Kopi keempat untuk si pria puitis nan bijaksana.. Aku menyukai pria ini, maksudku menyukai akan hal di dalam otaknya itu, dia duduk pas di depanku dan menatap tajam disetiap pria yang berbicara, hanya tersenyum, beda dengan sebelumnya si pemalu yang hanya diam seperti patung dan menunduk. Si romantis, begitu sebutannya. Hanya wanita beruntung yang bisa mengenal lebih jauh orang ini, si bijaksana yang selalu menuliskan sebuah puisi untuk wanitanya, yang paling dewasa diantara kita, mungkin saja kedewasaan berbeda-beda dan aku tidak ingin menjadi sotau yang menentukan apa mauku, ini hanya sebuah pandangan diriku saja, mungkin kau punya pandangan lain tentang kedewasaan seseorang, silahkan saja selagi masih ditetapkannya "freedom of speech". Dia pria yang mampu mengambil jalan permasalah yang sedang dihadapi dengan kepala dingin, sebuah kesetiaan melekat erat pada pria ini, dan wanitanya hanya tersenyum lalu memeluknya. Wanita itu sedang memeluk si pria hangat ini yang mampu memberi kasih sayang tulus yang sangat dibutuhkan si wanita. "Ini apa?" tanya si wanita. "Kertas." "Untuk?" tanya si wanita. "Baca aja." Hanya sebuah puisi, tanpa permata, barang mewah di dalamnya, hanya kesederhanaan cinta yang ada di pria tersebut. Pria bijaksana yang pernah disakiti, selalu bersabar dan berintropeksi diri dalam lamunan di kamar yang gelap dengan lagu instrumentnya. "Kenapa gitu gak melawan?" tanya seorang pria yang pernah mendengarnya bercerita pada saat si puitis disakiti. "Kenapa harus melawan? Apakah dendam akan menyelesaikan? Kalo aku bales, dia bales, terus aku bales lagi, dia bales lagi, apa bedanya dengan SMS-an yang saling membalas tanpa akhir? Dan hanya gengsi disertai egonya masing-masing untuk saling menantang untuk menang?" Yang aku tahu memang puisinya pernah membuat wanita yang dicintainya menangis, bahagia, tertawa. Aku ingin belajar dengan dirimu, menjadi seseorang yang mampu membahagiakan wanitanya dengan hal sederhana lewat tulisan, lisan, dan sentuhan. Yang aku kurang suka dari pria ini yaitu kamu terlalu lembut dalam menyayangi seorang wanita, kenapa tidak tegas dikit, atau galak sedikit, ucapku. "Aku menganggap wanita yang aku sayang sama halnya aku menyayangi ibuku, kenapa? Karena mereka berdua adalah tempat dimana aku diberikan kenyamanan, kasih sayang yang tulus, walaupun ibu yang selalu aku utamakan, mungkin kau juga begitu?" jawabnya. Aku iri denganmu wahai sang penyair yang bijaksana, walaupun aku memilih menjadi diriku apa adanya. Kopi yang kelima untuk pria apatis.. Kamu tahu apa yang lebih misterius dibandingkan siapa pemenang kasus politik yang saling beradu antara pro dan kontra? Yap kau benar, pria ini aku sebut si apatis atau bisa dibilang cuek, masa bodoan, tak perduli, sangat membosankan. Saat kita berbincang, dia hanya melihat jalan yang tergenang oleh derasnya hujan, tak menghiraukan pembicaraan kita, sangat tidak perduli. "Kamu punya seorang wanita yang kamu cinta?" "Ada kok, namanya ibu, dia cantik, suka bikinin aku nasi goreng tiap pagi, pakai teh manis anget juga, padahal aku gak minta." jawabnya, dan semua tertawa. "Maksudku selain ibumu atau anggota keluargamu, seperti menjalin hubungan asmara antara cewek dan cowok." "Ada kok, dia lagi sibuk, biarin aja aku tak suka mengekang, asal dia sudah jadi milikku dan aku tak perlu khawatir karena aku memberikannya kepercayaan penuh, memberikannya janji kesetiaan, sebaliknya aku pun begitu, aku tidak suka akan perselingkuhan, karena aku sudah punya pacar ngapain cari lagi? Kalau putus ya itu memang resiko dalam pacaran, kenapa harus takut?" jawabnya. Dia memang seseorang yang bodo amatan soal asmara, yang di otaknya hanya bagaimana caranya hidup tenang bahagia tanpa gangguan dari pihak luar (orang lain), dia selalu melakukan aktivitas sendiri, menyelesaikan sendiri, memang dia misterius, kami pun tak pernah tau kalo dia punya masalah, mau soal keluarga, wanita, maupun pribadi. Tapi dia sangat setia kawan, karena kami sudah dianggapnya sebagai penenang pada saat dia mempunya masalah, dasar menyebalkan hahaha. Aku tak bisa menceritakan wanita si pria cuek ini, karena dia tak suka mengumbar apapun tentang asmaranya, tertutup dan sangat misterius, yang aku tahu dia seseorang yang setia, "kalo udah punya pacar, yaudah gak usah cari lagi." ucapnya. Kopi keenam untuk pria yang kurang aku suka, yang duduk disampingku, aku sebut si pria pamer.. Memang dia adalah pria yang bisa dibilang mapan, bisa dibilang sangat mewah kehidupannya, tapi kami sangat senang mempunyai teman sepertinya, dia sama serunya seperti yang lain, tapi tulisannya ini hanya membicarakan wanitanya saja, bukan pertemanan kami. Wanitanya adalah wanita yang cantik, aku senang temanku memiliki wanita yang cantik. Wanitanya adalah wanita yang modis, aku senang temanku memiliki wanita yang sangat mengerti akan pakaian. Yang aku tidak suka hanya satu, yaitu "pamer" maafkan aku telah membicarakanmu, mungkin semua manusia memang memiliki rejekinya masing-masing, tapi disini aku tak suka gaya bicaranya yang selalu tinggi. "Aku kemarin habis jalan sama cewek, ya dianya banyak jajan sih, tapi gapapa cuma sekitar 200 ribu kok galebih hahaha." "Dari pada buat bayarin cewek, mending buat beliin kita makan, ya gak? Hahaha." "Tenang, aku sudah siapkan onta bakar untuk kalian semua." Kami senang walaupun dia pamer, tapi dia selalu setia, memang sih terlalu royalitas, sehingga kami pernah mempunyai pemikiran untuk memanfaatkannya, tapi apa? Tali persahabatan kami terlalu haram untuk melakukan hal itu. Wanitanya memang tak asik bila sedang bersama kita, terlalu mewah untuk dibicarakan, mungkin kita semua harus berpergian ke restoran mewah atau nongkrong di coffeeshop atau cafe yang menyajikan segelas kopi hitam dengan harga 50 ribu segelas. Wanitanya yang selalu meminta apa saja dari perhiasan, barang mewah, sampai jalan-jalan, mungkin memang si pria ini tak ada masalah keuangan karena memang nyatanya dia mapan. Aku tak ingin menambah beban dosa dalam membicarakan pembicaraan ini, sehingga secara tak langsung aku menjelekan nama baik temanku ini, sebenernya dia baik banget, dan pria yang baik untuk wanitanya. Bersambung..