannya tergantung kalian. Mau seperti apa. Mau kapan. Mau sama siapa.
Semisal di tengah perjalanan berproses ada seseorang yang dirasa pantas dan sreg di hati telah berani datang melamar ke orang tua, maka bolehlah memutuskan untuk menikah. Begitu pun ketika baru akan berproses atau bahkan dirasa sudah selesai berproses. Tapi, semua keputusan yang diambil akan memiliki konsekuensi masing-masing. Jangan memutuskan sesuatu karena terburu-buru atau bahkan karena minder dengan teman-teman yang sudah banyak menjadi genap. Ambilah keputusan saat merasa sudah benar-benar siap. Siap dari segi apapun.
Ada dua pertanyaan yang biasanya ada di pikiran remaja jaman now:
Trus gimana dong misal kita sudah merasa hijrah lama dan ilmu yang mumpuni, kok dapetnya yang “ga selevel” sama kita.
Trus gimana dong misal kita merasa baru berhijrah atau belum punya ilmu yang cukup, tapi kok dapetnya “yang dewa”?.
Bingung ga tuh? Sama. Dulu aku juga bingung.
Bahas satu-satu yaaa... Oh iya, kali ini aku bakal bahas berdasarkan pendapat pribadi dan pendapat orang-orang di sekitarku yang sering ku ajak bertukar fikiran.
Pertanyaan poin 1:
“Kok udah pantas, tapi dapetnya yang masih menuju pantas?”
Mungkin... mungkin Allah percaya bahwa kamu mampu membimbing dan menjadikan ia sebagai ladang pahala serta berdakwah untukmu.
Pertanyaan poin 2:
“Aku ga pantes buat dapetin dia, dia terlalu baik untukku”
Allah lebih tahu yang terbaik untukmu. Bisa jadi Allah kirimkan ia sebagai penunjuk jalanmu kepada kebenaran dan penguatmu untuk berproses ke arah yang lebih baik.
Jadiii berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa keputusan ada di tangan kita masing-masing. Terserah mau pilih yang mana.
Yogyakarta, 9 Januari 2018.












