#fiesta de #tricomas de una #grandfhater vista en el microscopio #macro (en Bilbao Seeds) https://www.instagram.com/p/B_BKNnmpboT/?igshid=fby3hqcijs1e
seen from China

seen from United States

seen from Spain
seen from China

seen from Malaysia
seen from Russia

seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Malaysia

seen from Australia
seen from Taiwan
seen from China

seen from United Kingdom
seen from China
seen from China
seen from Russia
seen from United States

seen from China

seen from United States
#fiesta de #tricomas de una #grandfhater vista en el microscopio #macro (en Bilbao Seeds) https://www.instagram.com/p/B_BKNnmpboT/?igshid=fby3hqcijs1e
#grandfhater dándolo todo en 60x60 con 150w de les cob... uno se jodio al empezar la flora... x 3 euros arreglado, me encanta esta variedad por qué cuando está viva la planta a partir del mes de floración da un olor frutal con toques tirando al olor del melocoton. eso sí fumando esta variedad muy recreativa. https://www.instagram.com/p/B-jYfraBKSv/?igshid=w3fss9skrd3m
variedad #grandfhater y un poco de música para pasar el mega arresto domiciliario https://www.instagram.com/p/B-hDzfGBvGh/?igshid=1us9qqubc0j89
Andamos preparando semillas de #streetsomango y #grandfhater mucho trabajo, salud y buenos humos! https://www.instagram.com/p/B-J8YRsh1xw/?igshid=1ga9pjwr1h0u3
#grandfhater https://www.instagram.com/p/B-BfqXohIg1/?igshid=p3z09w117ycy
#grandfhater https://www.instagram.com/p/B6PWG5NCkfj/?igshid=1tl49lzr2cn70
Feliz Día A Doc Mas Groso! #chacho #chachistrekus #abuelo #grandfhater https://www.instagram.com/p/Bq7ljKHHWFe/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1on6sr2bocd2c
Hutan Tropis Ingatan
Sementara aku duduk disini angin berhembus pelan. mencoba berfikir kebelakang apa yang sudah aku dapat, apa yang luput dari rasa syukur, apa yang belum aku dapat, apa yang belum aku syukuri. Di depan kamar, rumah 2 lantai yang sudah aku tempati sejak aku berumur 13 tahun. Di dalam senja dengan keterbatasan ruang antar kota aku masih duduk di sini. Di ambang pintu depan balkon kamar.
Ada begitu banyak kata-kata dan kalimat yang tadinya ingin aku tulis, tentang keterbatasan, tentang wujud ketiadaan, tentang ambisi antar mahluk, tentang cakrawala Ibu kota, tentang cinta, tentang kucing tua dan anaknya, tentang Ibu yang entahlah, tentang apapun.
Menjadi dewasa dan mencoba menjadi dewasa, dua hal yang berbeda. Sangat sulit mencoba menjadi dewasa, menempatkan kenaifan di dasar otak dan di palung hati, mendewakan basa-basi, menjunjung tinggi bermuka dua. Bermanis-manis di depan. Hah! Semua itu sangat amat sulit, rasanya ingin aku muntahkan semuanya, didepan muka mereka semua.
Langkah demi langkah tentang pengenalan rasa sakit, rasa yang sebenarnya masih aku percayai sebagai sebuah proses pendewasaan, tanpa berfikir itu sebagai karma dan menghakimi diri sendiri. Rasa yang seharusnya aku jalani dengan rasa ikhlas dan sabar. Rasa yang seharusnya dijalani orang-orang kuat. Bukan yang ketika mendapatkan malah ingin meninju apapun.
Sementara aku masih duduk di sini. Berfikir ke beberapa hari kebelakang tentang rasa rindu terhadap sosok itu. Lelaki tua yang kerap disebut kakek, namun aku lebih memilih memanggil embah. Rindu yang hanya bisa ditembus oleh panjatan doa. Melangitkan setiap ayat-ayat suci, mengirimkan beberapa harapan, agar dapat bertemu untuk sekedar aku bermanja-manja minta dibuatkan susu coklat hangat. Lalu beliau duduk disamping ku, mengelus pipi atau rambut dengan penuh kasih. Dan terkadang membelikan aku ice cream atau tekwan dengan mengendarai sepeda antiknya yang sudah di modifikasi agar aku tidak duduk kesakitan di jok belakang, pergi ke pasar atau mini market. Atau berjalan kaki sampai depan gang dan naik angkot. Agar kami bisa berlama lama menghabiskan waktu. Sementara aku sibuk berbicara kata-kata yang aku temukan di jalan. Lantas bertanya kepada beliau sekiranya kata tersebut tidak aku mengerti. Dan beliau dengan sabar menjelaskan, walau aku masih bertanya-tanya lagi, setelah kesekian kalinya embah menjelaskan maksudnya. Terkadang juga beliau memberikan jawaban singkat atas pertanyaanku. Aku tahu beliau bukan nya malas menjawab. Hanya sedang lelah. Lelah sebab pergi seharian dengan cucu nya yang tidak berhenti mengoceh sepanjang perjalanan.
Lantas memori di otak memaksaku kembali ke palung ingatan. Dimana beliau mengenakan baju putih dan sarung kesayanganya berada di dapur mengaduk susu putih dengan arah huruf W, sementara aku masih terkantuk duduk di sampingnya aku lihat jam di atas meja makan, jam 7 pagi.
Aku merindukan beliau, dengan apa yang sudah aku dapat dan seingatku sudah sempat aku syukuri. Aku masih merasa kurang dan kurang karena beliau tidak di sini. Bersamaku duduk di depan kamar, lantai 2 Rindu kulit yang sudah mulai keriput itu, rindu tatapan matanya yang tiba-tiba galak ketika aku melakukan kesalahan dan malas untuk sholat. Rindu didalam bus antar kota lampung, dengan aku sibuk bertanya semua yang tidak aku ketahui.
Sekarang pertanyaan-pertanyaan itu aku dapat jawabannya dengan caraku sendiri, entah sudah berapa orang mengejek-ku dengan tatapan menyebalkannya. Tatapan mengolok.
Aku merindukan beliau, Aku merindukan embah, Laki-laki tua yang cintanya tidak akan pernah habis aku makan setiap hari. Aku merindukan susu coklat itu. Susu coklat yang kurang manis, karena kurang di aduk. :(
Hah.. Allah lebih sayang sama embah.