Doaku setiap hari, semoga selalu dijauhkan. Aku ingin dekat dengan keluargaku lagi seperti dulu ❤
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
No title available
Lint Roller? I Barely Know Her

JBB: An Artblog!
wallacepolsom
$LAYYYTER
Xuebing Du
Mike Driver

JVL

ellievsbear
Three Goblin Art

Kiana Khansmith
trying on a metaphor
sheepfilms
Today's Document

PR's Tumblrdome

Love Begins

izzy's playlists!
styofa doing anything
No title available

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from Kazakhstan

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Canada

seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from Maldives

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from Germany
@ungkapanhati
Doaku setiap hari, semoga selalu dijauhkan. Aku ingin dekat dengan keluargaku lagi seperti dulu ❤
Kamu nyesel?
Aku sih sekarang udah nyadar. Udah mikir kalau aku jadi kamu mah gak akan nyesel. Gak akan ngorek-ngorek mantan lagi. Gak akan deh pokoknya. Aku baru tau sifat aslinya soalnya.
Tau gak Rasanya?
Tau gak rasanya kamu belum beres ngelarin acara kampusmu sampai malam, kamu ketua acara itu, kamu bertanggung jawab penuh atas acara itu. Tapi kamu juga udah ditelponin cepet-cepet suruh pulang dengan nada marah?
Tau gak rasanya kamu rapat dari siang sampai sore, rapat belum kelar. Tapi kamu udah ditelponin kayak orang gila suruh cepet pulang dengan nada marah?
Tau gak rasanya ketika kamu harus ikut acara kampus, kamu dilarang. Sampai kamu dipaksa untuk menolak ikut dalam acara itu?
Tau gak rasanya ketika kamu udah semangat mau ngajar hal baru, kamu dilarang ambil mata kuliah itu cuman karena kamu dianggap dia gak kompeten. Sementara, pihak kampus yang udah milih kamu otomatis udah mikir kan kalau kamu bisa kompeten di bidang tersebut.
Tau gak rasanya kamu udah mati-matian belajar. Lihat hasilmu lebih baik daripada kampus lainnya. Tapi kamu selalu diremehkan dengan bilang gak bakal lulus kalau milih di kampus lain?
Tau gak rasanya ketika kamu terpilih jadi ketua suatu organisasi kampus. Kamu gak bisa lari dari itu, meski udah nolak. Kamu jadi overthinking takut kalau orang terdekatmu nyuruh kamu buat mundur dari jabatan tersebut. Sementara kamu mencoba untuk menjalaninya saja belum.
Tau gak rasanya kamu udah capek mikirin materi. Tapi ujung-ujungnya kamu diklaim kalau cara ngajarmu salah. Rasanya kamu tuh gak berharga dan bodoh banget.
Tau gak rasanya berpikir kalau menikah sesulit itu aku memilih untuk jadi anak Papa.
Selama jadi anak Papa, aku gak pernah ditelponin kayak orang gila pas ada kegiatan osis di SMA yang aku harus di sekolah sampai jam 9/10.
Selama jadi anak Papa, aku gak pernah disuruh mengundurkan diri ketika dipercaya memegang jabatan sesuatu.
Selama jadi anak Papa, aku gak pernah dipaksa pulang ketika ada rapat yang memakan waktuku sampai lewat batas jam pulang ke rumah. Paling ditanya kenapa lama pulang, kalau bilang ada rapat udah Papa gak akan marah.
Selama jadi anak Papa, aku memang pernah diremehin. Tapi Papa gak pernah terlontar dimulutnya ke aku. Ketika aku bisa membuktikan dengan usahaku sendiri baru terbongkar kalau selama ini diremehin Papa. Pas menang, Papa gak pernah lagi ngeremehin kemampuan dan usahaku.
Selama jadi anak Papa, aku gak pernah disuruh masak even mama lagi gak di rumah. Dipaksa beresin rumah sampai marah-marah, dipaksa nyuci baju Papa sampai marah-marah. Enggak. Gak pernah.
Selama jadi anak Papa, kebutuhanku selalu terpenuhi. Aku butuh makan dikasih. Bahkan ketika ada orang yang harus aku biayain juga Papa gak curiga dengan nuduh aku macem-macem. Padahal aku pengen dituduh. Aku pengen jadikan itu alasan buat aku menjauh.
Selama jadi anak Papa, aku bisa milih sampo, sabun, sikat gigi, odol sesuka hatiku tanpa mikir gak punya uang dlsb. Gak kayak sekarang, mau beli sabun cuci muka aja susah. Harus milih yang murah dan promo. Padahal kebutuhan mukaku banyak. Makanya mukaku sekarang malah jadi hancur. Beli pelembab dan skincare routine aja sulit buatku. Dulu waktu jadi anak Papa, aku dibebasin.
Selama jadi anak Papa, waktu aku kerja Papa gak pernah serupiah pun minta jatah gajiku. Gak pernah serupiah pun!
Aku dibebasin untuk membahagiakan diriku sendiri dengan uang yang ku dapatkan. Aku dibebasin mau pergi ke ujung dunia dengan izin Papa selama itu pakai uangku sendiri.
Gak kayak sekarang. Mau nyopee aja aku mikir, ntar uangnya habis. Gak cukup buat makan sebulan.
Aku kerja malah kayak gembel. Beda banget sama kerjaan yang dulu. Padahal kalau dihitung-hitung. Gajinya gak jauh beda kok. :(
Aku menikah mencari kebahagiaan. Bukan mencari kemelaratan. :(
Mengikuti Jejakmu
Beruntung engkau sudah mengambil langkahmu yang sekarang sedang kau jalani. Jangan pernah menyesal dengan pilihanmu. Aku sadar, aku pun berbuat salah dengan pilihanku. Pilihan yang kau buat adalah yang terbaik. Suatu saat, aku ingin mengikuti jejakmu.
