Inspirasi Selembar Kertas - Tentang "Janji" (on Wattpad) https://my.w.tt/afLXoVT7tT Hanya sekumpulan Puisi dan Prosa dari selembar kertas yang membuat bingung. Dari jutaan memori yang ada, hingga rintihan kerinduan hati yang berontak.
seen from Colombia
seen from United States
seen from Singapore

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Kazakhstan

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Nepal
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
Inspirasi Selembar Kertas - Tentang "Janji" (on Wattpad) https://my.w.tt/afLXoVT7tT Hanya sekumpulan Puisi dan Prosa dari selembar kertas yang membuat bingung. Dari jutaan memori yang ada, hingga rintihan kerinduan hati yang berontak.
Trettioåtta komma någonting
Det började göra ont i ryggen igen igår under dagen och rätt som det var fick jag feber på eftermiddagen. Försökte hålla ut så länge jag kunde men enligt vårdguiden ska man åka in om man har feber.
Väl framme fick jag ge både urinprov och blodprov. Doktorn sa att jag ha hade runt 38 grader feber, vita blodkroppar i urinet samt att min sänka ligger på 39, normalt är 10. Han kände också på min njure och det gjorde inte ett dugg ont så han uteslöt njurbäckeninflammatiom. Han berättade att det bara var en form av UVI och skrev ut ett recept antibiotika.
Så jag ligger hemma nu och har försökt sova i nästan 12h. Halva natten låg jag och svettades och hade riktigt ont i huvudet. Tillslut stod jag inte ut mer och tog en Alvedon och nu ligger jag och fryser så mycket att jag skakar!
"Kelak kau kan menjalani hidupmu sendiri. Melukai kenangan yang telah kita lalui. Kau akan terbang jauh menembus awan. Memulai kisah baru tanpa diriku.
Seandainya kau tahu, ku tak ingin kau pergi. Meninggalkanku di sini bersama bayanganku. Seandainya kau tahu, aku kan selalu cinta. Jangan kau lupakan kenangan kita selama ini."
Tania memejamkan matanya sembari tersenyum tipis saat istirahat di tengah lagu dimulai: berusaha menguatkan hati. Profesinya sebagai penyanyi kafe menuntutnya untuk dapat menyanyikan lagu apapun yang diminta oleh pengunjung. Termasuk lagu ini.
Kau harus tetap tampil professional, Tania.
Ia mengangkat mikrofon di tangan kanannya dan mendekatkannya ke mulut. Ia mulai bernyanyi lagi. Lalu... Oh, tidak. Suaranya kini sedikit bergetar. Hampir semua pengunjung menatapnya dalam sekejap: heran.
Kau harus tegar, Tania.
Kini, hanya lantunan musik yang terdengar. Tanpa vokal.
Satu lirik terakhir saja sudah cukup.
"Jangan kau lupakan kenangan kita selama ini."
Para pengunjung bertepuk tangan seadanya; seperti hari biasanya. Tania mengucapkan kata 'terima kasih' sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Telepon genggammu bergetar." sapa seseorang yang ternyata gitaris grup musik tersebut.
"Oh, terima kasih." ujar Tania seraya mengambil telepon genggam coklatnya.
Ternyata satu pesan baru.
Aku baru saja tiba di Manado. Aku baik-baik saja di sini. Kuharap kau juga begitu. Doakan aku agar aku dapat meraih gelar dokterku dengan segera, ya. Jangan pikirkan aku lagi. You'll find someone better. I'll always love you, Tania. <3
Radith.
Tania membaca pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Jarak dan keyakinan ternyata dapat mengalahkan kasih sayang, sekalipun kasih sayang itu tulus. Kini, ia memang harus mengubur dalam-dalam perasaannya pada lelaki itu. Bagaimanapun juga, ia tak akan pernah dapat memilikinya.
Karena ia tahu, cinta tak harus memiliki itu adalah kebohongan terbesar di dunia.
Dia tersenyum, aku termenung. Dia tertawa, aku menangis. Dia tetap menyeruput susu putih hangatnya, aku tetap menyeruput kopi hitam pahitku.
Kami berbeda.
Tidak. Sebenarnya tidak. Keadaan hati kami yang berbeda. Dia selalu bisa mengondisikan dirinya tanpa aku. Aku yang tidak bisa.
Nyaman? Aku yang dahulu merasa begitu. Dia tidak.
Hangat? Aku yang dahulu merasa begitu. Dia tidak.
Sayang?
...
Bukan. Aku menyayangi orang lain. Bukan dia.
Aku yakin bukan dia.
Lalu, mengapa aku merasa hampa sendiri?