Social project ke Lombok sambil jalan-jalan dengan budget seadanya, bisa?
Seberapa pantaskah kau untuk kutunggu? Cukup indahkah dirimu untuk slalu kunantikan? Mampukah kau hadir dalam setiap mimpi burukku. Mampukah kita bertahan disaat kita jauh. Pasti bacanya sambil nanyi kan, lol. Sebegitu terkenalnya lagu Sheila on 7 sampe-sampe cuma baca liriknya doang malah kita sambil nyanyi. Sebegitu terkenalnya juga Lombok yang katanya nyaris ga kalah saing sama Bali sebagai destinasi turis lokal dan mancanegara. Lombok selalu dikaitkan sama pantai. Gue udah sering banget merayu diri gue untuk mulai menulis tentang Social Project yang gue ikutin dari Februari 2017 ini dan kayanya baru sekarang deh niatan ini berlangsung. That means setahun! Begitu susahnya untuk mulai aktif menulis lagi. Terkadang kita seringkali mendahulukan hal yang (mungkin saja) tidak perlu.
Oiya, sebelumnya gue cerita dulu kali ya kenapa bisa sampe kesini. Gue menghabiskan waktu kuliah gue sambi organisasi, padahal sesungguhnya gue pengen banget kemana-mana mengeluarkan sisi wanderlust di dalam diri ini sambil ber-sosial dengan alam. Akhirnya setelah gue sidang akhir di tanggal 17 Februari 2017 (dua hari sebelum tanggal ultah gue) haha, Tuhan mengabulkan permintaan gue untuk bisa jalan. Ini program dari Youcan Indonesia (coba cek https://youcan.or.id) namanya Youcan Empower. Youcan ini adalah NGO yang berbasis di Indonesia dan concern terhadap pemberdayaan anak muda yang bertujuan meningkatkan awareness dan kepedulian anak muda sendiri terhadap isu pendidikan, lingkungan, sosial, atau perekonomian bangsa. Nah kebetulan Youcan ini sedari dulunya selalu mengadakan bentuk program youth exchange, baru dicobalah di tahun lalu untuk social project ke pelosok Indonesia. Maka lahirlah gue dan kawan-kawan sebagai Batch 1.
Nah sebenernya gue pengen juga cerita tentang social project gue ini dari awalnya ngapain dan hasilnya apa. Tapi nanti aja deh ya di part terpisah haha. Ini khusus bagian halan-halan aja.
Ke Lombok tapi low budget tuh bisa gak sih? Bisa banget. Gue sebelumnya sudah tiba di Lombok dari tanggal 23-27 Februari, setelah itu gue lanjut backpacker-an selama 3 hari bareng dua temen gue Ryan dan Reyhan yang baru gue kenal pas ikut social project ini. Tenang aja, dua orang ini baik kok makanya berani-berani aja jadiin teman jalan. Selepas acara bersedih-sedihan abis perpisahan sama adik-adik di Dusun Mendure, kita menuju rumahnya Mas Irwan di Lombok Barat. Kenal dengan Mas Irwan dari Coachsurfing, ini adalah platform jaringan internasional yang berfokus pada hospitality exchange yang menghubungkan wisatawan dengan penduduk lokal. Download deh aplikasinya di app store atau play store karena bakal memudahkan kamu untuk menyambangi tempat baru ketemu guide sekaligus keluarga baru.
1. Pantai Pink
Pemandangan pertama adalah hamparan pasir luas berwarna soft-pink bercampur dengan air biru laut. Jika dilihat dari atas atau dari jauh, maka hamparan pasir ini akan terlihat jelas berwarna pink terlebih jika terkena terik matahari langsung.
Tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk melihat Pantai Pink ini dan kita hanya perlu memarkirkan motor tepat di depan pantai. Ketika kami datang terdapat beberapa nelayan sedang menjala ikan. Namun sayangnya akses jalan yang harus dilalui untuk mencapai tempat ini cukup buruk dan berlubang.
2. Tanjung Ringgit
Ini spot paling favorit yang gue suka dari Lombok, air laut yang dark-torquise ini sukses bikin gue jatuh hati dan belum bisa pindah. Warna air nya bikin kami pengen banget nyebur tapi cukup berbahaya kalau dilakukan dari atas dan tidak ada jalan ke bawah. Tanjung ringgit ini berada cukup dekat dari Pantai Pink hanya saja jalan yang harus dilalui juga cukup terjal dan berbatu. Kamu harus memastikan kalau kamu tidak takut ketinggian ya. Be careful!
3. Bukit Merese
Karena namanya bukit jadi diperlukan sedikit effort untuk mendaki ke atas. Kami perlu berjalan dan mendaki sekitar 300 meter untuk menuju puncak yang agak jauh. Dari atas kita bisa memandangi Tanjung Aan. Hal yang paling gue rindukan adalah tiduran diatas rumput sambil menunggu sunset tiba.