Jika suatu hari aku datang padamu. Maukah engkau memberiku beberapa patah katamu?
Aku merasa sedang diremehkan dan tak berharga. Aku merasa tak dianggap sebagai seorang perempuan sebagaimana ayah memperlakukanku. Aku merasa aku salah jalan.
Jika aku bisa kembali ke masa lampau, aku sangat ingin kembali dan memulai semuanya lagi bersama-sama keluargaku. Aku sesaat lupa kalau aku memiliki keluarga.
Saat memiliki hubungan, pulanglah. Mintalah pendapat orang tuamu, seringlah bergaul dengan orang tuamu. Sense-mu bakal balik dan kamu mulai bisa menilai siapa yang berada di sekitarmu.
Partner atau Suami?
Dulu kupikir aku mau jadi istri ke berapa saja terserah, yang penting aku menikah dan punya suami. Toh, ada Papa kok. Ada Papa yang selalu bisa memeluk aku disaat aku jatuh kan.
Itu dulu. Dulu sebelum Papa meninggalkan aku sendirian.
Sekarang aku ingin menuntut kebahagiaanku sendiri. Aku ingin memiliki seorang partner hidup bukan seorang istri ke-sekian dari laki-laki.
Kalau mau, ambil aja mbak!
Todayquotes
Nikah emang belum tentu bikin bahagia, tapi ngapain nikah kalau cuma bikin hidup tambah susah?
Me
Kadang penasaran, apa rasanya makan makanan pedes tanpa harus muntah atau merasakan sensasi tersangkut di tenggorokan sampai tidak bisa bernafas.
Habis Ikut Seminar
Habis ikut seminar di salah satu kampus yang aku kagumi dan tiba-tiba nyesel kenapa sih aku ga belajar giat waktu S2 dulu? Ya soalnya dulu ga kepikiran sama sekali mau jadi dosen, S2 karena Papa yang mau, ikut tes karena Papa yang mau, aku sih maunya balik lagi kerja kantoran. Lebih bebaas. Semakin workaholic, semakin disayang boss. :)
Hampir lupa, kalau di sana panggilan terhadap mahasiswa pakai ungkapan “mas-mbak” yang menandakan bahwa mereka sudah cukup dewasa untuk dipanggil seperti itu oleh dosennya. Bukan dak-dek-dak-dek yang menganggap mereka masih kecil terus, akhirnya tidak memiliki kepercayaan diri dan pikirannya menjadi kekanak-kanakan. Hah. Sudahlah capek.
Emang sih, menurut aturan pemerintah, kalau ingin mengajukan mutasi, tidak bisa mengajukan mutasi ke kampus yang memiliki grade lebih tinggi dari kampus asal. Mau sebagus apapun penelitian kamu, mau sepinter apapun kamu setelah jadi dosen disana. Tetep aja sistem yang gak ngebolehin itu.
Satu-satunya langkah adalah resign dan kemudian coba lagi daftar di kampus yang kamu tuju. Itu bisa. Bisa banget. Tapi resikonya terlalu besar. Kalau kamu gak lulus-lulus pas ikut tes dan ternyata nganggur di usia yang tua. Akan sulit.
Permainan takdir memang seperti itu, ketika mengikuti tes di tempat yang tidak kita inginkan. Tuhan akan mengerahkan seluruh semesta-Nya untuk membantumu. Tetapi, ketika kita sangat menginginkan suatu pekerjaan, Tuhan akan mengarahkan semesta-Nya juga untuk menggagalkanmu.
Di zaman sekarang ini, untuk menjadi sosok yang berkualitas memang harus dengan fasilitas lengkap. Tidak bisa hanya mengandalkan jaringan internet yang kadang ada kadang hilang, ngeprint di tempat fotokopian, cuaca yang panas seperti di oven~~
Mungkin semua itu terdengar seperti excuse.Tapi, bagi seseorang yang terbiasa dengan kelengkapan fasilitas, it is really a struggle man!
Entahlah. Pengen buka usaha, nemenin Mama di rumah. Cita-citaku se-simpel itu.
Kadang mikir sih, apa Mama cuma excuse aku doang yang ga pengen balik yak? Gak tau gue. Aku juga gak tau aku kenapa begini.
Kerusuhan Hati
Kerusuhan hati yang sempat tenang 1 bulan belakangan kembali hadir. Rasanya aku tak ingin meneruskan pekerjaan ini, aku tak ingin melanjutkan perjuangan ini. Tetapi, aku kembali berfikir. Kalau aku berhenti, aku dapat uang darimana? Pengen rasanya balik ke jakarta nyari kerjaan baru. Kantoran. Swasta. Kurasa itu lebih cocok.
Tetapi, siapa yang akan menerima wanita 28 tahun?
Dulu aku pernah berkata, aku ingin menjadi peneliti di bidang Aljabar. Makanya harus S2, jadi dosen deh. Kerjaanku ngebosenin sih gitu-gitu aja. Tapi, gak pernah sama sekali terbesit keinginan untukku pindah. Bahkan ketika ditawari kerjaan di Bandung oleh boss-ku dulu, aku menolak. Sampe dibego-begoin sama temen, dibilang kalau udah ngelolosin kesempatan emas. Balik lagi ke jawa. Gak tau deh, tapi waktu itu aku seneng. Ke kantor jam 8 pagi, pulang jam 10 malem. Meskipun orang-orang kayak ga notice dan ga peduli. Ternyata habit ini di-notice sama atasan-atasan di Jakarta. Yang bikin terharu, aku masih ditawarin buat balik lagi kesana sama salah satu direksi. Semoga selalu sehat Pak!
