Kita Mau Gini-Gini Aja Apa?
Bagian 1 (Mengejar)
Lelaki itu menangis dalam diam serta isak yang menyelimuti nadi-nadinya. Ketika yang dia dengar hanyalah kalimat yang membuatnya menususuk hingga lesu.
Keangkuhan yang menjadinya sebagai pencundang murahan, serta wanita yang memandangnya sebagai musuh abadinya, diam. Lalu mereka menjadikan perannya masing-masing sebagai senjata untuk hasil yang membanggakan untuk mereka. Perjuang yang dulu tak pernah dia lakukan sebelumnya kini menjadi bumerang bagi dirinya atas tindakan pengucilan pada setiap orang yang dulu ia pandang biasa saja.
"Kita mau gini-gini aja?"
"Maksudnya?"
"Dengan akunya yang di depan, dan seolah kau mengejarku seperti candu."
"Lalu? Kita harus apa?"
"Kau adalah manusia, sama seperti makhluk di Bumi."
"Aku tidak mengerti maksudmu."
"Aku bukan Tuhan yang harus kau kejar, aku memilih pada pilihan sulit kala itu, dan kau seenaknya meninggalkan dengan egomu seolah kau yang berkuasa."
"Eh.."
"Dan lagi, kita hanyalah dua orang dengan yang bertolak belakang, dengan aku yang dianggap antagonis dalam drama-mu, dan kau hanyalah peran utama yang orang lain melihat dari sudut pandangmu yang harus dikasihani."
"Maaf, aku salah."
"Salah hanya pelajaran, hasil berasal dari pilihan, aku ingin seperti selayaknya orang yang mempunyai pilihannya sendiri karena di jalan Tuhan."
"Lalu, apa kau tidak menghargai diriku?"
"Aku menghargai setiap keputusan yang kau buat, ketika kau memilih mengakhiri, sepertinya itu pilihan yang bagus hehe."
"Aku terbawa emosi."
"Emosi kau salahkan, yang harusnya kau salahkan hanyalah aku, karena kini ku berlari, kini ku singgah pada zona nyaman-ku sendiri, pada posisi yang kau sendiri lihat, tanpa memikirkan soal asmara yang akan aku bawa kemana amarah ini, aku tenang."
"Jadi, mau kamu apa? Kita mau gini-gini aja apa? Aku yang mengejar tanpa kau yang menoleh rindu sedikit pun."
"Aku tidak ingin menjadi seperti ini terus, aku harus pergi, oh iya.. Aku punya nasihat untukmu, berlarilah mengejarku, tak apa.. Sampai kau lelah, dan berhenti pada persimpanganmu yang baru."
Berdua, lelaki itu pada dalam masa-masa sulitnya, pada kelam yang ia buat sendiri. Dan ego yang dia salahkan pada saat itu, dia merasa dikucilkan oleh perasaannya sendiri. Aku memandangnya membisu dalam kopi yang dibuatnya pada hujan Desember.
Memberi masukan yang berarti dihidupnya adalah salah satu tugas seorang sahabat. Aku menyertainya dialog itu dengan canda yang melepas keheningan hujan pada malam hari. Aku senang melihatnya tertawa lagi.
Dengan kesimpulan "kita mau gini-gini aja apa?" kebuah kalimat tentang zona seseorang pada pilihannya yang sulit, dan terlebih lagi "sampai kapankah kita bersandiwara?" tunggu bagian 2 nya.
(Bogor, 20 Desember 2017)










