Kisah Maryadi Gepenk (529/SPA/1997) - Karena Dinding Panjat, Kubentangkan Sajadah
Tidak.. tidak.. Aku tidak ingin mati sekarang
Rabb, beri aku kesempatan untuk hidup
Jika Engkau ijinkan...
‘kan kubentangkan sajadah
dan bersimpuh mengharap ampunan-Mu
Siang itu anak-anak Stapala kelihatan girang-gemirang, bukan karena kelas kuliah udah bubaran, itu mah rasanya biasa, tapi ini luar biasa. Siang itu, di pertengahan tahun 1999, kami akan pergi menikmati pengalaman baru, mencoba menaklukkan dinding panjat (dp) punya KMPA Eka Citra (EC) UNJ di kawasan Rawamangun. Ya, sejak dp Stapala runtuh tahun 1998, anak-anak Stapala melanglang buana mengasah kemampuan memanjat di dp-dp kampus tetangga. Mulai dari dp-nya Makopala Universitas Budi Luhur, Stacia UMJ, Arkadia UIN Syarif Hidayatullah, Palatika STMIK Jakarta sampe Mapaptri Akpar Trisakti.
Tentunya banyak manfaat yang didapat dengan kami melanglang buana. Tidak cuma kemampuan kami yang terus meningkat karena menjajal berbagai dp dengan karakter yang berbeda-beda, tetapi di samping itu kami bisa saling mengenal dan akrab dengan sesama sahabat alam. Berbagi cerita, pengalaman, dan ilmu kepencintaalaman. Selain itu, kami bisa melihat aksi gila pemanjat tuan rumah yg membuat kami terkagum-kagum. Misalnya aksi anak Makopala yang suka banget bergelantungan di tempat latihan pull up dengan punggung kakinya (kebayang kan?) atau anak Palatika yang punya bodi gempal tapi kelihatannya enteng banget masang runner sampai top dp. Dan yang paling menarik tentunya cewek-cewek kampus dong. Bener kata pepatah, rumput tetangga lebih hijau daripada rumput di pekarangan rumah sendiri, hehe.
Singkat cerita, kami tiba di posko EC. Ngobrol sebentar dan minta izin memakai dp untuk latihan. Anggota EC sempat wanti-wanti supaya kami berhati-hati mengingat dp yang udah rapuh. Bener juga pas kami berdiri di depan dp EC, hmm. Parah. Beberapa bagian dp ada yang bolong, papan-papannya juga banyak yang rapuh. Terpampang tulisan ‘Hati-hati papan rapuh’. Petunjuknya kan ‘hati-hati’ bukan ‘dilarang manjat’, jadi kami pikir the show must go on dong. Mosok dah jauh-jauh ke Rawamangun, batal manjat. Rugi banget
Personel Stapala waktu itu gue, Indra, Buncit , Hendra , Zakky , Ucup, Pipin, Yoyon (waktu itu belum jadi Kadal alias belum jadi anggota) dan mungkin ada lainnya yang gue lupa. Meskipun kondisi papan yang rapuh, tapi kami tetap manjat dengan teknik lead climbing.
Dengan mengucap bismillah, satu persatu kami bergantian memasang runner. Gue ingat waktu itu gue kebagian dua kali kesempatan memasang runner dan itu yang paling tinggi (maksudnya paling tinggi di antara pemanjat lainnya meskipun belum sampai top, hehe). Yang gue alami, latihan siang itu rasanya beda banget dari biasanya. Gue merasa punya kekuatan super power untuk memasang runner sampai tinggi, rasanya enteng banget ngangkat bodi (sumpah, bukan karena bodi gue yang gepeng). Bahkan waktu itu kami sempat kekurangan runner untuk sampai ke titik yang tinggi, yang terpaksa gue ambil dari runner ke-2 dan ke-3 untuk gue pasang di 6 dan 7. Gue sama sekali gak merasa bahwa kemudahan gue manjat itu adalah sebuah pertanda.
Setelah puas latihan, kami pun memutuskan pulang. Karena gue yang paling tinggi masang runner, maka gue yang bertanggung jawab melepasnya. Hendra-lah yang waktu itu menjadi belayer-nya (tanggung jawab lo Ndra, haha). Satu persatu runner gue lepas, Selepas runner ke-5 gue cabut, tangan gue gemetar megang poin. Gak kuat lagi. Gue pasrah dan teriak ‘Pull! Tarik!!!’. Brakkkk, ughhhh. Gue mencoba membuka mata, tapi yang gue liat cuma gelap, sesaat gak ngerasa sakit. Tapi hati gue merasa panik saat itu, karena gue gak bisa ngeliat apa-apa, gelap semua. Dalam hati berkata:
‘Tidak.. tidak.. aku tidak ingin mati sekarang
Rabb, beri aku kesempatan untuk hidup
Jika Engkau ijinkan...
kan kubentangkan sajadah
dan bersimpuh mengharap ampunan-Mu’.
Dalam kepanikan, muncul sebuah rasa penyesalan. Gue menyesal kenapa masa-masa itu gue jarang banget shalat. Gue tau, shalat wajib sehari 5 kali. Jangankan sunnahnya, wajibnya aja gak pernah lengkap jumlahnya. Kadang shalat zuhur tapi ashar lewat begitu saja. Maghrib mungkin yang paling rutin, tapi isya sama subuh, jangan ditanya. Padahal gue kuliah di kampus yang kata orang isinya orang pinter semua. Tapi kenapa gue gak pernah mikir makna shalat itu apa. Dan gue gak pernah mencari tau ilmunya.
Masih dalam membatin, gue berucap:
‘Rabb, ampuni hamba-Mu ini,
Jika Engkau ijinkan aku hidup
Akan kuperbaiki shalatku.
Ijinkan aku ya Rabbi.’
Alhamdulillah, akhirnya gue bisa ngeliat. Gue baru sadar banget pas udah ada di posko EC meskipun gue sempet ngerasa gue diangkat sama temen-temen. Beberapa anggota EC bantu mengompres punggung dan tulang ekor gue dengan air es. Gak lama gue di bawa ke kostnya Mas Aris. Waktu itu kalo gak salah ada Mas Febra ‘Pakdhe’ atau Mas Israwan. Kata Yoyon, dari tempat Mas Aris, gue dibawa ke tukang urut. Dari jatuh sampe ke tukang urut, gue gak bisa jalan. Punggung sama tulang ekor rasanya sakit banget. Abis diurut, baru gue bisa jalan. Sampe beberapa hari sakitnya masih terasa.
Alhamdulillah, ternyata Allah masih memberi gue kesempatan untuk memperbaiki hidup. Sejak kejadian itu, gak pernah lagi gue tinggalin shalat.
(Buat Yoyon ‘Kadal’ (591/SPA/1999) thanks, yang udah bantu merangkai kembali serpihan kisah ini.)




