Beda kayak sekarang. Bener sih jadi peneliti, bener sih jadi dosen. Tapi, selalu punya alasan-alasan kecil buat gak balik. Seperti ada trauma.
1. Mungkin aku menyalahkan ‘mereka’ karena kematian papaku. Waktu itu tes SKB, dan seminggu setelahnya Papa masuk ICU. Aku bilang belum bisa pulang dulu, karena disuruh ini itu. Tapi, Papa gak nolak kayak biasanya. Padahal Papa yang ku kenal bakalan bilang “udah pulang aja. Kan belum tentu diterima. Gak digaji juga kamu datang begitu”. Mungkin karena Papa salah satu penghamba pi-en-ais, jadi petuah itu gak muncul atau mungkin karena Papa juga lagi berjuang melawan penyakitnya. Jadi ga kepikiran.
2. Setelah pengumuman, aku dipanggil ke tempat kerja lebih dulu. Udah diplot buat ngajar. Ku kira digaji, ternyata enggak. Digaji sih, 5 juta per 6 bulan. Dibayarkan setelah menerima SK CPNS. Padahal waktu-waktu adalah waktu berkabung. Aku pikir, aku bisa menemani mama dirumah paling tidak 1 bulan pertama. Itu juga tidak ku lakukan. Mama sampai harus nginep di tempat om dan tante karena sering gak nyaman di rumah setelah kepergian Papa. Betapa durhakanya aku. Harusnya aku sebagai anak yang menemani Mama sampai keadaan stabil. Tetapi, aku malah memilih pekerjaan tanpa gaji itu. Sekarang? Kalau keinget dua hal ini rasanya nyesel banget.
3. Dua kali pulang kampung sejak disana. Dua kali juga pulang dalam keadaan sakit. Yang terakhir yang paling parah, karena covid 19 aku harus pura-pura sehat biar ga dikarantina di tempat yang aku gak kenal. Biar bisa menginjakkan kaki di bandara kalimarau. Tiga jam di pesawat, struggling banget. Aku yang takut naik pesawat sejak pernah diguncang sedikit oleh salah satu maskapai. Hari itu aku terlelap. Aku benar-benar baru bangun ketika pesawat mendarat. Bahkan saat take off dan landing pun, tak terasa sama sekali. Ini gak termasuk menggigil di bus perjalanan 8 jam loh. Bener-bener bikin trauma mau balik lagi kesana. Ngerasa jauh banget perjalanannya. Kalau sakit ga ada yang jemput, ga ada yang ngerawat.
4. Habit lingkungan yang aku kurang suka. Kurang disiplin dan selalu membebankan pekerjaan ke satu orang. Kalau hasilnya bagus ga di apresiasi. Kalau hasilnya jelek di hujat depan umum. Itu bukan budaya sih, tapi emang kurang profesional dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Bisa dibilang belum siap terjun di birokrasi sudah seperti itu.
5. Sampai habit “bu-dek” yang aku ga suka jadi penghalang buat balik. Iya. Kalau kamu lebih rendah jabatannya dari orang itu, pasti dipanggil dek. Padahal di dunia profesional senioritas seperti itu tidak ada. Kasarnya nih, gue aja bisa manggil temen kantor gue pake nama dia. Kadang kalau begini jadi inget bos Frederik andalan gue. Beliau pernah bilang kalau ga suka dipanggil “bos” sama bawahannya. Karena kayak ga sopan, maunya panggil nama aja atau kalau mau menghormati ya panggil Pak. Sama kayak gue yang ga suka manggil orang pake dek, even itu mahasiswa, ya panggil nama aja toh. Sejak kapan kita berbagi darah yang sama sampe aku punya kewenangan untuk manggil “dek”? Seserius itu panggilan buat ku. Apalagi di dunia profesional. Ya sekarang kan dunia dosen, panggil sewajarnya lah pak-bu. Bukan lagi adek kakak. Lucu malah.
Tetapi, kalau ini diteruskan. Apa aku sanggup? Apa aku sanggup meninggalkan Mama sendirian lagi seperti sebelumnya? Apa aku cukup tega?
Kadang, aku iri terhadap mereka yang ikut tes tetapi belum lulus. Semua orang akan pi-en-ais pada waktunya kok. Kalau sudah lulus dan terjebak, malah bingung. Mau dilepas takut hidup akan membawamu ke jurang terdalam, mau dipertahankan juga aku ga sanggup menjalaninya.
Beruntunglah Kalian yang belum PNS
Beberapa waktu belakangan aku menaruh rasa iri kepada mereka yang belum PNS. Jangan sampai terjebak dan tak bisa keluar sepertiku. Sudah 28 tetapi hati begitu inginnya kerja kantoran lagi.
Senin, 01.16 dini hari
Bukan hal yang asing lagi terbangun di jam ini dalam beberapa bulan terakhir. Entah itu karena batuk yang tak tertahankan atau mungkin sakit perut yang tak tertahankan pula.
Diagnosa terakhir ku adalah PNEUMONIA. Dokter yang menanganiku bilang bisa saja ini Pneumonia Wuhan a.k.a covid 19 atau mungkin Pneumonia akibat bakteri. Entahlah, aku belum memutuskan untuk cek lebih lanjut. Aku ngeri dengan hasilnya. Aku takut kalau harus dibawa ke ahlinya lalu kemudian dioperasi dan lain sebagainya. Kupikir, mungkin ini yang dirasakan papaku waktu didiagnosa kelainan jantung dan harus dioperasi untuk dimasukkan cincin seperti beberapa dosen yang ku tahu.
