KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) adalah salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar Al-Qur'an. Di Dewan Tafsir Nasional, Gus Baha sebagai mufassir duduk bersama para profesor, doktor, dan ahli-ahli Al-Qur'an dari seluruh Indonesia di antaranya Prof. Dr. Quraisy Shihab. Guru beliau adalah ayahnya sendiri yaitu KH. Nursalim al-Hafidz dan KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen).
Masya Allah, bersyukur banget pernah ketemu langsung dengan beliau dan nderek ngaji bareng. Setelah beberapa kali dengerin ceramah beliau, memang dari cara penyampaiannya selalu menyenangkan. Selalu ada guyon dan ringan meskipun membahas makna ayat-ayat Al-Qur'an atau Hadits. Tapi juga serius wkwk, ciri khas beliau adalah, "ini serius, ini penting saya utarakan".
Di antara ceramahnya beliau, aku belajar,
Bahwa rahmat-Nya Allah itu sangatlah luas. Kalo kita mikir amal kita gak akan cukup untuk membuat kita masuk surga, ya memang gak akan cukup, yang akan membuat kita masuk surga itu rahmat-Nya Allah swt. Begitu kata Gus Baha. Aku jadi inget, pernah keliru, misal saat aku bersedekah trus besoknya dikasih rejeki lebih dari yang aku beri, kadang aku ngerasa itu adalah balasan dari kebaikanku—halah ternyata aku kepedean wkwk itu ya jelas karena rahmat-Nya Allah, kamu sedekah atau enggak itu kamu tetep dikasih nikmat fik! Makanya, belajarlah berniat yang benar; melakukan suatu kebaikan karena Allah semata~
Tentang tahapan atau proses dalam memperbaiki diri, Gus Baha seringkali menceritakan tentang sikap Nabi yang santai terhadap orang yang dalam hatinya ingin berbuat baik atau telah melakukan hal-hal baik walaupun merasa dirinya masih suka melakukan maksiat atau kebiasaan buruk. Itu proses. Perbuatan baik yang dilakukan orang itu gak bisa disalahkan di saat orang itu melakukan keburukan/kesalahan. Misal, ada orang ikut pengajian tapi dia gak ikhlas, mikirnya jangan "mending jangan ngaji sekalian". 'Gak ikhlas'nya yang salah tapi 'ikut pengajian' itu bener, itu hal yang baik.
Tentang bagaimana menyikapi perilaku orang lain, terlebih perbuatan buruk orang lain. Gus Baha selalu mengajarkan untuk berprasangka baik terhadap orang lain. Selalu punya alasan yang baik terhadap kesalahan atau keburukan orang lain. Bukan membenarkan kesalahan atau keburukannya tapi berpikir bahwa orang itu juga melakukan kebaikan yang lain yang mungkin kita gak tahu.
Hidup itu harus selalu seneng, karena kita udah dikasih nikmat yang besar berupa Nabi Muhammad saw. Saat kita beribadah atau melakukan kebaikan apapun usahakan dalam kondisi yang senang, ojo kakehan mrengut. Kalo mrengut terus itu kesannya kayak gak ridho dengan takdir Allah. Menyikapi suatu perkara itu jangan dibikin repot sendiri.