Sosial Media
Apa isi sosial mediamu? Pasti gak jauh-jauh dari foto orang nikahan, foto orang lahiran, foto bayik, foto orang pake toga, foto orang kerja kantoran dan yang paling sering adalah foto orang jualan dari makanan, baju, sampai hewan. Duh, bukan ngiri atau apa sih. Cuman, can we stop this?
Coba deh bayangin, lebih enak jaman dulu kan? Percakapan tua antar temen tanpa ujung, bukannya sibuk sendiri dengan instastory “Q-time with Arok”. Perhatian penuh saat guru/dosen memberikan kuliah, bukannya sibuk sendiri update status “Belajar dulu biyar pinter”. Benar-benar menikmati liburan yang aman, damai dan tentram, bukannya malah sibuk update foto “senengnya liburan di Bali”. Eh, padahal sebenernya nginep di kolong jembatan.
Yang dilakukan masyarakat kita sekarang ini adalah sibuk memamerkan apa yang sedang mereka lakukan. Bukan menikmati apa yang sedang mereka kerjakan. Sibuk melakukan yang terbaik bukan karena mereka benar-benar tulus, namun sibuk membangun citra di mata masyarakat biar kelihatan cantik, keren, pinter, tersiksa, bahagia, dermawan. Ah, sebuah hujatan lainnya pun muncul.
Kita bisa menjadi apa saja di dunia maya. Ingin menjadi orang kaya dengan postingan foto-foto liburan di berbagai tempat juga bisa. Atau ingin menjadi orang paling bahagia di jagad raya juga bisa. Ingin menjadi orang paling sedih di dunia juga bisa. Tetapi, ada satu hal yang penting yang perlu digaris-bawahi. Benarkah semua pencitraan kita di sosial media itu?
Aku memang memiliki banyak sekali sosial media, dari line, path, instagram, facebook, twitter, blogger, friendster, yahoo, tumblr, skype dan entah akun apa lagi. Dulu, aku memang sering ngepost sesuatu yang unfaedah banget. Misalnya lagi bete di post, lagi seneng dapet telepon update lagi, lagi hepi habis jalan-jalan upload foto. Seakan orang-orang bisa tahu aku lagi apa, aku seperti apa orangnya, kepribadianku bagaimana, sifat dan karakterku pun tak ketinggalan dari penilaian orang-orang.
Aku mulai tersadar ketika aku mulai sering kepo-in orang-orang yang postingannya malah suka nyakitin atau bikin sebel. Dari sini aku berpikir, “Dih, iya ya. Identitas kita diketahui dunia. Kita gak punya privasi lagi”. Ditambah lagi komentar temen-temen yang kalau lagi ketemu nanya-nya selalu “eh, nape lu status galau? Lagi galau yee?” atau mungkin “Enaknyaa jalan-jalan. Oleh-oleh dong!” dan masih banyak lagi. Komentar temen-temen yang seperti ini, aku anggap sebagai sebuah insult untukku. Aku berprinsip, yaudah sih yang terjadi di sosial media biarlah abadi di sosial media. Gak usah dibawa-bawa ke dunia nyata. Well, dengan kata lain, aku menganggap dunia maya dan dunia nyata itu berbeda. Jadi, gak sepantasnyalah kita membawa-bawa apa yang tertulis di dunia digital ke dunia nyata dan sebaliknya.
Sekarang, aku mulai ngerem sedikit demi sedikit penggunaan sosial media. Pun aku masih aktif di dunia maya, semuanya ku gunakan untuk menuangkan bacot-bacot yang kadang tak terkontrol dan tak tertampung lagi di simpen dalam otak serta hati.
Kalau masih ada aja orang yang ingin kepo tentangku (ciye, pedee!). Gak papa kaliii.. aku Open access kok. Gak kayak jurnal-jurnal penting yang kudu beli gitu. Instagram aku buka, facebook juga gak aku gembok. Tujuannya sederhana, aku ingin orang-orang yang masih kepo bisa mendapatkan manfaat dari ke-kepoannya. Setidak-tidaknya pikiran-pikiranku yang gak jelas ini ada yang baca. Sayang kan, udah ditulis dan gak dibaca.
So, siapa yang ingin mengikuti jejakku? Ayolah, gunakan sosial media dengan bijak. Kita manusia berbudaya kan?