Asam lambungku jelas masih ada dan mungkin semakin parah. Tiap kali bersedih, aku berusaha menahan diriku untuk tidak menangis. Karena ku tahu, menangis hanya membuat saluran tenggorokan penyalur makanan ku kian menyempit.
Belum lagi, ketika aku tahu ada beberapa pemberitahuan dari kampus yang aku benar-benar menjadi alergi karenanya. Aku alergi pada tempatku mengajar. Aku alergi dan aku muak.
Keinginan untuk resign begitu menggebu buatku. Tetapi, kembali aku harus memikirkan konsekuensinya. Somehow, aku ingin berhenti dan menjadi guru honor saja di kampung halamanku (yang notabene gajinya jelas lebih banyak). Disisi lain, aku juga ingin melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi. Terkadang aku pun berfikir, apa aku kuliah S2 lagi saja lalu kabur ya? Ya. Resign dan kuliah S2 dengan jurusan yang berbeda atau mungkin jurusan yang sama namun di kampus berbeda.
Terkadang aku berandai-andai apa jadinya jika papa masih disini? Apakah aku akan langsung diseret pulang tanpa babibu? Atau dicarikan tempat lain untuk pindah dengan mempertahankan status kebanggaan sejuta umat itu?
Aku benar-benar ingin pergi. Semua orang di sekitarku menyerahkan keputusan sepenuhnya padaku. Rasa-rasanya aku tidak sanggup lagi berada disini. Tetapi, keinginan itu timbul bersama keraguan-keraguan. Entah sejak kapan aku menjadi sosok yang tidak percaya diri. Sejak S2 kah? Atau sejak berada disini? Aku ini kenapa? Pertanyaan-pertanyaan yang selalu membayangi setiap hariku.
Dadaku terasa semakin sesak seolah memiliki koin di dalamnya. Aku ingin pergi. Aku ingin pulang tanpa mendengar komentar-komentar orang lain. Aku ingin resign dan ingin bahagia tanpa mendengar
“Tuh kan sekarang jadi gini. Kamu sih dulu resign. Udah enak-enak juga”
Aku takut disalahkan untuk sesuatu yang belum kulakukan. Tetapi disisi lain, aku tidak bahagia. Aku sakit!
Aku memikirkan jika aku benar-benar berhenti, bagaimana selanjutnya? Bagaimana aku dan pacarku akan memulai hidup? Bagaimana kami akan menikah tanpa modal sedikit pun? Bagaimana dia nanti? Apa yang terjadi dengannya? Bagaimana kalau aku memutuskan untuk bekerja di perusahaan saja. Menjadi kacung para kapitalis pemilik perusahaan? Bukankah yang kubutuhkan uang? Namun, apa yang terjadi nanti? Akankah disetujui oleh calon pendamping hidupku? Apakah aku tidak akan dicemooh dengan mendengar kalimat “S2 kok kerja untuk kapitalisme”? Apakah selamanya aku harus menjadi suci di mata orang lain? Sementara yang dilihat orang lain suci, seyogyanya hal itulah yang paling kotor. Apakah aku akan mengingkari nikmat Tuhan karena menyia-nyiakan kesempatan? Apakah aku akan dianggap tidak bersyukur oleh Tuhan karena selama prosesnya aku selalu diberikan kemudahan? Apakah nantinya Tuhan juga tidak marah padaku?
Tetapi, dilanjutkan pun aku takut tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk S3 seperti yang kuinginkan. Di luar negeri. Bagaimana tidak. Aku tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan penelitian bermutu. Hariku disibukkan dengan berbagai administrasi yang tidak penting bagiku namun penting untuk instansi. Kenapa? Karena aku telah diberikan tugas yang sangat tidak aku sukai dari sisi mana pun! Aku tidak mau menjadi dosen administratif yang hanya mengurusi keuntungan universitas dengan mengabaikan kebutuhan akademisku.
Pikiran ini tidak bisa ditepis dengan membagi waktu dan kalimat-kalimat motivasi lainnya seperti aku harus bisa! Buktinya, banyak orang memiliki jabatan tinggi tetapi pencapaian sekolah lanjutnya tak sebanding. Banyak orang memiliki jabatan dan kesibukan administratif tetapi kebutuhan akademisnya tidak mencapai standar. Adakah yang begitu passionate kepada penelitiannya sehingga ia seperti -paling tidak- dosen-dosenku waktu S1 dulu. Aku melihat sebuah ironi lain disini, bahwa penelitian itu hanya dikerjakan untuk bisa mengisi BKD akhir semesternya. Tanpa melihat apakah penelitian yang dihasilkan berkualitas atau tidak. Bagiku yang masih pemula, aku masih harus belajar membaca banyak jurnal dan penelitian untuk menghasilkan karya yang luar biasa sebagai dosen. Namun, apa jadinya aku jika pikiranku terus disibukkan dengan administrasi-administrasi kampus?
Aku akan menjadi tidak berkembang!
Aku selalu berpikir, kenapa rata-rata anak-anak lulusan magister adalah orang yang paling tidak bisa diajak bekerja sama? Orang paling batu dan kaku. Mengapa demikian? Karena beberapa kali aku diberi tanggung jawab besar, semua kulakukan sendirian. Sebab, orang yang telah diberi tanggung jawab atas pekerjaannya cenderung tidak melakukan pekerjaan dan berakhir dilimpahkan kepada penanggung jawab umum. Jika suatu kegiatan tidak berjalan semestinya karena ada “toxic”, penanggun jawab umum yang akan disalahkan meski ia sudah berusaha dengan keras. Itu mengapa aku tidak mau memimpin sekumpulan batu untuk memindahkan sebuah gunung.
