私は彼を愛する

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from India

seen from South Korea

seen from Colombia
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Netherlands
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from India
seen from United States
私は彼を愛する
Some stills for Yuki Furukawa's new photobook "Fruit"
Entry 02.02.03.2021 Hump there's nothing special, i just felt gloomy ,and i watched #erased film i saw him again.#furukawayuki san https://www.instagram.com/p/CK8Yqm_pOZK/?igshid=53oy4hlyrjnd
Inside Out VS Poison Berry In My Brain
Tak ada ekspektasi apa-apa ketika seorang pemuda merekomendasikan tontonan itu padaku. Sebuah film animasi yang dirilis dua tahun lalu. Sepintas aku pernah mendengar judulnya, namun tak menarik minatku sama sekali. Lalu hari itu pun datang, dia menghampiri mejaku lalu (kurang lebih) berkata :
“Sekalian copy aja film ini. Bagus lho.”
“Ada sub nya?”
“Gak ada. Memang sengaja. Sekalian belajar.”
“Oh yaudahlah, sini biar ditransfer.”
Daftar film yang tak kunjung ditonton pun bertambah.
“Sudah diliat? Baguskan?”
“Belum. Belum ada waktu.” Aku berkilah. Alasan sebenarnya adalah aku lagi-lagi belum tertarik untuk menontonnya. Pikirku saat itu, ‘halah paling film animasi ini tak sebagus Zootopia.’ Ya, sejauh ini film animasi paling keren, bagus dan sarat makna itu yah the one and only Judy Hoops dengan slogan terkenalnya “anyone can be anything” plus ost yang gak tanggung-tanggung mengajak Shakira turut terlibat di dalamnya.
Sikap sebelah mataku pada film keluaran Fixar ini ternyata tak valid. Aku terlalu cepat menilai tanpa mencoba mencari bukti (baca : menontonnya).
Minggu malam, beberapa pekan yang lalu, sulit tidur menjadi sebabnya.
Aku membuka folder tempat film itu berada. Lima menit pertama aku sukses dibuat fokus – karena berusaha extra memahami dialog dengan native speaker yang kadang pengucapannya tidak terdengar jelas di telingaku – dan sedikit bingung mengartikan secara cepat apa yang para tokohnya bicarakan. Karena tak ingin berpikir keras, aku pun memilih untuk mengunduh sub indonesianya saja. Sehingga aku dapat leluasa menikmati film tersebut tanpa menduga-duga tentang apa arti sebenarnya dari dialog dalam film itu.
*****
Bercerita tentang apa yang ada di dalam pikiran seorang anak perempuan, Inside Out memulai kisahnya dengan penuturan bahwa setidaknya ada lima pikiran dasar (emosi dasar) pada setiap manusia. Tergambar dalam wujud Riley, yang di dalam otaknya ada emosi kesedihan (Sadness), emosi bahagia (Joy), emosi marah (Anger), emosi jijik (Disgust) serta emosi ketakutan (Fear).
Adalah Riley (11 tahun) anak yang ceria, disayang oleh keluarganya, memiliki teman yang setia serta kota yang menyenangkan untuk bermain. Sebagai anak yang ceria, emosi dalam diri Riley didominasi oleh Joy, yang memegang kendali atas apa-apa yang terjadi dalam otak (pikiran Riley). Joy (bahagia) itu terbentuk dari memori-memori menyenangkan yang dialami Riley sedari dia kecil hingga usianya sekarang. Memori-memori tersebut nantinya yang membentuk kepribadian Riley, yang disebut sebagai Island of Personality – Pulau Kepribadian.
