[Friting Tips] Menulis Epistolari; Bergelut dengan Detail
Mendengar jenis tulisan epistolari barangkali akan membuat kening beberapa pendengar mengerut. Pertanyaan-pertanyaan yang berawalan “Apa itu?” akan menjadi pertanyaan paling pasaran. Pada dasarnya, epistolari adalah jenis tulisan yang berdasarkan atau disusun dari dokumen atau kumpulan surat, kemudian berkembang menjadi kumpulan entri diari, lalu seiring majunya teknologi, di abad ini aplikasi chat Whatsapp, Facebook Messenger, atau SMS, juga mulai mengisi dunia epistolari.
Jenis tulisan yang satu ini diperlukan keahlian khusus, terutama di bagian detail. Bermain dengan epistolari artinya bermain dengan percakapan, pembentukan karakter melalui percakapan, dan memulai konflik dari percakapan. Untuk kamu yang hendak mencoba membuat tulisan epistolari, ada beberapa hal yang perlu kamu terapkan sebelum memulainya.
1. Periksa Detail
Transkrip sebuah percakapan memiliki detail yang cukup merepotkan. Biasanya dimulai dari jenis aplikasi komunikasi apa yang dipakai, nama pengirim, tanggal, dan jam serta menit. Untuk yang satu ini, kamu perlu berkonsentrasi agar tidak ada tokoh yang tertukar saat berdialog, atau penulisan jam serta tanggal yang berubah secara tiba-tiba.
2. To the Point vs Basa-Basi
Di dunia nyata, percakapan yang natural adalah percakapan yang banyak basa-basi (tergantung karakter masing-masing juga, sih) dan percakapan yang ada di sebuah tulisan, atau yang biasa disebut dengan dialog building, biasanya tidak se-natural seperti dalam sebuah novel. Berbeda dengan dialog building yang akan kamu bangun dalam tulisan epistolari, kamu perlu menakari atau memberi batas porsi antara chat/percakapan yang penuh basa-basi, dengan percakapan yang to the point agar cerita terus maju dan tetap menarik untuk diikuti.
3. Genre yang dipakai
Jenis tulisan epistolari biasanya ditandemkan dengan genre misteri atau thriller. Berlandaskan percakapan-percakapan, formula misteri atau thriller nampaknya memang lebih mudah diracik dan dijadikan sebuah ketegangan yang khas. Namun, tidak menutup kemungkinan kalau dokumen-dokumen percakapan tersebut bisa diimplementasikan dalam genre lain, semisal Romance. Selama genre tersebut diracik dengan pengembangan karakter yang baik lewat percakapan, konflik yang dibuat tanpa terlalu banyak basa-basi, sebagian besar genre yang ada bisa kamu implementasikan dalam tulisan epistolarimu.
4. Mempertahankan Logika
Yang satu ini berkaitan erat dengan detail. Logika cerita dalam jenis tulisan epistolari perlu ketelitian yang tinggi. Dengan segala kewajaran seseorang dalam surat-menyurat atau saling membalas pesan teks, kamu perlu menyesuaikannya dengan fakta yang ada sekarang ini. Misalnya kamu membuat cerita epistolari bersetting tahun 1900an, tidak mungkin, kan, kamu membuat mereka berdialog menggunakan WhatsApp.
Nah, empat poin di atas bisa kamu pelajari lebih lanjut dan renungkan sebelum menulis cerita epistolari. Mau tahu lebih banyak tentang jenis tulisan yang satu ini? Ikuti workshop Kelas Nulis Storial #5 bersama Henny ‘Triskaidekaman’ yang bertajuk ‘Dokumen Bercerita’! Di sini kamu akan diberi materi serta diajak untuk praktik langsung dalam membuat tulisan epistolari!
Info selengkpanya mengenai Kelas Nulis Storial dapat kamu akses di sini.