Mungkin memang tidak semua lulusan magister seperti itu. Tetapi, aku telah melihat banyak contoh. Ah. Aku rindu pada kehidupan yang bebas. Tak terikat pada organisasi, hanya memedulikan penelitian. Seperti sosok kawan S2 ku yang kukenal. Seperti itulah aku ingin menjadi dosen.
Aku harus berhenti dan tahun 2021 akan menjadi tahun terakhirku.
Mau Jadi Apa?
Mau jadi apa kamu kalau resign?
Kan udah enak, dapet tunjangan hari tua, dosen lagi. Udah sukses lah ibaratya. Kok kamu mau resign di usia muda?
Kalimat-kalimat itu yang terngiang-ngiang di telingaku tentang kerusuhan pikiran yang berkali-kali hadir.
Aku ingin resign
Kadang kalau dipikir-pikir, aku gak masalah sih sama profesi dosen yang memang ku inginkan. Tapi, gak kuinginkan banget (artinya kalau gak jadi dosen gw stres. Enggak! gak sampai kayak gitu). Suatu hari ketika lagi curhat-curhat sama temen kuliah dia nyeletuk gini
“Ntar kamu bisa jadi dekan disana tuh. lol”
dan kurespon dengan singkat
“enggak aaah. Aku gak pengen pegang jabatan apa-apa. Role model ku trio dosen yang pas lulus baru ku tahu kalau suka ngegosipin mahasiswanya. Tapi gitu-gitu penelitiannya sampai keliling eropa. :’)”
Sesaat aku terhenyak dengan kata-kataku sendiri. Iya. Tujuanku jadi dosen dulu, aku pengen berguna buat mahasiswaku. Aku pengen mereka paham mata kuliah sesulit Struktur Aljabar dengan cara yang mudah. Aku pengen punya penelitian yang membawaku ke luar negeri. Dan kalau pulang ke kampusku, duduk ngegosipin mahasiswa. Gak lebih. Gak pengen neko-neko dengan jadi kaprodi, dekan, rektor atau apalah jabatan yang tak berguna dan sangat menyusahkan itu.
Selama disini, semua keinginan dan harapanku gak tercapai. Mau ngajarin struktur aljabar? Wong pecahan aja masih meler, perkalian aja gak hapal, kaidah-kaidah dasar aja gak hapal. Kadang mikir, kalau beginian mah serahin aja ke guru SMA. Untuk apa aku disini?
Mau penelitian yang bisa bawa aku ke luar negeri? Mulai darimana? Siapa yang bisa kujadikan mentor? Mau diskusi sama siapa? Contoh penelitian seperti apa yang bisa ku pelajari? Ambil jurnal rujukan darimana? Google? Yaaa mentok-mentok dapet dari jurnal beallist kan. Berharap langganan scopus? Duh, aku tak ingin berharap terlalu tinggi. Belum lagi, beban kerja yang gak masuk diakal. Ngerjain dokumen-dokumen-dokumen. Aku ini apa? Dosen dokumen?
Kalau aku menolak dengan alasan gak bisa dan gak paham, selalu ditepis dengan kata-kata
“kita belajar sama-sama”
I am so sorry. Bukannya gw gak paham. Tapi GUE GAK MAU PAHAM!
Di setiap tahun baru, aku selalu introspeksi sederhana. Apa yang sudah ku lakukan sepanjang tahun lalu dan apa yang akan ku lakukan sepanjang tahun depan.
Pada pergantian tahun 2018 - 2019. Aku harus menghadapi hidup yang baru, aku akhirnya menjadi pi-en-ice seperti inginnya Bapak dan aku juga harus menjalani semua itu tanpa Bapak. I don’t know what will I gonna be the next year.
Pada pergantian tahun 2019 - 2020. Aku sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang calon pi-en-ice dan tahun depan harapanku pasti berbeda karena akan menjadi seorang pi-en-ice. Can’t wait for it.
Pada pergantian tahun 2020-2021. Aku terdiam seribu bahasa. Ini adalah tahun tersuram sepanjang hidupku. Bahwa, menjadi pi-en-ice seperti angan-angan orang itu tidak seindah apa yang kubayangkan dan kuinginkan. Bukan tidak indah dalam cara yang baik, tetapi sebaliknya.
Aku lelah dengan keteraturan yang tidak jelas. Setiap tahun harus membuat laporan-laporan dana dan tetek bengeknya. Bikin penelitian seadanya, dibebani dengan pekerjaan yang aku tak suka, tak jelas dan TAK BERGUNA. Mana mimpiku yang mau bikin penelitian sampai ke luar negeri? Belum lagi gaji yang semakin lama semakin sedikit tetapi kebutuhan semakin meningkat. Harus bertahan sebisanya dengan gaji 2,7+600 itu.
Ide-ide mutasi atau resign semakin bermunculan. Belakangan semakin kuat. Rasa untuk tidak kembali semakin menjadi.
Kupikir, menjadi dosen di tempat terpencil pasti menyenangkan. Jauh dari politik dan hal-hal yang tak kusenangi. Aku akan sibuk membangun mahasiswa menjadi pribadi yang lebih baik. Aku akan sibuk dengan penelitian-penelitian. Dan ternyata aku salah.
Mahasiswa masih tidak bisa menghitung pecahan bahkan setelah mengenakan toga dan kebayanya. Penelitian dikerjakan seadanya dan ragu untuk memasukkan ke jurnal dengan kualitas baik karena kekurangan dana.
Aku sudah lelah.
Kerja di Tempat Jauh
rePesanku kepada semua orang, selektiflah dalam memilih sebuah pekerjaan. Carilah yang gajinya bisa membuatmu berfoya-foya, meski jauh tak apa. Tetapi, kalau pekerjaanmu jauh dan gajinya tak bisa membuatmu berfoya-foya. Hentikanlah!
