Pernah suatu ketika, seorang pria membaca qur'an tapi tidak merasakan perubahan apapun.
Sejak kecil, pria itu memang dididik untuk membaca Qur'an, mulai dari pengajian di rumah hingga mengikuti sekolah mengaji.diluar.
Saat kecil hingga remaja, pria tersebut jarang mengkhatamnkan atau menamatkan, selalu berkutat di juz terakhir berulang-ulang.
Pernah di suatu Ramadhan ketika pria tersebut kuliah, ia menargetkan diri untuk khatam. Alhamdulillah, pria itu bisa mengkhatamkannya.
Namun, entah kenapa, setelah khatam membaca semua, pria itu tidak merasa ada perubahan yang signifikan dalam dirinya. Padahal, kata ustadznya, Qur'an itu petunjuk, tapi ia tidak mendapatkan petunjuk apapun. Katanya Qur'an itu penyejuk, tapi dia tidak merasakan kesejukan apapun. Katanya Qur'an itu menenangkan, tapi ia tidak merasakan ketenangan apapun.
Bingung, namun pria itu tidak lantas meninggalkan Qur'an, namun ia bertanya dalam dirinya, “Nampaknya, ada yang salah dengan cara saya membaca Qur'an”.
Akhirnya, selepas ramadhan di tahun 2016, ia mulai mengubah cara mengajinya. Kini ia tak hanya membacanya secara biasa, namun ia juga kini membaca artinya. Selepas shalat, ia membaca beberapa halaman, lalu kembali ke awal untuk membaca artinya saja. Akhirnya, pria ini mulai mengerti, apa arti dari kalimat yang ia baca. Sedikit demi sedikit, isi qur'an mulai ia pahami.
Namun, baca arti saja baginya tidak cukup, kadang ia masih kesulitan untuk memahami Qur'an tersebut. Karena, banyak potongan ayat yang nampak tidak jelas dan tidak berkesinambungan. Ia tahu, masih ada ilmu yang ia pahami.
Lantas, pria ini, secara tidak sengaja membuka sebuah kajian di youtube, kajian tentang sirah nabawiyah atau sejarah nabi yang juga menceritakan bagaimana islam diturunkan oleh Allah kepada seluruh alam melalui Nabi Muhammad SAW.
Pria ini sesungguhnya tidak menyukai pelajaran sejarah, belajar sejarah baginya adalah hal yang membosankan, tak ada beda seperti dongeng-dongen sebelum tidur. Namun, kalimat pembuka sang ustadz di youtube itu sangat menjanjikan. “Jika kita memahami sirah nabawiyah, maka kita akan memahami Qur'an, baik makna serta alasan kenapa sebuah ayat diturunkan.” ya kalimat tersebut cukup menggoda sang pria untuk memelajari Sirah Nabawiyah.
Akhirnya, setelah 80 jam mendengarkan sirah nabawiyah dengan total 40 episode, muncul kecintaannya terhadap Qur'an. ia mulai memahami sedikit demi sedikit, alasan kenapa ayat ini turun, atau ayat ini menjelaskan apa, atau kenapa urutannya berbeda, sedikit demi sedikit ia belajar. Seperti bagaimana ia tercengan dengan kisah al-kafirun, atau kisah turunnya surah an-noor, dan masih banyak hal lainnya. Dan ia tidak pernah menyesal untuk belajar sejarah nabi, karena itu sangat membantu ia memahami Qur'an yang selama ini ia baca namun tak diresapi.
Kini, pria itu sangat senang tatkala membaca Qur'an, karena kini ia mulai memahami apa arti serta makna dari bacaan yang ia baca. Kini ia paham kenapa Qur'an disebut petunjuk, karena di dalamnya memang ada petunjuk bagi mereka yang ingin kehidupan yang bahagia dunia akhirat. Kini ia paham, kenapa Qur'an disebut penyejuk, karena di dalamnya terdapat penenang bagi mereka yang hidupnya gelisah. Kini ia paham kenapa Qur'an disebut obat, karena di dalamnya terdapat penyembuh bagi hatinya yang sakit karena urusan di dunia. Masih banyak hal luar biasa yang ia dapatkan setelah memahami Al-Qur'an.
Ia pun berharap, bahwa rekan-rekannya yang lain pun, bisa mulai mencintai Qur'an sebagaimana ia mulai mencintainya. Dan semenjak ia mencintai Al-Qur'an, ia mulai menerapkan dan mengamalkannya dalam kesehariannya.
Dan akhirnya, sang pria menarik sebuah kesimpulan
—
Al-Qur'an itu, Jika dibaca dengan mata, kita bisa melihatnya. Jika dibaca dengan mulut, kita bisa melafalkannya. Jika dibaca dengan arti, kita bisa memahaminya. Jika dibaca dengan hati, kita bisa memaknai dan mengamalkannya.
Kamu, membaca qur'an, dengan apa?
—
Choqi-isyraqi







