Cinta era ini seringkali menjadi topik yang menggelikan. Seakan muak karena saking banyaknya sumbatan cerita cinta di telinga mereka. Meludah demi romantisasi, reaksi nyinyir akan kata-kata gombal yang lama lama di-isasi-kan juga.
Tapi ada yang diam-diam menulis tentang cinta dipelukan angin sore, disaksikan senja yang bergegas menjemput malam. Sembari menyaksikan kilas wajah sosok yang didamba diujung ingatan. Menuangkannya dalam setiap bait yang dia tulis. Mendekap erar-erat kenangan yang membuat mulutnya kelu saat pertama berjumpa
"Duhai kamu, yang dikirim Tuhan ke hati ku siang dan malam, yang raga dan hatinya masih berupa angan.
Aku tak peduli jika kau jauh. Karena sejauh apapun engkau, tak masalah jika sekarang Dia dekat
Setidaknya doaku akan sampai tepat waktu, sekalipun harus menempuh jarak yg tak bisa kujangkau"
"Biar, biarlah usaha dan takdirku bertemu tanpa dipaksa. Kuarahkan dengan doa dan ketulusan sudah barang tentu akan jauh lebih baik. Ketimbang harus tergesa-gesa memikatmu dengan cara yang membuat muak."
Hati nya menggebu, bibirnya tersungging, matanya berbinar penuh harap. Urusan ini memang kadang jauh lebih menantang ketimbang menaklukan tebing tinggi
Tidak ada pijakan, tidak ada tim, tidak ada asuransi keselamatan. Yang ada hanyalah puncak yang entah medannya seperti apa
"Kamu, seseorang yang ketika menyebut namanya saja sudah membuat hati ku bergetar, meski tidak berada di medan yang sama denganku, aku harap kita sedang menggapai puncak yang sama. Percayalah, jika Tuhan merestui, alam pun akan sepakat melindungi mu dari segala arah."
Aku SECRET ADMIRER-nya gowithepict
Sumedang, 23 Mei 2015 11:35