Jarak sekarang bukan lagi suatu masalah yang perlu dirisaukan. Asalkan ada uang, mau sejauh apapun tempatmu bekerja. Engkau akan selalu bisa pulang ke kampung halaman bertemu dengan sanak family. Namun, perlu dipertimbangkan pula apabil tempatmu bekerja jauh dan gaji yang kau dapat tidak bisa menutupi ongkos pulang kampungmu. Tinggalkanlah!
Aku berumur 27 tahun dan seorang pi-en-ice baru yang terlempar jauh ke pulau seberang (karena kebodohan di awal saat pendaftaran) tetapi aku masih juga menjadi beban orang tua. Ongkos pulang kampung saja aku masih minta orang tua, beda banget waktu jaman dulu kerja di sebuah perusahaan swasta yang masih bisa foya-foya dan pulang pergi Medan-Jogja buat tes masuk S2. Yap, dulu hidupku terjamin banget. Sampai aku inget banget dulu jaman kerja bapak selalu nelpon nanya
Bapak : Masih ada kah uangmu non?
Aku : Masih lah Pa, saya kan sekarang sudah kerja sudah ada gaji yang gak pernah telat masuk rekening. Hehehehe
Bapak : Ya bapak nanya aja. Siapa tau habis buat kamu jalan-jalan.
Yes. My father is that kind of person. Masih mikirin anaknya punya duit kagak, kayaknya kalau percakapan itu terjadi sekarang jawabanku bakalan
“Habis Pa. Kurang buat ini-itu”
Aku masih beban orang tua. Kadang sedih juga, seiring bertambahnya umur dan dapet kerjaan yang diimpi-impikan oleh semua orang tua di seluruh NKRI tapi masih jadi beban orang tua karena memang gaji tidak pernah mencukupi. Kadang miris juga, aku capek-capek kuliah S2 tapi penghargaan dari tempat kerjaku gak lebih tinggi daripada gaji D3 di Jakarta. Well, that is life. Be grateful!
Tempat kerjaku yang sekarang terbilang jauh, aku harus naik bus 8 jam ke Makassar dilanjutkan dengan pesawat terbang 2 jam (transit Balikpapan) baru sampai ke kampung halamanku. Ini sebuah kemunduran infrastruktur juga sih menurutku. Jaman dulu waktu kerja di Medan, aku tinggal naik kereta shinkansen-nya Bandara Kuala Namu yang canggih luar biasa selama 45 menit. Sampai Bandara udah aman gak sibuk nyari kamar mandi buat mandi, gak rembes, gak buluk, gak kucel. Masih fresh from the oven lah. Beda sama ditempatku yang sekarang!
Dulu kupikir karena sudah revolusi industri 4.0 (yang menurut mbah Tejo sebenernya kita ini revolusi industri 1.0 aja belum) enak kalau mau kemana-mana ada pesawat. Kerasa deket.
But. It’s a LIE!
Terakhir kali aku pulang kampung, aku ngerasa jauh banget. Aku pulang kampung dalam keadaan demam parah sampai seluruh tulangku pegal-pegal. Untungnya perjalanan 8 jam bisa dihandle sama mas Pacar yang ikut nemenin pulang dan untungnya lagi aku naik pesawat keberangkatan jam 7 pagi. Jadi gak lama-lama di bandara dan untungnya lagi pesawat gak pake transit Balikpapan yang harus lapor dan lain-lain yang mungkin bakal bikin aku pingsan di Balikpapan.
Sesampainya di rumah yang cuma perjalanan 20 menit naik gojek dari bandara ke rumah, aku bener-bener tepar. Seharian aku cuma bisa tidur (ini gak lupa isoman 14 hari ya, jadi aku bener-bener gak keluar kamar selama 14 hari). Bahkan waktu itu, makan aja aku gak sanggup. Karena emang aku udah sakit dari di tempat kerjaku. Aku gak tau deh gimana jadinya andai malam itu aku ga jadi pergi. Pasti sakitnya bakalan lebih parah, secara kasur yang ku punya di kosan cuman setebel tikar (karena busanya udah kempes). wkwkwkwk.
Revolusi industri 4.0 yang dielu-elukan bilang gampang kesana kemari, terasa jauh bagiku. Jadi inget juga terakhir aku pulang kampung malah masuk UGD. Huft.
Rasanya aku gak pengen balik ke tempat kerjaku. Rasanya pengen ngajuin mutasi atau resign sekalian. Tapi, ngerasa banyak banget tanggungan. Kalau resign modal nikahku darimana? Kalau mutasi, baru kemaren ambil sumpah 100%. Wkwkwkwk. Dimana-mana juga ada ikadin 10 tahun kan yang gak bisa dihentikan. Ah entahlah, selama disini juga badanku lemes banget rasanya. Kayak gak sanggup kalau harus melakukan perjalanan selama itu lagi. Kayak gak tau kapan gue bisa balik ke rumah kayak gini lagi. Kayak gak ada lagi yang perlu dipertahanin dari posisi gue di kerjaan gue yang sekarang. Ya emang gak ada, masak lu mau pertahanin gaji 2.7 + 600 (kalau absen full) dengan kondisi tak menyenangkan seperti itu?
My Second Job
Dua puluh satu hari aku ada di rumah. Rasanya aku semakin bisa ngeliat kondisi kerjaanku yang sekarang. Selama di rumah, aku udah sering banget mimpi balik ke tempat ngajar. Tapi bangun terengah-engah, yap mimpi balik ke tempat ngajar ternyata menjadi salah satu mimpi burukku. Aku gak tau lagi harus gimana. Setahun belakangan, aku kerja udah kayak robot. Pikiran sama hati udah gak disitu lagi. Rasanya kayak kerjain aja apa yang ada. Udah gitu aja.