Disini banyak penggembala kerbau dan sapi yang membuat rumputnya selalu subur berkat kotoran hewan setiap harinya. Menjelang maghrib terdapat sekumpulan bule-bule yang menikmati sunset sambil bernyanyi dan berjoget, bahkan mereka membawa speaker sendiri. How a bless we can enjoy the sunset!
4. Pantai Mawun dan Pantai Mawi
Sesungguhnya jejeran pantai di Lombok banyak sekali, namun kami cukup selektif memilih tempat wisata dikarenakan waktu yang sangat singkat. Salah satu pantai yang menjadi pusat perhatian di Lombok adalah Pantai Mawun. Pantai ini sangat bersih dan tidak terlalu ramai sehingga masih menyenangkan untuk dikunjungi dengan tujuan refresh pikiran.
5. Gili Air
Ada 3 pulau pilihan yang bisa dikunjungi dari pusat kota Lombok. Saat itu karena gue dan Rey menghabiskan waktu di Desa Sasak Sade dulu sampai siang jadi hanya sempat menyambangi satu Gili aja dan kami memilih Gili Air. Selain itu ada Gili Meno dan Gili Trawangan. Gili Air adalah Gili yang paling dekat dengan Lombok, paling kecil, dan paling sepi sehingga nyaman buat menenangkan diri, biasanya Gili Air ini banyak dikunjungi oleh turis yang sedang honeymoon. Sedangkan Gili Meno dan Gili Trawangan cukup ramai dikunjungi. Para turis mancanegara cukup banyak yang menyewa speed boat untuk dapat langsung mengelilingi tiga Gili ini. Namun sayangnya pas gue kesana sedang ada perbaikan pada batas pantai di belakang cafe-cafe di Gili Trawangan sehingga sedang dibongkar dan tidak terlalu bagus untuk dikunjungi. Untuk mencapai Gili Air, sebelumnya gue dan Rey memarkirkan motor dulu di pelabuhan dan naik speed boat sekitar 20-30 menit dengan membayar Rp45ribu saja. Make sure you come at mid day to get the best light. Prepare your stamina as you will trekking on the heat.
6. Air Terjun Benang Kelambu
Spot air terjun ini cukup jauh memasuki perkampungan warga namun ketika tiba di kaki air terjun maka udara sejuk akan langsung terasa (udah kaya iklan adem sari). Untuk masuk ke dalam cukup membayar parkir Rp10ribu saja dengan mengaku sebagai warga lokal Lombok (saran Mas Irwan haha). Untuk mencapai air terjun maka kami harus masuk dengan berjalan menyusuri anak tangga sekitar kurang lebih 200 meter.
7. Desa Sasak Sade
Tempat ini adalah salah satu bentuk Desa Adat di Lombok yang masih mempertahankan keaslian suku Sasak Lombok dan kini dilestarikan sebagai lingkungan komersil oleh Pemerintah Lombok. Desa Sade telah ada sejak sekitar 600 tahun lalu dan diresmikan sebagai desa wisata pada tahun 1989. Desa ini dihuni oleh sekitar 150 kepala keluarga dengan bangunan rumah tradisional beratapkan ijuk, tembok dari anyaman bambu, dan beralaskan tanah. Ketika memasuki kawasan ini akan disuguhkan dengan lagu khas suku Sasak. Rumah-rumah adat disini juga masih ditempati oleh warga lokal asli yang sambil berjualan kain tenun, gelang, makanan, songket, dan lainnya yang dibuat sendiri oleh ibu-ibu dan remaja perempuan. Di pintu keluar ada kotak yang sebaiknya kita isi sebagai sumbangan seikhlasnya untuk pembangunan dan perawatan Desa Sade.
Tips And Trick
Siapkan Google Maps! Jarang ada sign yang mengarah pada destinasi wisata dan jangan malu buat tanya sama warga lokal.
Internet connection di daerah perkotaan masih oke buat browsing.
Jangan lupa pakai sunblock. Karena panas menyengatnya lumayan bikin sakit.
Kalau cuma berdua mending sewa motor aja biar lebih menyelami rasa jalannya yaitu sekitar Rp50ribu.
Harga makanan di Lombok standar Jawa kalau menurut gue masih tergolong murah. Oiya jangan lupa juga mencicipi Sate Rembiga, Sate Bulayak, Ayam Taliwang, dan Plecing Kangkung khas Lombok.
Kalau mau visit tempat-tempat yang gue sebutin di atas kamu cukup butuh 3 hari 2 malam.
Di luar tiket pesawat Jakarta-Lombok gue menghabiskan budget ga sampai Rp500ribu.
Baterai hp dan kamera harus oke, banyak banget yang bisa kamu abadikan!
Jangan lupa powerbank.
cheers,
glenyszlimbong










