Cerita ini saya dapat tiga tahun lalu dari sebuah bulletin berjudul Lentera yang dibuat oleh Gamais ITB. Bulletin kecil yang dibagikan seusai Ujian Saringan Masuk hari kedua dengan judul “Selangkah Lagi Menuju ITB”, masih terlipat rapi dan terselip dengan aman dalam catatan kuliah saya.
JIKA TUHAN MENJATUHKAN BATU
Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerja yang ada di bawahnya. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengar karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja. Sehingga usahanya sia-sia saja.
Oleh karena itu untuk menarik perhatian teman yang ada dibawah, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang kedua pun memperoleh hasil yang sama.
Tiba-tiba ia mendpaat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepalanya. Dan karena merasa sakit, ia menengadah ke atas. Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.
Terkadang Tuhan menggunakan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Seringkali Tuhan memberi berkat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Karena itu memang lebih tepat jika Tuhan menjatuhkan “batu” kepada kita.