Even ngajar, sesuatu hal yang paling kusukai banget juga jadi gak kusukai. Jadi kayak robot, udah ga peduli tuh para mahasiswa paham apa enggak. Udah capek. Udah ga sanggup lagi.
Bayangin deh! Sekarang aku gak bisa makan nasi lagi. Aku harus makan bubur dengan lauk yang lembut. Gak bisa makan goreng-gorengan, gak bisa makan coklat, gak bisa minum yang dingin-dingin, gak bisa banyak pikiran bahkan gak bisa tinggal di cuaca ekstrim yang sehari panas banget sehari dingin banget. Satu lagi, aku sekarang udah ga bisa begadang! That is sucks!
Kalau dibilang kurang bersyukur karena notabene aku pi-en-ice, ya gak gitu juga. Aku udah bersyukur banget. Tapi, apa yang kupikirkan jaman dulu tentang tempat ngajarku sekarang 180 derajat berbeda. Dulu, kupikir karena masih baru berdiri. Semua mati-matian ngejar kualitas mahasiswa dan kualitas penelitian. Gak bakal ada tuh drama politik yang mau jadi pejabat atau mungkin drama soal duit-duitan.
Ya ternyata aku salah. Di kampus kecil, manusianya dikit. Anda dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak Anda inginkan. Anda dipaksa untuk ngerjain administrasi seabrek yang semuanya gak masuk di otak Anda. Satu kata pun gak ada yang masuk. Jadi, bukannya gak mau belajar.
EMANG AKU GAK NIAT BELAJAR ADMINISTRASI TAIK ITU!
Soal kualitas mahasiswa? Waduh. Ini yang paling parah! 12+78 aja masih banyak yang salah itung. Akar 81 aja masih banyak yang gak tau berapa. Tapi, gayanya? Sok-sok an minta diajarin sama professor, ngeritik dosen katanya cuman ngasih materi ppt doang gak ngejelasin. Padahal kita udah ngajar berdarah-darah, ngeluarin budget beli peralatan online, nyediain waktu buat bikin video, belum lagi ngedit atau kalau ada yang salah omong atau ada suara ayam lewat. Ujian? Crop lembar jawaban temannya. Kalau dimarahin nih, gak ngefek deh! Emang udah budayanya cuma peduli sama nilai doang. Gak peduli sama ilmu yang didapat.
Jadi pernah aku didatengin mahasiswa minta nilainya dinaikin dari C ke B-. Awalnya aku gak mau, dia maksa nelpon+wa kayak tukang teror. Akhirnya kukasih remidial, tapi tetep nilainya jelek. Aku gak mau kasih nilai B-. Dia bawa-bawa orang tuanya yang kasian nganter dia bla bla bla. Ya logika aja, kalau emang kasian sama ortunya kenapa baru nyadar pas udah dapet C? Alasan dia minta naik ke B-? Katanya temen-temennya pada dapet B- dan itu aturan universitas. Gila gak lo jadi dosen di kampus begitu?
Aku berkali-kali mikir,
“Ah cuma gini doang. Lemah banget kamu, kerdil banget pemikiranmu. Ngeluh banget!”
Dan berulang kali nyari pembenaran juga gak dapet-dapet. Emang gini, biarin deh aku dibilang kerdil, aku dibilang apa juga, tapi gak gini. Bukan ini yang ku mau. Kalau dibilang aku ngeluh terus, let see deh kalau aku ngajar di kampus yang aku mau, aku buktiin kalau aku gak bakal ngeluh.
Ini belum termasuk kasus jerawatanku yang parah banget sampe harus pake skincare seabrek dan cuaca yang panas banget sampe gak bisa ngapa-ngapain kalau siang loh ya. Masak aja ogah aku, saking panasnya!
Pekerjaan VS Kesehatan
Ada sebuah quote yang muncul secara tiba-tiba soal pekerjaan vs kesehatan dan berdasarkan pada pengalaman pribadi.
“Apabila kamu sakit di tempat kerjamu (yang literally cuman demam) tapi kamu butuh memulihkan penyakitmu sampai 1 minggu paling cepat dan berminggu-minggu paling lama. Leave the job!“
Hehehe. Jadi, aku percaya banget kalau cocok atau enggaknya kita sama kerjaan itu berbanding lurus sama penyakit yang datang ke diri kita sendiri. Kedengeran mistis sih, but I can say it’s true.
Pekerjaan Pertama.
Aku dulu pernah sakit, demam, pusing, bawaannya pengen bebaringan terus. Besoknya sembuh, mandi dan dipaksain ke kantor. Look what I’ve got. Aku disuruh sama dokternya buat diinfus 3 jam dan berobat teratur (artinya makan, minum harus teratur). Padahal aku tinggal sendirian dikosan, gak ada orang yang bisa kurepotin untuk ngurus aku. Aku pun memutuskan untuk ‘sebaiknya’ dirawat di Rumah Sakit saja. Kalimat selanjutnya harus aku bold, soalnya ini yang paling penting dalam pengambilan keputusanku.
Biaya perawatan Rumah Sakit full cover oleh kantor lama ku and that’s a good thing.
Betapa beruntungnya aku!
Tiga hari di rumah sakit membuatku makin sakit. Aku memutuskan untuk keluar sendiri, karena kondisi rumah sakit begitu kumuh dan gak terawat. (Padahal rumah sakit swasta) Yes. Ga ada yang bersihin kamar mandi, tempat tidur, nyapu lantai, mending bobo di hotel deh. Serius. Gak lagi-lagi aku nginep di rumah sakit.