Semua berubah sejak Riley dan keluarga pindah ke San Fransisco, ada saja hal yang dia rasa ‘kurang’, terlebih lagi Riley seakan sulit beradaptasi dengan lingkungan barunya. Riley belum rela meninggalkan kotanya. Semakin bertambah rumit, ketika tanpa sengaja emosi sedih (Sadness) menyentuh core memory (memori inti) yang menyebabkan memori itu berubah dari bahagia menjadi sedih. Tak ingin membuat Riley bersedih, Joy mencoba menyelamatkannya namun tak disangka Joy malah tersedot masuk ke dalam memori jangka panjang Riley bersama emosi sedih (Sadness).
Untuk dapat ‘mengontrol’ pikiran Riley seperti sediakala, Joy maupun Sadness harus kembali ke otak Riley (headquarters) melalui labirin pikiran jangka panjang Riley. Sementara itu, di headquarters hanya tersisa emosi jijik (Disgust), marah (Anger) dan takut (Fear). Perlahan karena hanya mampu merasakan tiga emosi dasar tersebut, pulau kepribadian milik Riley runtuh satu persatu. Melihat kejadian itu, Joy dan Sadness berupaya secepat mungkin untuk dapat kembali ke headquarters.
Akankah mereka tiba tepat pada waktunya? Sebelum semua pulau kepribadian milik Riley hancur? Lalu adakah hambatan yang mereka hadapi selama dalam perjalanan?
*****
Tak butuh waktu lama bagiku untuk lantas menyadari kalau Inside Out memiliki kemiripan ide cerita dengan film Jepang yang dibintangi abang Furukawa Yuki, Poison Berry in My Brain.
Tentang lima emosi dasar manusia.
Tentang seorang perempuan. Gadis kecil dan perempuan dewasa.
Di dalam otak mereka, emosi-emosi dasar tersebut saling berebut ingin mengambil alih tindakan atas apa-apa yang sedang terjadi pada tokoh utamanya. Jika di Inside Out ada Riley, di Poison Berry ada Ichiko. Interaksi antar emosi itulah yang menjadi fokus masing-masing film, yang kemudian melandasi reaksi Riley maupun Ichiko.
Poison Berry In My Brain pun ternyata diadaptasi dari manga terkenal Jepang yang ditulis oleh Setona Mizushiro. Jadi mungkin jika dirunut, manga Jepangnya dulu – Poison Berry lalu Inside Out. Terlepas dari kesamaan ide cerita, Inside Out kurasa lebih menjanjikan untuk dinikmati segala lapisan usia. Dengan animasi yang menarik anak-anak, serta pesan dan pengetahuan yang dapat dipetik untuk remaja dan dewasa.
Lagipula, aku lebih memorable ketika selesai menonton Inside Out ketimbang setelah menonton Poison Berry (padahal ada abang Yuki nya lhoo #eh).
Di Inside Out pula lah aku jadi mengingat-ingat, apakah ketika kecil aku punya teman khayalan (yang bagi beberapa anak, mereka punya) atau tidak.
Merembes mili untuk adegan yang sederhana namun menyentuh dan bikin terharu. Adegan yang melibatkan BingBong dan Joy.
Jika di pikiran anak 11 tahun saja sudah sebegitu rumitnya ‘para emosi’ berinteraksi atas suatu kejadian, bagaimana pula di pikiran perempuan 20something sepertiku yah ? *mikir* lalu kira-kira ‘emosi’ apakah yang memegang kendali atau si pembuat keputusan yah ? *mikir lagi*
Akhir kata, Inside Out layak mendapat nilai sempurna.
Lima tepukan tangan untuk lima emosi dasar manusia.
Bahagia itu sederhana , klo lagi mumet sama skripsih tinggal cari tau apa yang bikin bahagia 🤔, Furukawa Yuki misalnya 😍, atau gak Jihyo lagi nyanyi acoustic misalnya 🎸 , aaaaahh atau gak Nonton Movie comedy romance misalnya 📺 , bisa juga karokean sediri dikamar 🎤, sederhana sekali hahahhaha 😂😂😂 seng penting RAMPUNG 💪 . . . . . . . . . #moodbooster #furukawayuki #twicejihyo #comedyromance #happyissimple
What?
Coffe plis