Saya dibesarkan bukan hanya dari keluarga kristen, ketika saya SD di Jakarta saya bersekolah yang mayoritas muridnya agama muslim, saat belajar agama saya harus menyesuaikan dengan teman-teman yang beragama muslim, menulis tulisan arab dan belajar membaca al-quran, ketika Ibu saya bekerja saya sering dititip dengan keluarga non-kristen dari keluarga yang beragama muslim dan katolik, mereka menjaga, merawat dan memberi makan layaknya orang tua yang sayang kepada ananknya, dan ketika saya bertumbuh hingga bekerja, sahabat, teman-teman saya dan kehidupan saya tak lepas dari saudara/i yang berbeda agama.
Dan ketika hari ini tiba, dalam benak saya masih ingatkah kita arti dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika, arti bendera merah putih, dan arti dari pancasila. Apalah arti dari pendidikan pacasila dan kata-kata cinta tanah air, kalau hanya sekedar tulisan dan lisan tanpa praktek.
Damailah negeriku... ingatlah para orang tua kita dulu pernah berjuang bersama, ingatlah kita lahir dan bertumbuh dari satu rumah yang harmonis yang cinta damai. Bukan Indonesia namanya, kalau tak satu dengan segala jenis keanekaragaman dari sabang sampai marauke, dari miangas sampai pulau rote dengan segala jenis kekayaan sumber daya alam, suku, ras dan agama Indonesia adalah tanah air kita. Mari kita bijak mempertimbangkan suatu perkara, berpikir kritis dan menjadi bangsa yang bermoral.
Harapan saya, semoga para pendemo pulang dengan selamat tanpa ada hal-hal yang merugikan, dan kepada Pak Ahok pemerintah adalah wakil Allah, biarlah Allah yang akan menghakimi dengan adil, Mazmur 91:7 Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu.
Salam Damai, Timika 04 Nov 16