Setelah itu, aku masih masuk kantor. Beresin kerjaanku yang mau ditinggalkan. Karena kebetulan sekali seminggu sebelumnya aku udah nyerahin surat resign dan Boss gue masih baik hati buat nengokin gue di rumah sakit. Thank you so much Pak Fred. Kalau aja waktu itu saya datang ke nikahan Pak Fred, unfortunately I was having a mid test. Meskipun nilainya ga bisa dibangga-banggain juga.
Pas masuk kantor, kondisiku masih sakit. Masih gak bisa napas karena waktu itu aku divonis kena ISPA dan GERD. Bayangin deh, waktu itu kemana-mana aku harus selalu pakai masker. Udara lagi ga bagus karena pembakaran hutan di Riau dan asapnya udah sampai Medan. Tiap kali aku buka masker, aku langsung mau pingsan karena ga bisa napas. Yang ngebantu dikit-dikit ngefilter udara cuman masker medis. Asap itu gak keliatan di kasat mata, kita ga tau kalau ada asap. Tapi ada dan gak bisa masuk ke saluran pernapasan aku. Parah banget pokoknya.
Untungnya, seminggu setelah keluar dari rumah sakit, aku udah jadwalin flight ke Yogyakarta dan disitulah waktuku untuk resign. Aku kembali ke Yogya dalam keadaan sakit dan ga tau bakal gimana di Yogya nanti.
Tanggal 5 oktober 2015 aku terbang dengan maskapai Air Asia saat itu. Aku gatau mau gimana ntar pas kuliah ya liat aja ntar.
Sesampainya di Yogya, pelan-pelan aku buka masker medis yang kupakai. Aku gak nyangka banget, udaranya itu bersih banget, seger banget. Auto ngebersihin paru-paru aku dan aku juga bisa bernapas legaaaaa banget. Rasanya pengen sujud syukur waktu itu. Sumpah, nyaman banget!
Seminggu kemudian. I am clean. ISPA? GERD? wkwkwk. Siapa tuh? Meski tiap ketemu kucing masih batuk-batuk karena ngerasa bulunya masuk tenggorokan semua. But, it’s okay. Cuman butuh terapi aja bareng makhluk-makhluk berbulu itu.
Selama di Yogya alhamdulillah ga ada masalah serius sih soal penyakit aneh-aneh. Selama kuliah juga alhamdulillah sehat dan aman. Yang ga sehat itu transkrip semesteranku. Kalau bikin lagu dari transkrip nilaiku mah bisa banget. wkwkwkwk.
Pekerjaan kedua.
GERD ku makin parah, makan di luar udah kukurangi sebisa mungkin. Baru-baru ini justru aku collapse habis-habisan. Aku sempat demam dengan panas tinggi banget waktu di tanah rantau yang kedua ini. Udah minum segala macam obat tetep juga gak ngefek. Masih drop, masih ga punya tenaga. Sampai aku berpikiran negatif kalau ini ulah virus yang sekarang sedang beredar. Karena, jujur aja. Di tempat kerjaku yang sekarang sama sekali TIDAK MEMPERHATIKAN PROTOKOL KESEHATAN. Tetap berkumpul, tetap berkerumun, tidak menggunakan masker, tidak tersedia tempat cuci tangan (ada sih, tapi cuma buat pajangan doang) apalagi handsanitizer. wkwkwkwk. Aku kayak hidup di dunia lain yang menganggap Covid-19 is not real.
Akhirnya aku paksain pulang ke rumah. Biarlah sesakit-sakitnya aku, ada yang rawat kan di rumah. Jelek-jeleknya kalau aku mati, aku mati di dekat keluargaku. Gak jauh di antah berantah.
Di rumah, aku dirawat gak lebih dari tiga hari. Alhamdulillah kondisiku membaik sekarang. Sudah tidak demam, sudah tidak menggigil, sudah tidak drop lah intinya. Padahal cuaca di rumah jauh lebih dingin daripada cuaca di tempat rantau. Tetapi, justru aku lebih cepat pulih di rumah.
Semoga pulihku ini bisa bertahan hingga 1-2 bulan ke depan.
Di saat itu, mari kita simpulkan. Apakah pekerjaan kedua ku ini sebenarnya cocok untukku?
Let’s see then.
Curhat
Kalau bisa curhat sama boss di kantor yang dulu. Gue pasti udah curhat abis-abisan. Booooss, gue ga betah jadi ****.
Enaknya kerja dulu, kerjaan gue selalu dipantau sama boss. Kalau kerjaan bagus dan lancar, hal itu akan berbanding lurus sama karir di kantor. Kalau ada pelatihan apa-apa ke Jakarta, gw selalu ditunjuk sama si boss. Apalagi boss juga orang Sunda. Sama-sama org luar pulau. Jadi enakeun gt lah ya sama-sama ngerasain jd org rantauan. Ya tapi aku yakin sih itu semua pasti berbanding lurus juga sama kualitas kerjaanku di kantor.
Sekarang. Mau pelatihan kepentok umur karna dianggap terlalu muda. Badan diperlakukan seenaknya kayak ga ada harga dirinya. Diinjek-injek karna ga satu suku. Deuh!
Rasa-rasanya kepala mau pecah. Gaji ga seberapa, pressurenya parah banget! Untung aja emang passion aku disitu. Kalo enggak udah kabur aku.
Aku gak suka sama birokrasi yang menurutku sangat dzalim. Halah. Mbuh ah. Pokokmen aku mumet banget.
Mendingan family gathering dari duit keuntungan sebuah perusahaan. Daripada rapat kerja dari kucuran dana APBN. Sumpah. Kzl bgt